Bab 29 Kapan kau tidak sedang merayuku?
“Apakah perusahaan Direktur Gu kekurangan orang sampai-sampai kau harus melakukan pekerjaan seperti ini?” Kilatan amarah melintas di mata Lu Yixuan.
“Aku hanya pergi untuk menindaklanjuti proyek, sekalian merasakan pengalaman menjadi pemeran pengganti. Tidak disangka, menjadi pemeran pengganti ternyata tidak mudah,” Su Luoyan berusaha bersikap santai sambil tersenyum pada Lu Yixuan.
“Kau masih sempat bercanda!” Lu Yixuan menatap Su Luoyan dengan raut wajah tak berdaya. “Aku akan pergi menyiapkan makanan untukmu. Sudah tengah hari begini, bagaimana bisa kau belum makan apa pun?”
Lu Yixuan pun beranjak pergi. Su Luoyan seketika merasa terharu. Dua kali ia terluka, dua kali pula Lu Yixuan sibuk merawatnya di rumah sakit. Su Luoyan merasa sedikit tidak enak hati. Meskipun luka di tubuhnya terasa nyeri, entah mengapa hatinya merasa hangat.
Detik berikutnya, nada dering ponsel yang mendesak tiba-tiba berbunyi. Su Luoyan mengambil ponselnya dan melihat nama Gu Jinting tertera di layar. Ia terpaksa menjawabnya.
“Paman, ada apa?”
“Kau pergi ke mana?” Suara tidak sabar Gu Jinting terdengar dari seberang telepon. “Pekerjaanmu hari ini belum selesai tapi kau sudah kabur lagi? Sore nanti aku ingin melihat pekerjaanmu sudah selesai.”
“Paman, aku sedang dirawat di rumah sakit,” nada suara Su Luoyan menjadi sedikit dingin. “Sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini.”
“Dirawat? Sejak kapan kau jadi selemah ini? Bolak-balik masuk rumah sakit?” Nada suara Gu Jinting semakin dingin. “Su Luoyan, kesabaranku ada batasnya. Kau terus-menerus menguji batas kesabaranku. Kau sedang bermain api.”
Su Luoyan seketika naik pitam dan langsung mematikan sambungan telepon.
Gu Jinting keparat!
Su Luoyan merasa dadanya sesak karena marah. Ia berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah yang semakin pucat.
Tak lama kemudian, Lu Yixuan kembali membawa makan siang. Melihat Su Luoyan berbaring lemah di ranjang, ia segera berlari menghampiri dengan wajah penuh kekhawatiran. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kau bergerak-gerak lagi di tempat tidur, ya? Kau tidak sayang nyawa?”
Melihat raut wajah Lu Yixuan yang cemas, Su Luoyan segera tersenyum penuh penyesalan.
“Aku mengerti.”
Suara Su Luoyan yang terdengar manja membuat wajah Lu Yixuan merona. Ini pertama kalinya Lu Yixuan mendengar Su Luoyan bersuara seperti itu. Tidak seperti sikapnya yang menjaga jarak dan sopan selama ini, suara itu justru membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
Lu Yixuan merasa senang, namun saat melihat luka Su Luoyan mengeluarkan darah dan noda darah merembes hingga mengotori seprai, raut wajahnya langsung berubah.
“Jangan bergerak.” Wajah Lu Yixuan yang lembut kini tampak tegas. Ia segera memegang tangan Su Luoyan. “Lukamu berdarah, kau masih berani bergerak?”
“Aku tidak akan bergerak lagi.” Su Luoyan langsung diam tak berkutik. Lu Yixuan membantunya berbaring miring dengan hati-hati. Su Luoyan merasa sangat terharu.
“Tunggulah di sini, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu.” Setelah mengatakan itu, Lu Yixuan bergegas pergi.
Su Luoyan merasa hatinya hangat. Namun, saat melihat sosok Lu Yixuan menghilang dari hadapannya, ia justru merasa sedikit hampa.
Dokter segera datang untuk mengganti perban Su Luoyan dan berpesan agar ia tidak banyak bergerak sebelum akhirnya pergi. Lu Yixuan menatap Su Luoyan dengan penuh kasih sayang. Setelah melihat Su Luoyan menghabiskan makan siangnya dan mulai mengantuk, ia berdiri sejenak memperhatikan wanita itu hingga tertidur, lalu berbalik dan keluar.
