Bab 1
Halaman (1/3)
《Melanggar Batas di Musim Semi》
Karya: Mula
Pertama kali dipublikasikan di Kota Sastra Jinjiang
01
Hujan badai.
Sangat sulit untuk melangkah.
Butiran hujan yang besar menghantam permukaan payung Sang Zhi yang reyot dengan suara berisik, membuat kerangka payung yang rapuh itu tampak seolah-olah bisa patah kapan saja.
Musim dingin yang menggigit belum sepenuhnya berlalu, namun musim semi yang dingin dan berangin sudah mulai menunjukkan dirinya lebih awal.
Hujan musim semi ini terlalu deras. Di area kampus yang sunyi senyap, hanya terdengar suara gemerisik hujan yang tiada henti. Payung kecil di tangan Sang Zhi hampir tidak mampu menghalau air hujan yang terbawa angin kencang.
Ketika dia akhirnya berhasil mencapai tujuannya dengan susah payah, dia menunduk dan menyadari bahwa dirinya sudah basah kuyup dan tampak sangat berantakan.
Permukaan kulit domba dari sepatu bot tinggi bertalinya telah terendam genangan air di jalan, kehilangan tekstur aslinya. Ujung rok lipitnya basah kuyup oleh hujan, meninggalkan bekas noda air, dan jaket bulu angsa yang dikenakannya juga mulai terasa dingin karena rembesan air hujan.
Belum lagi kotak kue yang dibawanya sepanjang jalan, yang kini terus-menerus meneteskan air.
Sangat menyebalkan.
Dia telah mempersiapkan banyak hal untuk menemui pacarnya kali ini, tetapi sialnya dia malah mendapati hari hujan yang begitu buruk.
Sang Zhi melipat payungnya di atas anak tangga. Setelah memastikan bahwa dia tidak salah masuk gedung asrama, dia berjalan masuk sambil membawa payung dan kotak kue yang basah.
Karena semester baru belum resmi dimulai, gedung asrama terasa sangat sunyi, dan ibu penjaga asrama pun tidak terlihat di tempatnya.
Sang Zhi awalnya ingin menyapa ibu penjaga asrama, tetapi karena tidak melihat siapa pun, dia hanya mendapati selembar pengumuman mati listrik yang ditempel di jendela kaca kantor penjaga.
Dia melirik tanggalnya; itu adalah hari ini.
Karena cuaca badai, terjadi masalah pada jaringan listrik dan saat ini sedang dalam perbaikan darurat.
Sang Zhi tidak terlalu memikirkannya. Karena penjaga asrama tidak ada, dia langsung berjalan masuk, menaiki tangga hingga mencapai lantai lima.
Tiba di depan pintu kamar asrama 504, Sang Zhi membuka ponselnya, mencari kata sandi yang sebelumnya dia tanyakan kepada Liang Chen, lalu menekan tombolnya. Setelah beberapa bunyi bip, kunci pintu pun terbuka.
Sebagai salah satu universitas terkemuka di dalam negeri, fasilitas asrama di Universitas Jiangbei sangat bagus. Kamar tipe apartemen untuk dua orang, lengkap dengan kunci sandi, serta tempat tidur, meja belajar, dan lemari yang tertata rapi untuk masing-masing penghuni.
Ini adalah pertama kalinya Sang Zhi mengunjungi kamar asrama Liang Chen. Sebenarnya, ini juga pertama kalinya dia mendatangi universitas tempat Liang Chen kuliah.
Dia sudah tidak bertemu dengan pacarnya selama lebih dari setengah tahun. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada puncak musim panas yang terik.
Dia mengira mereka bisa bertemu saat liburan tiba, tetapi tidak disangka liburan mereka justru saling bertabrakan jadwalnya.
Saat Liang Chen menikmati liburan musim dinginnya, Sang Zhi masih berada di luar negeri. Ketika Sang Zhi akhirnya libur dan kembali ke tanah air, Liang Chen justru sudah kembali lebih awal ke kampus, katanya untuk berpartisipasi dalam proyek praktik dari profesornya.
Begitulah takdir mempermainkan mereka, membuat mereka terus-menerus melewatkan satu sama lain.
Namun itu bukan masalah besar. Sekarang Sang Zhi sudah libur, jadi dia bisa datang kapan saja.
