Bab 48 Kau Tunggu Saja
"Nona Gu, Luolyan kami terlahir dengan kecantikan alami, tidak seperti Anda yang masih harus berdandan tebal. Nanti, Luolyan cukup merias wajah tipis-tipis saja sudah bisa mengalahkan Anda. Saya sarankan Anda sebaiknya segera pergi agar tidak mempermalukan diri sendiri, saya saja merasa malu untuk Anda!" Wen Muxue menatap Gu Huairou dengan ekspripsi penuh cemoohan.
"Kamu ini makhluk apa, memangnya berhak ikut campur?" Gu Huairou langsung menunjukkan ekspresi penuh amarah, lalu berjalan ke arah Wen Muxue sambil menggertakkan gigi.
Su Luolyan seketika melangkah maju untuk menghalangi Wen Muxue, menatap Gu Huairou dengan dingin.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Nada suara Su Luolyan menjadi sedikit lebih dingin.
"Su Luolyan, enyah sana dari hadapanku!" Gu Huairou langsung menatap Su Luolyan dengan penuh kemarahan.
Kilatan dingin melintas di mata Su Luolyan, dan ia langsung melangkah mendekati Gu Huairou.
Wen Muxue juga berjalan mendekati Gu Huairou dengan tatapan kejam, sambil menggulung lengan baju dan mengepalkan tinjunya.
"Kalian, kalian tunggu pembalasannya!" Gu Huairou menatap keduanya dengan wajah geram, lalu berbalik dan pergi.
"Muxue, kenapa kamu baru datang hari ini?" Su Luolyan memeluk Wen Muxue dengan gembira.
"Aku akhir-akhir ini sibuk, begitu ada waktu luang aku langsung datang. Kudengar Gu Jinting mengadakan pesta ulang tahun di kediaman keluarga Gu hari ini, jadi aku langsung datang ke sini untuk mendukungmu," kata Wen Muxue sambil menatap Su Luolyan dengan penuh antusias.
"Mendukung apa?" Su Luolyan tampak kebingungan.
"Dia berniat melamarmu di pesta ulang tahun itu, bagaimana bisa kamu, seorang mantan kekasih yang belum pernah diumumkan ke publik, kehilangan muka di hadapan mantan kekasih lamamu itu?" Wen Muxue berkata dengan nada tidak rela.
"Pelankan suaramu!" Su Luolyan segera maju dan membungkam bibir Wen Muxue. "Bagaimana kalau sampai terdengar orang lain?"
"Tenang saja, tidak ada orang di sini," kata Wen Muxue dengan sangat bangga menatap Su Luolyan. "Hari ini aku membawa banyak barang bagus, tidakkah kamu berniat mengajakku masuk?"
"Cepat kemari!" Su Luolyan buru-buru menarik tangan Wen Muxue dan membawanya ke kamarnya.
Wen Muxue segera mengambil sebuah pakaian yang dikemas dengan indah lalu menyerahkannya kepada Su Luolyan.
"Coba kamu kenakan ini!"
Su Luolyan lantas menerima pakaian tersebut dan pergi ke kamar kecil untuk menggantinya.
Beberapa saat kemudian, Su Luolyan ditarik pergelangannya oleh Wen Muxue menuju ruang rias. Wen Muxue langsung merias wajahnya secara sederhana, membuat wajah polos Su Luolyan tampak semakin memesona dan sangat memukau.
"Bisa, bisa, cantik sekali," puji Wen Muxue sambil mengangguk puas, lalu langsung mengajak Su Luolyan keluar.
Kemunculan Su Luolyan seketika menarik perhatian banyak orang.
Tampak Su Luolyan dengan rambut hitam bergelombang bagai rumput laut yang membingkai pipinya, bibir merahnya sedikit tersenyum, mengenakan gaun putih pendek dan sepasang sepatu hak tinggi hitam, menampilkan sepasang kaki jenjang yang mulus dan putih.
Banyak pandangan tertuju pada Su Luolyan, terpesona hingga tak bisa berkata-kata.
Melihat Su Luolyan berjalan perlahan ke arahnya, kilatan kecemburuan melintas di mata Gu Huairou. Ia pun segera maju dan menatap Su Luolyan dengan sinis, "Kakak, sepertinya hari ini kamu bertekad bulat untuk bersaing dengan Shen Yuan ya. Sayangnya, Paman Muda akan melamar hari ini, niat Kakak ditakdirkan akan gagal."
"Gu Huairou, omong kosong apa yang sedang kamu ucapkan?" Su Luolyan menatap Gu Huairou dengan dingin, kilat kemarahan melintas di matanya. "Jika kamu berani melontarkan omong kosong lagi, awas kalau Paman Muda sampai merobek mulutmu."
"Jangan coba-coba menakut-nakutiku," hardik Gu Huairou sambil melotot pada Su Luolyan. "Kalau berani, adukan saja pada Paman Muda, lihat bagaimana tunangannya menghabisimu nanti."
