Bab 38: Menara Bangau Kuning! Rencana Sedang Berjalan
Menatap semangkuk arak merah menyala di depannya, Xiao Wuyi menahan gejolak di dalam hatinya dan mengangkat mangkuk itu dengan tangan yang stabil. Ia ingin melihat sejauh mana rencana pencarian uang yang digadang-gadangkan oleh Ye Qiu.
Ia menyesap sedikit arak itu, tidak langsung meminumnya hingga tandas. Sebab, ini bukanlah ajang adu minum, melainkan sebuah pengalaman yang harus dinikmati perlahan untuk merasakan esensinya.
Begitu seteguk arak masuk ke dalam perut, dalam sekejap, gelombang kekuatan yang dahsyat menyerbu ke dalam hati dan langsung menghantam ubun-ubunnya. Pada saat itu, Xiao Wuyi merasa seolah sedang melangkah ke negeri para dewa. Seribu kata tertahan di tenggorokan, dan satu-satunya ungkapan yang keluar dari mulutnya adalah:
"Sialan!"
"Rasa ini, sensasi yang meledak-ledak ini, perasaan darah yang mendidih ini... luar biasa!"
Maafkan dia karena saat ini tidak bisa menemukan kata-kata yang lebih indah atau puitis untuk menggambarkannya. Sesaat setelah energi itu merasuk, kekuatan yang luar biasa mengalir ke dalam tubuhnya, dan secara ajaib, tingkat kultivasinya menembus batas.
Xiao Wuyi berdiri dengan sentakan, lalu berseru dengan kaget, "Ini bukan sekadar arak, menyebutnya sebagai obat mujarab pun tidak berlebihan!"
Kultivasinya yang selama ini tertahan di Tingkat Tiga Peringkat Sembilan, tak disangka hanya dengan secawan arak dari Ye Qiu, langsung mencapai kesempurnaan, hanya selangkah lagi menuju Tingkat Empat.
Saat ini, Xiao Wuyi tidak bisa lagi bersikap tenang. Ia yang tadinya mengira rencana Ye Qiu hanyalah candaan, kini menyadari bahwa ia telah salah besar. Ini bukan sekadar mencari uang, melainkan cara untuk mengeruk kekayaan dengan karung. Ia berani bertaruh, begitu arak ini dijual, kedai mereka akan disesaki oleh pembeli. Tidak ada sedikit pun bualan dalam perkiraannya.
Dunia ini tidak pernah kekurangan pencinta arak, apalagi cendekiawan dan orang-orang terpandang. Yang terpenting, arak ini bukan hanya memiliki rasa yang tiada banding, tetapi kekuatan yang terkandung di dalamnya juga merupakan obat luar biasa untuk berkultivasi. Efeknya puluhan kali lipat lebih kuat daripada arak abadi mana pun yang ada di pasar.
Xiao Wuyi tertegun dan bertanya dengan suara bergetar, "Saudara Ye, apakah kau yakin arak ini bisa dijual?"
Ia tidak meragukan kepopuleran arak ini, namun ia khawatir akan masalah yang akan muncul begitu barang ini dilepas ke pasar. Kekhawatiran itu tentu dipahami oleh Ye Qiu, karena ia sudah memikirkannya sejak awal. Untuk memurnikan Panji Kaisar Manusia, ia membutuhkan batu roh dalam jumlah besar, dan cara tercepat saat ini adalah menjual arak.
Mengenai masalah yang mungkin timbul, Ye Qiu tersenyum percaya diri. "Kau tidak perlu khawatir! Aku bisa sedikit melemahkan kekuatan di dalam arak ini, cukup dengan tetap mempertahankan kadar alkohol, cita rasa, dan beberapa efek khususnya saja."
Itulah keputusan matang yang diambil Ye Qiu. Jika ia menjual arak yang dimurnikan dengan darah Zhang Siyuan, efeknya akan terlalu meledak-ledak dan sulit dikendalikan. Oleh karena itu, untuk konsumsi publik, kekuatan obat yang terlalu kuat tidak diperlukan. Cukup mempertahankan rasa, kadar alkohol, dan efek stimulasinya agar tidak memicu kewaspadaan dari keluarga-keluarga besar.
