Bab Tujuh Puluh Empat: Panggil Aku Dewa Tidur
"Yuni, cepat ke sini, acara akan segera dimulai."
"Apa sih, teriak-teriak saja, aku masih pakai baju nih."
"Ayo cepat, sebentar lagi mulai."
"Ini kan sudah mau, belum mulai juga." Yuni mengenakan sandal rumah, berjalan ke ruang tamu dengan mata masih mengantuk. Melihat Wulan yang sedang berbaring di sofa rumahnya, Yuni bertanya, "Bukankah hari ini Sabtu? Kalian biasanya rekaman acara malam, kenapa kamu tidak di sana?"
"Tidak, hari ini ada rapat dari atasan, Bu Guru dipanggil ke sana, jadi rekaman acara dipindahkan ke besok siang." Wulan berbaring lurus di sofa, Yuni melihatnya dari atas, ehm... agak...
"Bangun sedikit." Yuni menarik kaki Wulan dan berkata, "Kenapa kamu malah ke rumahku?"
Setelah membiarkan Yuni duduk, Wulan meletakkan kakinya di pangkuan Yuni dan berkata, "Rumahku dipinjam temanku buat pesta, aku nggak punya tempat, jadi aku ke sini."
Yuni hanya bisa pasrah, "Kalau kamu datang, aku nggak bakal bisa tidur lagi."
"Kenapa kamu tidur terus?"
"Kamu kira aku seperti nona kaya? Kemarin aku sibuk seharian, baru sempat tidur, malah dibangunin sama kamu."
"Sibuk seharian apanya? Sibuk tidur..." Wulan tertawa tanpa memedulikan penampilan.
"Dasar kamu..." Yuni melempar bantal ke wajah Wulan, "Kemarin aku seharian ikut kelas, malamnya tes mikrofon, capek banget!" Bernyanyi tanpa mikrofon dan dengan mikrofon itu beda banget. Banyak orang yang suaranya bagus saat bernyanyi biasa, tapi suara berubah saat pakai mikrofon, karena mereka belum bisa menggunakannya. Yuni kemarin