Seperti hari ini, dia menaiki penerbangan dini hari dari Haicheng untuk merayakan ulang tahun Liang Chen.
Sang Zhi meletakkan payungnya di dekat pintu, lalu menutup pintu dan berjalan masuk. Dengan memanfaatkan sisa-sisa cahaya yang mulai meredup dari luar jendela, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan menyimplukan bahwa Liang Chen saat ini tinggal sendirian.
Hanya ada tanda-tanda kehidupan dari satu orang di kamar asrama tersebut. Salah satu tempat tidur dan meja belajar tampak kosong tak berpenghuni.
Liang Chen pernah berkata bahwa karena semester baru belum dimulai, tidak banyak mahasiswa di kampus, kecuali mereka yang memiliki proyek penelitian yang harus diselesaikan lebih awal.
Selagi masih ada sedikit cahaya, Sang Zhi meletakkan kue di atas meja belajar yang sering digunakan, lalu membuka kotak kemasan plastik transparan yang terkena tetesan air hujan, dan mengeluarkan kuenya dengan sangat hati-hati.
Untunglah, kuenya tidak rusak.
Sang Zhi mengembuskan napas lega. Dia menggunakan cermin di kamar mandi asrama untuk merapikan pakaian, riasan, dan rambutnya, lalu kembali ke meja belajar. Dia menarik kursi, duduk dengan santai bersandar pada sandaran kursi, dan membuka ponselnya.
Dia melirik waktu yang tertera di bagian atas layar ponselnya: jam lima sore.
Sudah jam lima, Liang Chen seharusnya akan segera kembali, bukan?
Kilatan petir menyambar di langit, dan air hujan menghantam jendela yang tertutup rapat dengan keras. Suara hujan menjadi semakin bising, sementara ruangan persegi tanpa sumber cahaya itu perlahan-lahan mulai tenggelam dalam kegelapan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Sang Zhi takut gelap. Rasa dingin yang timbul dari pakaiannya yang basah oleh air hujan membuat kegelapan yang menyelimuti sekelilingnya terasa semakin mencekam dan menakutkan.
Kesunyian dan kesepian mengepungnya, menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia merasa agak kedinginan. Dia membungkus dirinya erat-erat dengan jaket bulu angsanya yang tipis, namun tidak ada banyak kehangatan yang terasa.
Kegelapan membuat setiap detik terasa begitu menyiksa. Sang Zhi menunggu beberapa saat, lalu mengambil ponselnya untuk memeriksa waktu; ternyata baru sepuluh menit yang berlalu.
Dia sempat ragu-ragu karena awalnya ingin memberikan kejutan pada Liang Chen. Namun, karena tidak tahan lagi dengan kegelapan, dia akhirnya menyerah dan menelepon Liang Chen.
Liang Chen tidak menjawab.
Dia mencoba menelepon untuk kedua kalinya, tetapi tetap tidak dijawab.
Sang Zhi mengerucutkan bibirnya, berpikir bahwa Liang Chen mungkin sedang sibuk.
Dia memang selalu sesibuk itu.
Sang Zhi meletakkan ponselnya, lalu menyandarkan kepalanya ke samping di atas meja belajar. Matanya menatap kosong ke arah kue yang telah dia pilih dengan susah payah.
Waktu berlalu menit demi menit.
Suara hujan badai sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, terus bergemuruh memekakkan telinga.
Rasa lelah akibat penerbangan panjang yang dia lalui sebelumnya mulai menyerang dengan hebat, membuat Sang Zhi merasa mengantuk.
Dengan lemas, dia melirik ponselnya sekali lagi: jam lima lewat empat puluh sembilan menit.
Hampir jam enam.
Menunggu memang selalu terasa lama. Pada akhirnya, Sang Zhi kalah oleh rasa kantuk yang mendera, lalu merebahkan kepalanya di atas meja belajar dan perlahan memejamkan mata.
Hujan itu turun untuk waktu yang sangat lama.
Kegelapan pun berlangsung sangat lama.
Sang Zhi bahkan tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur.
Di tengah suara bising hujan yang tidak pernah berhenti di telinganya, sepertinya ada suara lain yang terdengar.
Sang Zhi terbangun oleh suara itu. Dia membuka matanya dengan linglung. Di depannya masih gelap gulita, tetapi indra pendengarannya menjadi lebih tajam dalam kegelapan. Dia bisa mendengar dengan jelas seseorang sedang memasukkan kata sandi, lalu membuka pintu dan masuk.
