Bab Seratus Enam Puluh: Tiba di Desa Salju
Guo Xiaoyu sama sekali tidak tahu bahwa dirinya nyaris kembali terseret masalah tanpa alasan. Ia bahkan lebih tidak tahu lagi bahwa kakek yang selalu dirasanya agak aneh itu tiba-tiba bertindak begitu beringas! Saat ini, Guo Xiaoyu sedang disiksa habis-habisan oleh G.E.M. Teman-teman sekalian, jangan berpikir yang bukan-bukan ya. Semalam mereka berdua tidur di kamar terpisah, hanya saja pagi-pagi sekali Guo Xiaoyu kembali malas-malasan bangun, dan G.E.M. sedang berusaha membangunkannya.
Setelah berisik sekian lama, saat mereka masih ribut, suara ketukan pintu terdengar, disusul oleh suara Ayah Guo dari luar, "Xiaoyu, kita harus berangkat. Sudah bangun belum?"
Pada saat bersamaan, suara manis Guo Xiaoyi juga terdengar, "Kakak, cepat bangun! Di luar turun salju lebat sekali! Ayo kita perang bola salju..."
"Perang bola salju lagi, kemarin aku sudah puas bermain." Guo Xiaoyu semakin malas bangun begitu mendengar kalimat itu. Rasanya sensasi dingin salju yang menyusup ke dalam kerah bajunya kemarin masih terasa dingin sampai sekarang.
Melihat Guo Xiaoyu bergeming, G.E.M. terpaksa pergi membukakan pintu terlebih dahulu.
Ayah Guo sedang mengetuk pintu ketika tiba-tiba pintu terbuka dan wajah bulat mungil G.E.M. muncul. Ayah Guo menatapnya dengan penuh keheranan dan berkata, "Nona... Kalian..."
"Tidak, tidak." G.E.M. buru-buru menjelaskan, "Semalam aku tidur di kamar sebelah, hari ini datang untuk membangunkannya."
Ayah Guo berkata penuh makna, "Sebenarnya, anak muda kan... aku mengerti, mengerti."
"Apa yang Anda mengerti!" G.E.M. dibuat sangat salah tingkah oleh Ayah Guo. Pada saat itu, Guo Xiaoyi tiba-tiba memeluk paha G.E.M. seolah menemukan benua baru dan berseru, "Wah, Kak G.E.M. datang! Kemarin apakah Kakak tidur bersama kakakku? Apakah Kakak adalah istri kakakku? Mama bilang anak laki-laki dan perempuan yang tidur bersama adalah suami istri!"
G.E.M. terpaku, benar-benar kebingungan.
Untungnya, Guo Xiaoyi selalu bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Begitu melihat G.E.M. tidak menjawab, ia kembali bergumam sendiri, "Tapi, kata Cindy, yang memiliki bayi kecil barulah suami istri. Kakak dan Kak G.E.M. tidak punya bayi kecil, sepertinya kalian bukan suami istri."
"..." Kali ini Ayah Guo pun dibuat tak berkutik oleh gadis kecil itu, dan hanya bisa tersenyum canggung kepada G.E.M.
Saat ini, Guo Xiaoyi langsung menarik tangan G.E.M. dan berlari ke luar sambil berkata, "Ayah, aku mau mengajak Kak G.E.M. pergi berkenalan dengan Cindy dan yang lainnya. Cepat bangunkan Kakak." Ia pun menarik G.E.M. dan berlari pergi.
Ayah Guo membangunkan Guo Xiaoyu sama sekali tidak selembut G.E.M. Ia langsung menarik selimutnya, lalu melemparkan baju dan celana ke arah kepala putranya, bahkan sepasang sepatu bau pun ikut melayang. Sederhana dan kasar, tetapi untuk menghadapi orang seperti Guo Xiaoyu yang bangga tidak punya urat malu, memang harus dengan cara seperti ini!
......
Pukul lima pagi, akhirnya semua orang sudah bangun. Dengan mengenakan perlengkapan yang rapi, mereka keluar dari gerbang hotel. Selama perjalanan, keenam anak menggemaskan itu dikerumuni dengan antusias oleh warga setempat. Melihat popularitas ini, sungguh tidak kalah dari bintang papan atas negeri!
Dibandingkan dengan para ayah dan anak yang keluar dari pintu depan demi kebutuhan syuting acara, Guo Xiaoyu dan G.E.M. yang keluar dari pintu belakang tidak memiliki banyak kerumitan seperti itu. Namun, saat ini Guo Xiaoyu merasa sangat terganggu dengan orang di sampingnya ini. Sedikit pun tidak bisa membaca situasi—tidak lihatkah dia bahwa kami sepasang kekasih sedang bersama? Masih saja memotret, memotret apa sih!
"Qin Feng, singkirkan kamera burukmu itu! Belum pernah lihat pria tampan ya? Apa yang dipotret!" Guo Xiaoyu melambaikan tangannya dengan tidak sabar.
"Singkirkan tanganmu." Qin Feng berpindah posisi dan terus memotret sambil berkata, "Aku tidak memotretmu, aku sedang memotret Kak G.E.M."
"Memangnya pantas memanggilnya Kak G.E.M.? Pergilah ke tempat yang sejuk."