Selain itu, Ye Qiu berniat menciptakan sensasi dengan nama "Mabuk Dewa Langit" untuk menarik perhatian para cendekiawan di seluruh negeri dan membangun citra yang elegan. Puisi "Mengundang Arak" yang ditulisnya bukanlah tanpa tujuan; Ye Qiu menginginkan nama besar. Ia akan menunggu hingga puisi itu tersebar ke seluruh wilayah Kekaisaran, lalu ia akan memajang papan puisi di kedai agar para cendekiawan bisa datang dan menulis karya mereka. Jika ada yang diakui oleh publik, tulisan tersebut akan dipajang di kedai untuk dinikmati semua orang.
Jika rencana ini dijalankan, para cendekiawan itu pasti akan tergila-gila. Siapa yang berani mengacau di tempat yang telah dibangun Ye Qiu sebagai tempat suci bagi para sastrawan? Bahkan tanpa Ye Qiu turun tangan, para cendekiawan itu sendiri yang akan menghajar siapa pun yang berani membuat keributan di tempat mereka.
Setelah mendengar seluruh rencana Ye Qiu, Xiao Wuyi benar-benar tercengang. "Ya Tuhan, aku pikir aku sudah tak terkalahkan dalam berbisnis, ternyata kau jauh lebih kejam dariku. Ide seperti ini saja bisa terpikirkan olehmu."
Saat ini, di mata Xiao Wuyi hanya ada kekaguman yang mendalam. Semangat juangnya pun bangkit. "Baiklah, mari kita lakukan!"
Hidup seratus tahun hanyalah sekejap mata. Ia sudah cukup menelan penghinaan seumur hidupnya. Jika ia bisa hidup dengan tegak dan bermartabat, meski di depan ada jurang maut, ia tetap akan melakukannya. Ia tidak ingin membuktikan betapa hebat dirinya, ia hanya ingin memberi tahu keluarga Xiao bahwa harga diri yang hilang akan ia rebut kembali dengan tangannya sendiri.
"Lalu, apakah kau sudah memikirkan nama untuk kedai ini?" setelah tenang, Xiao Wuyi mulai bertanya tentang detail lainnya.
Ye Qiu terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat. "Di Kota Sungai Dingin, sudah ada Kedai Menatap Bulan, Kedai Mimpi Mabuk, Paviliun Keharuman Surgawi, dan banyak kedai ternama lainnya. Kedai kita, namai saja... Menara Bangau Kuning."
"Menara Bangau Kuning?" Xiao Wuyi bergumam, lalu berkata, "Terdengar cukup bagus. Baiklah, Menara Bangau Kuning."
"Namun, puisi seperti apa yang akan kau tulis untuk kedai itu?" Xiao Wuyi merasa penasaran dan sedikit menanti. Ia tahu Ye Qiu sangat berbakat, namun ia takut jika puisi itu ditulis secara paksa, hasilnya tidak akan sehebat puisi yang lahir dari inspirasi spontan.
Melihat kekhawatiran Xiao Wuyi, Ye Qiu tersenyum tipis. "Kau tidak perlu khawatir soal itu, nanti kau akan tahu sendiri."
Ye Qiu sengaja memilih nama Menara Bangau Kuning; tentu saja ia sudah tahu puisi apa yang harus ditulis. Lagipula, ada begitu banyak puisi terkenal tentang Menara Bangau Kuning, bahkan yang paling legendaris pun pasti diketahui banyak orang.
Melihat sikap misterius Ye Qiu, Xiao Wuyi tidak melanjutkan topik tersebut dan mulai membagi tugas. Ye Qiu berkata, "Identitasku cukup istimewa dan mungkin akan menjadi sorotan di masa depan. Oleh karena itu, demi keamanan kedai, biarkan namamu yang tercatat sebagai pemiliknya. Kau yang menangani segala urusan di depan layar, sementara aku akan bergerak di balik layar untuk memurnikan arak."
Xiao Wuyi mengangguk. Meski ia tidak tahu mengapa Ye Qiu merasa identitasnya akan menjadi sensitif, itu tidak penting. Yang terpenting, ia akan mewujudkan ambisi hidupnya di bidang yang paling ia kuasai.
"Baik! Aku akan mengurus pemilihan lokasi kedai. Selama ini aku sudah mengumpulkan cukup banyak uang, meski tidak seberapa, itu sudah cukup untuk modal awal. Aku pertaruhkan segalanya bersamamu. Sialan, aku nekat! Sekalipun harus rugi total, aku tidak peduli."