Bab 13: Kamu Ingin Aku Jadi Perebut Suami?
Halaman (1/3)
“Terima kasih.” Su Luoyan menatap Lu Yixuan dengan tulus.
“Tidak perlu berterima kasih. Semua ini salahku karena meninggalkanmu di sana. Kalau bukan karena aku, bagaimana mungkin kau sampai harus dirawat di rumah sakit?” Lu Yixuan menatap Su Luoyan dengan penuh penyesalan.
“Ini bukan salahmu. Makanan di restoran itu yang bermasalah. Nona Shen juga merasa tidak enak badan.” Su Luoyan segera menenangkannya.
“Nona Shen juga keracunan makanan?” tanya Lu Yixuan terkejut.
“Sepertinya alergi mangga.” Su Luoyan mencoba mengingatnya.
Makanan itu dipesan sendiri oleh Shen Yuan. Lalu, mengapa dia bisa alergi mangga?
Su Luoyan merasa tidak habis pikir.
“Tak kusangka kau cukup berpengalaman dalam merawat orang.” Su Luoyan tak kuasa memujinya.
“Dulu aku sering merawat ibuku...” Lu Yixuan mendadak terdiam.
Lu Yixuan adalah anak haram Lu Zhiting. Reputasi ibunya di luar tidak begitu baik, dan Lu Yixuan jarang menyebut-nyebutnya di hadapan orang lain. Karena itu, dia segera mengubah ucapannya, “Aku pasti tidak akan membiarkan restoran itu begitu saja!”
“Jangan marah.” Su Luoyan tersenyum lembut kepada Lu Yixuan, berusaha menenangkannya. “Mungkin hanya tubuhku yang tidak terbiasa dengan makanan itu.”
Di tempat lain, setelah mengantar Shen Yuan ke rumah sakit, Gu Jinting baru mengetahui bahwa alergi Shen Yuan cukup parah. Dokter segera menyuntikkan adrenalin kepadanya.
Dengan susah payah, Gu Jinting berhasil menenangkan Shen Yuan.
Setelah melihat Shen Yuan berbaring di ranjang dan perlahan tertidur, barulah Gu Jinting mengembuskan napas lega. Dia keluar untuk mengisap sebatang rokok.
Di tengah kepulan asap, wajah Gu Jinting yang berwibawa tampak samar. Alisnya berkerut rapat, membuatnya terlihat gelisah.
Detik berikutnya, Gu Jinting tiba-tiba melihat sosok Lu Yixuan.
Lu Yixuan? Mengapa dia ada di sini?
Tanpa sadar, Gu Jinting mengikuti Lu Yixuan. Di sana, dia melihat Su Luoyan terbaring di ranjang dengan wajah pucat.
Kondisi Su Luoyan tampak sangat buruk. Wajahnya pucat seolah-olah seluruh darah di tubuhnya telah tersedot habis.
Jadi, dia benar-benar sedang tidak enak badan...
Entah mengapa, dada Gu Jinting terasa sesak.
Melihat Lu Yixuan sibuk merawat Su Luoyan, Gu Jinting mendadak merasa sangat terganggu. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Setelah ragu sejenak, akhirnya dia mengeluarkan ponsel dan menelepon Su Luoyan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di dalam kamar rawat, Su Luoyan mendengar ponselnya berdering dan merasa heran. Saat mengangkatnya, dia melihat nama Gu Jinting tertera di layar.
“Tuan Gu, ada urusan apa?” Su Luoyan menjawab dengan nada dingin.
“Pekerjaanmu sudah selesai?” Suara Gu Jinting dipenuhi amarah yang nyaris tak tertahan. “Beraninya kau mangkir?”
“Aku sedang tidak enak badan...” Su Luoyan belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Gu Jinting langsung menyela.
“Sekalipun sedang tidak enak badan, kau tetap harus datang bekerja. Kau meninggalkan pekerjaan di tengah jalan. Kalau semua karyawan bertindak sepertimu, perusahaan ini pasti sudah kacau.” Nada bicara Gu Jinting terdengar menusuk dan dingin.
“Kuberi kau waktu dua puluh menit. Kalau aku tidak melihatmu di perusahaan, proyek yang sedang kau tangani itu tidak perlu kau lanjutkan lagi.”
Setelah mengatakan itu, Gu Jinting langsung menutup telepon.
Gu Jinting, apakah dia benar-benar harus bertindak sekejam ini?
Tatapan Su Luoyan meredup. Tanpa sadar, dia melirik Lu Yixuan.
“Aku masih harus mengurus pekerjaan. Kita pergi sekarang.” Su Luoyan perlahan bangkit dari ranjang.
“Kondisimu belum pulih. Bagaimana mungkin kau pergi sekarang?” Lu Yixuan menatap Su Luoyan dengan cemas, lalu mengulurkan tangan untuk menopangnya. “Biar aku menelepon Tuan Gu dan memberitahunya bahwa kau mengambil cuti hari ini.”
“Tidak perlu.” Su Luoyan meraih tangan Lu Yixuan. “Aku baik-baik saja. Proyek yang sedang kutangani sedang berada dalam tahap penting. Kalau aku mengambil cuti sehari, aku akan tertinggal.”