“Bantu aku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di lokasi syuting Shen Yuan hari ini,” ucap Lu Yixuan melalui telepon.
Tak butuh waktu lama, seseorang mengirimkan data hasil investigasi ke ponsel Lu Yixuan, berisi jadwal syuting hari ini dan rekaman CCTV. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas Shen Yuan sedang bertukar sesuatu dengan seorang aktor di sudut ruangan. Di dalam kantong kertas itu, tampak seperti uang. Rekaman lainnya menunjukkan adegan saat Su Luoyan dipukul jatuh oleh aktor tersebut.
“Sepertinya masalah ini ada hubungannya dengan Shen Yuan,” Lu Yixuan mengerutkan kening.
Di sisi lain, Su Luoyan baru saja hendak berbaring ketika mendengar suara Gu Jinting di ambang pintu.
“Su Luoyan, kau benar-benar bisa membuat masalah setiap hari. Apa kau sangat ingin menarik perhatianku?” Tatapan jijik Gu Jinting menyapu wajah Su Luoyan. “Apa kau tahu, melakukan hal ini hanya akan membuatku semakin muak padamu?”
Su Luoyan menatap tatapan dingin Gu Jinting dan tertawa sinis.
“Paman, jangan bilang kau pikir semua yang terjadi padaku adalah demi dirimu?” Mata Su Luoyan sedingin es, menatap Gu Jinting dengan perasaan geli.
“Memangnya bukan?” Gu Jinting perlahan mendekati Su Luoyan dengan kilatan tajam di matanya.
“Lalu bagaimana Paman tahu aku ada di sini?” Su Luoyan menatap Gu Jinting dengan dingin. “Aku tidak sebodoh itu sampai berpikir untuk merayu Paman agar datang ke sini setiap hari.”
Gu Jinting tiba-tiba mencengkeram dagu Su Luoyan dan mendekatkan wajahnya. Napas panas pria itu menerpa wajah Su Luoyan.
“Kapan kau tidak merayuku?” Ada nada kejam dalam tatapan Gu Jinting.
“Lepaskan aku!” Su Luoyan memberontak, namun Gu Jinting mengunci pinggangnya.
“Jangan banyak bergerak, atau aku tidak menjamin apa yang akan kulakukan,” bisik Gu Jinting memberi peringatan.
Melihat Gu Jinting yang tampak sangat berbahaya, Su Luoyan terdiam. Ia tidak berani memancing kemarahan pria itu karena takut akan hal ekstrem yang mungkin dilakukannya. Lu Yixuan ada di luar sana, jika sampai terlihat, tentu akan menimbulkan kesalahpahaman.
“Kenapa? Takut?” Gu Jinting terkekeh.
“Aku takut jika Paman bersikap seperti ini, tunanganku akan melihatnya,” ucap Su Luoyan jujur.
Gu Jinting mengerutkan kening mendengar hal itu. “Sejak kapan seorang Gu Jinting harus memedulikan siapa yang ada di sekitar?”
“Paman tidak takut, tapi aku takut,” Su Luoyan terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Lu Yixuan adalah tunanganku. Aku harap Paman bisa menjaga jarak denganku ke depannya. Jika tidak, aku tidak keberatan menceritakan masa lalu pada Shen Yuan.”
“Kau mengancamku?” Gu Jinting menatap Su Luoyan dengan dingin. “Bukankah kau terluka seperti ini karena aku? Apa kau masih peduli pada tunanganmu itu?”
Su Luoyan menatap Gu Jinting dengan bingung. Mungkinkah pria ini sudah tahu siapa dalang di balik kejadian hari ini?
Belum sempat Su Luoyan bertanya, Gu Jinting tiba-tiba mendekat dan mencium bibirnya. Bibir yang lembut itu terasa hangat, napas mereka pun saling memburu.
Su Luoyan merasa takut dan mencoba meronta, namun cengkeraman Gu Jinting terlalu kuat. Su Luoyan bahkan curiga pria itu ingin membunuhnya karena tenaganya yang begitu besar, mengunci pinggang Su Luoyan hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Lu Yixuan yang baru saja hendak masuk terhenti mendengar suara mesra dari dalam. Ia hendak menerobos masuk namun seseorang menariknya.
“Direktur Lu, mari kita bicara,” bisik Shen Yuan, memberi isyarat agar Lu Yixuan mengikutinya.