"Paman Muda," seru Su Luolyan tiba-tiba dengan ekspresi terkejut, melihat ke arah belakang Gu Huairou.
Gu Huairou langsung merasa pikirannya kosong karena terkejut, tak kuasa menoleh ke belakang, dan sekujur tubuhnya dipenuhi keringat dingin.
"Paman Muda, maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap Gu Huairou meminta maaf dengan panik.
"Hahahaha!" Wen Muxue tidak kuasa menahan tawa keras.
Begitu mendongak, Gu Huairou sama sekali tidak melihat sosok Gu Jinting. Dengan penuh amarah, ia menoleh ke arah Su Luolyan dan berkata, "Su Luolyan, berani sekali kamu membohongiku? Kamu cari mati!"
Sambil berkata demikian, Gu Huairou mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak menampar Su Luolyan dengan keras.
Su Luolyan justru mendekatkan wajahnya tanpa gentar, menatap Gu Huairou dengan cibiran, "Kalau punya nyali, tampar saja. Semua orang sedang melihat kita."
Mendengar perkataan Su Luolyan, Gu Huairou baru menyadari bahwa para tamu di sekitar sedang memperhatikannya. Jika tamparan itu benar-benar mendarat, berita besok pasti akan penuh dengan kabar mengenai dirinya yang melakukan kekerasan.
Belum lagi opini publik di luar akan menghancurkan reputasinya, kakeknya pun pasti tidak akan melepaskannya.
Memikirkan hal itu, Gu Huairou buru-buru menarik kembali tangannya dan menatap sekeliling dengan panik.
"Adikku tersayang, nyalimu semakin hari semakin ciut ya," ejek Su Luolyan dengan nada penuh penghinaan dan cemoohan yang kental.
Meskipun kesal, Gu Huairou terpaksa menjaga keharmonisan di permukaan dengan Su Luolyan. Para tamu di sekitarnya sudah mulai memperhatikan mereka, jika ia tidak bersikap baik, ia akan segera menjadi sasaran empuk opini publik.
Hari ini ada banyak wartawan yang menyusup di antara tamu, jika tidak berhati-hati, mereka bisa tertangkap kamera.
"Su Luolyan, ingat pembalasanku nanti," bisik Gu Huairou sambil tersenyum pada Su Luolyan dengan suara yang sangat rendah.
"Baiklah, aku tunggu," balas Su Luolyan dengan senyuman yang memesona dan menantang, hatinya merasa sangat puas.
Gu Huairou mendengus dingin. Menyadari ada seorang wartawan yang sedang memotret Su Luolyan, ia langsung berbalik dan pergi.
"Hahaha, lucu sekali, kenapa Gu Huairou semakin lama semakin tidak punya otak?" ucap Wen Muxue puas sambil menatap punggung Gu Huairou yang pergi, merasa sangat lega di dalam hatinya.
"Luolyan, penampilanmu tadi benar-benar keren!" puji Wen Muxue penuh iri kepada Su Luolyan. "Kamu tampak semakin cantik mengenakan gaun ini, tadi aku bahkan melihat beberapa wartawan memotretmu."
Warna kemerahan merona di pipi Su Luolyan, seraya tertawa ia berkata, "Jika kamu terus memujiku, aku bisa melayang."
"Aku kan berbicara jujur, benar kan?" tanya Wen Muxue. "Oh ya, kapan kalian berencana untuk bertunangan?"
"Minggu depan sepertinya," jawab Su Luolyan sambil meraih tangan Wen Muxue. "Nanti kalau tanggalnya sudah pasti, aku akan memberitahumu, kamu harus datang untuk memberiku dukungan."
"Tentu saja aku tahu, aku pasti akan menjadi orang pertama yang datang, tenang saja," ucap Wen Muxue dengan penuh keyakinan.
Belum sempat suaranya mereda, terdengar suara rendah Lu Yixuan dari belakang.
"Dukungan apa? Siapa yang berani mengganggu tunanganku?" Lu Yixuan berjalan mendekat dengan sikap tegun dan penuh keanggunan, sementara nada bicaranya menyiratkan sedikit ketidaksenangan.
"Aku bilang aku akan datang ke pesta pertunangan kalian untuk memberikan dukungan," jelas Wen Muxue. Melihat tatapan Lu Yixuan yang terus melekat pada Su Luolyan, ia pun dengan bijak berkata, "Aku mau ke toilet dulu, kalian mengobrollah dulu."
Melihat Wen Muxue pergi, Su Luolyan mengerti maksudnya dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, membuatnya tampak semakin memesona dan anggun.
"Luolyan, kamu sangat cantik hari ini." Pandangan Lu Yixuan terus mengikuti Su Luolyan, penuh dengan kekaguman di matanya.
"Kamu dan Muxue hari ini benar-benar memujiku sampai setinggi langit." Su Luolyan tidak dapat menahan semburat merah di pipinya, merasa malu untuk membalas tatapan membara Lu Yixuan, ia pun mengalihkan pandangannya.