Setelah itu, terdengar suara pintu ditutup kembali.
Itu pasti Liang Chen yang sudah pulang.
Secara tidak sadar Sang Zhi berpikir demikian.
Saat ini dia belum sepenuhnya terbangun. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan dia tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Suara langkah kaki semakin mendekat.
Di dalam kegelapan yang pekat, Sang Zhi melihat bayangan seseorang yang samar-samar. Sosok itu tinggi dan ramping, tidak berbeda jauh dengan Liang Chen dalam ingatannya.
Listrik padam dan tidak ada cahaya lampu. Orang itu juga tidak menggunakan ponselnya sebagai alat penerang, melainkan berjalan lurus menuju ke arah meja belajar dengan mengandalkan ingatan dan kebiasaannya.
Ketika langkah kaki yang tenang itu hampir melewatinya, barulah Sang Zhi tersadar sepenuhnya. Dia menegakkan tubuhnya, duduk di kursi, dan bersuara dengan nada malas yang terdengar agak manja dan sedih.
"Liang Chen, kenapa kamu baru pulang sekarang?"
Sosok yang diselimuti kegelapan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu mendengar suara tersebut.
Hanya ada sedikit cahaya samar yang masuk dari luar jendela, cukup untuk membedakan dua siluet manusia, tetapi tidak mampu memperjelas wajah satu sama lain.
Hujan badai yang dahsyat seolah menjadi suara latar yang samar. Udara di dalam ruangan yang hanya dihuni oleh mereka berdua tiba-tiba terasa membeku, tanpa ada suara sedikit pun.
Karena tidak mendengar jawaban dari orang di sampingnya, Sang Zhi merasa agak kesal, tetapi dia lebih banyak merajuk.
"Kamu tahu tidak seberapa lama aku menunggumu? Di sini sangat gelap dan dingin."
Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan. Di bawah cahaya yang temaram, dia meraih tangan sosok hitam yang tergantung di kedua sisi tubuhnya. Jari-jarinya yang panjang dan ramping tiba-tiba saja digenggam erat oleh telapak tangan Sang Zhi yang lembut tanpa diduga.
Pria itu berdiri menyamping menghadap Sang Zhi. Reaksi yang diberikannya adalah keheningan selama beberapa detik, sebelum kemudian dia mencoba menarik kembali tangannya.
Merasakan penolakannya, rasa sedih langsung membuncah di hati Sang Zhi. Dia pun mencengkeram tangan pria itu lebih erat dan tidak membiarkannya pergi.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Yang satu mencoba melepaskan diri sementara yang lain terus menahan. Akibat saling tarik-menarik, Sang Zhi terjatuh dari kursi, dan pria itu pun ikut kehilangan keseimbangan lalu jatuh menimpanya.
Lutut Sang Zhi membentur lantai. Rasa sakit yang tiba-tiba membuat keningnya berkerut secara refleks. Dia sedikit mendongak dan menyadari bahwa dia kini sedang menindih tubuh pria tersebut.
Seketika itu juga, dia bisa merasakan kerasnya tulang dan tegangnya otot pemuda di bawahnya. Pada saat yang sama, dia juga menyadari penolakannya ketika telapak tangan pria itu mencengkeram kedua bahunya, tampak ingin mendorongnya menjauh.
Sang Zhi merasa agak kesal, jadi dia langsung membuka kedua kakinya dan duduk di atas pangkuan pria itu.
"Jangan menghindariku."
Sebuah ancaman yang diucapkan dengan nada manja dan lembut.
"Kalau kamu menghindariku lagi, aku akan benar-benar marah."
Pria itu tampak terdiam sejenak.
Sang Zhi memanfaatkan kesempatan itu untuk membungkuk. Giginya menyentuh kulit leher pria itu, lalu dia menggigit jakunnya yang tajam dan menonjol sebagai bentuk hukuman.
Dia bersikap manja sekaligus keras kepala, dan baru mau melepaskan gigitannya setelah mendengar erangan tertahan yang sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Detik berikutnya, pergelangan tangannya dicengkeram dengan kuat.
Telapak tangannya yang agak dingin seolah masih membawa hawa dingin dari air hujan musim semi, meresap ke dalam kulitnya dan merambat perlahan mengikuti aliran darahnya.