Qin Feng sama sekali tidak memedulikannya dan justru membalas, "Katakan padaku, bagaimana wanita secantik Kak G.E.M. bisa menyukaimu? Lihat tampangmu yang menyebalkan itu, sama sekali tidak layak berdampingan dengan Kak G.E.M.!"
"Ada apa dengan tampangku?" Guo Xiaoyu merangkul G.E.M. dan berkata, "Bisa mendapatkan pria sesempurna aku adalah sebuah keberuntungan besar bagi G.E.M." Di permukaan Guo Xiaoyu tampak santai, tetapi tangan G.E.M. yang mencubit pinggangnya sama sekali tidak main-main. Untung saja ia mengenakan pakaian tebal saat ini, kalau tidak, Guo Xiaoyu pasti akan kembali meringis kesakitan!
Tentu saja, hal-hal setelahnya membuat Guo Xiaoyu semakin "menikmati" semuanya! Sikapnya yang sedikit tengil itu kemudian disunting oleh Qin Feng dan kawan-kawan ke dalam program Ayah, Kemana Kita?, dan gadis bernama Li Qian itu sekali lagi membuktikan imajinasinya yang luar biasa dewa. Saat Guo Xiaoyu merangkul G.E.M., ia menyisipkan sebuah takarir bertuliskan: "Aku memang tampan dengan cara yang tidak mencolok", yang seketika membuat Guo Xiaoyu kembali menjadi sensasi internet di berbagai platform utama. Bahkan ada tak terhitung banyaknya master sunting foto yang mengerjai gambar Guo Xiaoyu tersebut, membuat namanya menggema di seluruh dunia maya. Belakangan, ada sebagian orang yang tidak mengenal lagu-lagu Guo Xiaoyu tetapi justru mengenal foto-foto parodinya ini. Begitulah cara Guo Xiaoyu menjadi terkenal secara tidak sengaja. Ketika Guo Xiaoyu mengetahui semua ini, ia mengacungkan jari tengah kepada Qin Feng dan berkata, "Kamu kejam!" Lalu... tidak ada kelanjutan lagi.
Duduk di dalam mobil yang menuju ke Desa Salju Meilin, Guo Xiaoyu akhirnya tahu apa arti dari "es membeku ribuan mil, salju melayang selaksa li; gunung menari bagai ular perak, dataran berlari bagai gajah putih". Yang tertangkap oleh pandangan matanya hanyalah hamparan putih bersih. Puncak-puncak gunung yang berlapis di kedua sisi jalan tampak menyatu dalam warna yang sama, putih berkilau sejauh mata memandang tanpa ujung.
"Xiaoyu, lihat, pemandangan saljunya benar-benar sangat indah!"
"Betul!" Ini adalah pertama kalinya Guo Xiaoyu merasakan pemandangan di mana dunia ini hanya dipenuhi oleh salju. Pemandangan yang monoton dan sederhana ini membuat hati Guo Xiaoyu seketika menjadi tenang, sekujur tubuhnya terasa seolah-olah baru saja meminum semangkuk sup kahyangan, menyegarkan hingga ke tulang!
Pada saat ini, G.E.M. menghembuskan napas ke kaca jendela, lalu menggambar seekor kelinci kecil di atas embun beku tersebut. Ia menatap Guo Xiaoyu dengan ekspresi seperti mempersembahkan harta karun dan bertanya, "Bagaimana, bagus kan?"
"Hm, bagus." Gambar hewan kecil dalam sekali gores seperti ini sering dimainkan oleh Guo Xiaoyu saat kecil, tetapi gambar buatan G.E.M. ini memang tergolong bagus.
Saat itu, seolah teringat akan sesuatu, G.E.M. menunduk dan berkata, "Waktu kecil, setiap musim dingin nenek selalu menemaniku bermain seperti ini, sayangnya sekarang beliau sudah tiada." Nenek G.E.M. adalah sebuah luka abadi di hatinya. Semasa kecil, ayahnya selalu sibuk, sementara ibunya hanya tahu cara mendesaknya belajar. Hanya neneknya yang sering menemaninya bermain, sehingga perasaannya terhadap sang nenek bisa dikatakan yang paling mendalam! Sayangnya, ketika ia telah dewasa dan bisa berbakti kepada neneknya, sang nenek justru meninggalkan dunia ini secara tiba-tiba. Yang paling membuatnya sedih adalah, sebelum sang nenek menghembuskan napas terakhirnya, G.E.M. bahkan sempat tidak menengoknya walau sekilas. Ia selalu menyesali hal tersebut secara mendalam.
Melihat ekspresinya, Guo Xiaoyu bangkit dan menggambar sebuah bentuk hati di kaca, lalu bertanya kepada G.E.M., "Bagaimana, bagus kan?"
"Bagus apa, gambarmu ini sederhana sekali."
"Mana yang sederhana? Baiklah, ini jauh lebih hebat daripada kelincimu!"
"Jelas-jelas kelinciku yang lebih hebat!"
Di bawah canda tawa dan lemparan gurauan Guo Xiaoyu, G.E.M. akhirnya untuk sementara melupakan neneknya, dan senyum ceria kembali menghiasi wajahnya yang bersemu merah.
Keduanya saling melempar gombalan mesra tanpa memedulikan orang lain, hingga tanpa terasa mereka telah tiba di tempat tujuan.