“Bagaimanapun, kau tidak boleh memaksakan diri seperti ini.” Lu Yixuan tampak gelisah. “Biar aku yang bicara dengan Tuan Gu. Kau beristirahatlah dengan baik.”
“Aku sungguh tidak apa-apa. Lihat, aku masih bisa berdiri sendiri, bukan?”
Begitu berdiri, Su Luoyan langsung terhuyung dan jatuh ke dalam pelukan Lu Yixuan.
Wajah Lu Yixuan seketika memerah.
Su Luoyan bahkan lebih panik.
Tidak jauh dari sana, Gu Jinting menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan dingin. Sorot matanya menjadi semakin membeku.
“Aku sungguh tidak apa-apa. Kalau kau benar-benar khawatir, ikut saja denganku dan lihat sendiri.” Su Luoyan tersenyum kepada Lu Yixuan. “Aku tahu kau mengkhawatirkanku. Kalau memang tidak sanggup, aku pasti tidak akan memaksakan diri.”
“Baik, aku menghormati pilihanmu.”
Begitu Lu Yixuan selesai berbicara, dia melihat Su Luoyan berjalan perlahan ke depan. Tangannya tanpa sadar terulur hendak menopang Su Luoyan, tetapi dia tiba-tiba menyadari bahwa dirinya tidak boleh melampaui batas lagi. Dia pun segera menarik kembali tangannya.
Setelah beristirahat sejenak, tubuh Su Luoyan terasa jauh lebih baik. Dia bahkan sudah mampu berjalan sendiri, lalu melangkah keluar dengan tenang.
Karena telah bertekad menyelesaikan proyek itu dengan baik, dia tidak boleh menyerah di tengah jalan.
Lu Yixuan menatap wajah Su Luoyan yang teguh. Entah mengapa, hatinya terasa tersentuh.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Wajah Su Luoyan memang pucat dan tubuhnya tampak begitu lemah, tetapi tak disangka dia ternyata jauh lebih kuat daripada yang dibayangkan Lu Yixuan.
“Aku akan mengurus prosedur kepulanganmu.” Lu Yixuan segera berjalan menuju loket pembayaran. “Tunggulah aku di sini.”
“Baik.” Su Luoyan memandang Lu Yixuan yang sibuk mengurus segala sesuatu untuknya dan merasa sedikit sungkan.
Lu Yixuan takut membuatnya menunggu terlalu lama, sehingga dia berjalan secepat mungkin.
“Terima kasih...” Su Luoyan belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Lu Yixuan sudah menghilang dari pandangan.
Su Luoyan tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya.
Tak disangka, Lu Yixuan yang terlihat tenang dan anggun ternyata lebih sering bersikap seperti anak kecil.
Detik berikutnya, sosok Gu Jinting tiba-tiba muncul di sudut lorong.
Secara naluriah, Su Luoyan hendak bersembunyi, tetapi Gu Jinting telah berjalan menghampirinya dengan tenang.
“Su Luoyan, kau benar-benar sakit?” Tatapan penuh keraguan Gu Jinting jatuh ke wajah Su Luoyan.
“Tidak perlu Paman Kecil repot-repot mengkhawatirkanku. Aku sudah baik-baik saja. Sekarang aku akan kembali ke perusahaan.” Su Luoyan menatap Gu Jinting dengan sikap dingin.
“Aku akan mengantarmu.” Ekspresi Gu Jinting tetap dingin. “Kebetulan aku juga harus kembali ke sana.”
“Tubuh Nona Shen belum pulih. Mengapa Paman Kecil tidak tinggal di sini untuk menemaninya?” Nada suara Su Luoyan terdengar menyindir.
“Su Luoyan, apa kau cemburu kepada Yuan-Yuan? Kau berbeda dari Yuan-Yuan. Jangan mengharapkan sesuatu yang bukan hakmu.” Gu Jinting tiba-tiba bertanya, dengan sedikit ketidaksenangan melintas di matanya.
Dengan sifat Su Luoyan di masa lalu, bukan tidak mungkin kejadian dirinya dirawat di rumah sakit ini juga telah direncanakan olehnya. Bukankah dia hanya ingin melihat Gu Jinting cemas dan mengkhawatirkannya?
“Paman Kecil, bukankah kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri?” Nada suara Su Luoyan sedingin es. Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan pergi, sama sekali tidak ingin meladeni Gu Jinting.
Semakin Su Luoyan bersikap seperti itu, semakin Gu Jinting yakin bahwa dia sengaja berusaha menarik perhatiannya. Dia segera mengulurkan tangan dan mencengkeram Su Luoyan.
“Su Luoyan, kesabaranku terbatas. Sudah cukup kau membuat ulah?” Cengkeraman Gu Jinting semakin kuat. “Asalkan sekarang kau meminta maaf dengan patuh, aku akan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.”
“Jadi, Paman Kecil ingin aku menjadi simpananmu dan Nona Shen?” Su Luoyan mencibir, lalu tiba-tiba berbalik menatap Gu Jinting.
Halaman (3/3)