Suara hujan di dalam ruangan yang tertutup itu bagaikan jaring raksasa yang tidak bisa dihindari. Tubuh mereka saling menempel erat, dan untuk sesaat, keduanya tidak ada yang bersuara.
Napas mereka terdengar berat, dengan embusan napas yang saling berdekatan.
Bulu mata Sang Zhi bergetar. Dia hampir tidak bisa melihat orang di depannya, hanya bisa merasakan aroma segar nan asing namun harum di ujung hidungnya.
Pada saat itulah Sang Zhi baru menyadari bahwa karena dia dan Liang Chen sudah berpisah begitu lama, dia tidak lagi akrab dengan aroma tubuh pacarnya.
Mungkin karena kekosongan selama setengah tahun telah membuat kerinduannya semakin memuncak, memberikan kesempatan bagi keinginannya untuk terwujud, Sang Zhi pun mulai berniat jahat.
Dia dengan sengaja membenamkan ujung hidungnya di ceruk leher pria itu, menggeseknya dengan lembut, lalu bibirnya yang hangat menyentuh jakun yang baru saja digigitnya. Setelah itu, ujung hidungnya bergerak ke atas, menyentuh hidung pria itu. Tepat ketika pria itu tersadar dan melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangannya untuk menghindar, ujung jari Sang Zhi menyentuh tali serut celana olahraga di pinggang pria itu.
Namun, begitu jari-jari Sang Zhi menyentuh kain celana itu, pergelangan tangannya kembali dicengkeram dengan kuat.
Sang Zhi yang gerakannya terhenti merasa sedikit tidak rela. Dia mencoba menarik pergelangan tangannya, tetapi pria itu malah menahannya dengan lebih kuat.
Semakin dia meronta, semakin pria itu menahannya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah atau melonggarkan cengkeramannya.
Ujung hidung mereka saling bersentuhan, membuat keduanya terhenti secara bersamaan.
Napas mereka tiba-tiba menyatu, dan bibir mereka saling mendekat, hampir bersentuhan namun tidak sepenuhnya.
Sang Zhi tertegun sejenak. Dia akhirnya bisa membedakan aroma asing milik orang lain di ujung hidungnya, dan merasakan setiap jengkal tubuh pria itu yang sangat berbeda dari Liang Chen.
Kekuatan dari tulang jemari pria itu, meski jelas-jelas berniat untuk menghentikan tindakannya yang hampir melampaui batas, justru secara tidak sengaja membuatnya melanggar garis batas tersebut.
Pergelangan tangan yang dicengkeram terasa sangat sakit, seolah-olah bisa patah jika tidak hati-hati.
Telapak tangan dan ujung jarinya juga terasa panas membara, hampir seperti terbakar.
Pada saat yang sama, ponsel di atas meja tiba-tiba berdering keras.
Suara yang tiba-tiba itu seolah menyibak tirai kegelapan. Cahaya dari layar ponsel memproyeksikan sinarnya ke langit-langit, menerangi salah satu sudut ruangan.
Nada dering khusus milik Liang Chen perlahan-lahan mengembalikan kesadaran Sang Zhi. Semakin pikirannya menjadi jernih, napasnya pun terasa semakin tercekat.
Wajah di hadapannya yang berada dalam kegelapan dan sangat dekat ini, pada detik itu, diterangi oleh cahaya dari layar ponsel.
Cahaya dan bayangan saling bersilangan. Cahaya bernada dingin itu menyinari sisi wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan batang hidung yang tinggi.
Matanya tampak agak dingin, dengan lipatan kelopak mata ganda yang cukup dalam. Sepasang manik mata yang gelap gulita itu setengah terpejam, tidak menyiratkan emosi apa pun.
Dia mencengkeram tangan Sang Zhi yang sedang berbuat nekat. Cengkeramannya sunyi namun penuh kekuatan. Pria itu tidak bersuara, apalagi melakukan tindakan lebih lanjut, tetapi hal itu justru membuat Sang Zhi terjebak dalam pusaran ketegangan yang mendalam.
Sang Zhi akhirnya bisa melihat dengan jelas. Pria itu bukan Liang Chen.
Dia bukan pacarnya, melainkan teman sekamar pacarnya, Bo Xu.
Halaman (3/3)