Bab 14 Paman Muda Itu Benar-Benar Binatang Buas
Halaman (1/3)
“Bukankah Paman sangat peduli pada Nona Shen? Saat menggoda saya di depannya, Paman pasti sangat menikmati perasaan terlarang itu, bukan?” Su Luoyan menatap penuh tantangan dan tak kuasa memaki, “Paman benar-benar binatang.”
Tatapan dingin Gu Jinting semakin tajam. Ia tak kuasa menuntut, “Su Luoyan, coba panggil aku Paman sekali lagi!”
“Apa masalahnya kalau aku memanggilmu Paman?” Su Luoyan bersikap acuh tak acuh. “Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu Paman? Berani melakukan sesuatu kepadaku di sini?”
Gu Jinting seketika kehilangan akal karena terpancing. Su Luoyan selalu tahu cara membuat pria yang biasanya tenang itu marah.
Tampaknya selama ini ia terlalu memanjakan Su Luoyan.
“Su Luoyan, hebat sekali kau.” Gu Jinting menarik Su Luoyan ke dalam pelukannya, lalu perlahan mendekatkan wajah ke wajahnya. Saat berbicara, napas panasnya menerpa wajah Su Luoyan.
“Yixuan!” Su Luoyan segera menatap ke depan dengan wajah panik.
Mendengar itu, Gu Jinting langsung menjauh dari Su Luoyan. Sesaat kemudian, ia melihat Su Luoyan mendorongnya dan melarikan diri dengan tergesa-gesa.
“Paman tertipu.” Setelah mengejeknya, Su Luoyan segera kabur seolah-olah sedang melarikan diri.
Gu Jinting menatap punggung Su Luoyan yang menjauh. Tanpa sadar, ia mengepalkan tangan hingga kukunya menancap dalam ke telapak tangannya.
Belakangan ini, Su Luoyan selalu berhasil membuatnya kalang kabut.
“Yixuan, ayo pergi!” Setelah menemukan sosok Lu Yixuan, Su Luoyan segera menghampiri dan menggandeng lengannya.
“Luoyan, bukankah aku memintamu menungguku di kamar rumah sakit?” Lu Yixuan menatap Su Luoyan dengan cemas.
“Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir. Kali ini, terima kasih banyak. Lain kali aku yang mentraktirmu makan.” Su Luoyan tersenyum tipis kepada Lu Yixuan.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Lain kali aku yang mentraktirmu sebagai permintaan maaf. Aku akan menyelidiki masalah di restoran itu sampai tuntas.” Melihat wajah Su Luoyan agak pucat, Lu Yixuan segera berkata, “Aku antar kau ke kantor dulu. Simpan nomor teleponku. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku. Jangan memaksakan diri.”
“Baik, terima kasih.” Hati Su Luoyan dipenuhi rasa syukur.
Keduanya bertukar nomor telepon di dalam mobil. Tak lama kemudian, mereka tiba di kantor. Begitu Su Luoyan memasuki gedung, suara Gu Huairou yang menyindir terdengar dari belakang.
“Kakak benar-benar tidak tahu malu. Begitu Lu Yixuan datang menjemputmu, kau langsung bergegas pergi. Pekerjaanmu tidak perlu dikerjakan lagi?” Gu Huairou memandang Su Luoyan dengan penuh hinaan. “Ayah bahkan bilang kau sakit karena makan sesuatu yang tidak cocok. Menurutku, kau sengaja melakukannya. Kalau tidak, mana mungkin Lu Yixuan mengantarmu kemari?”
Tadi, Maybach milik Lu Yixuan berhenti di depan gedung dan menarik perhatian banyak rekan kerja. Semua orang melihat Su Luoyan turun dari mobil itu, sehingga tanpa sadar mereka merasa iri kepadanya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Awalnya, Gu Huairou sangat meremehkan Lu Yixuan. Bagaimanapun, Lu Yixuan hanyalah anak haram dan putra bungsu. Di atasnya masih ada seorang kakak laki-laki yang menekannya. Jika menikah dengannya, ia pasti akan banyak menderita. Selain itu, Gu Huairou memang selalu memandang rendah pernikahan bisnis. Karena itulah ia memberikan kesempatan ini kepada Su Luoyan.
Namun, setelah bertemu Lu Yixuan pada kesempatan sebelumnya, Gu Huairou tiba-tiba menyadari bahwa ia telah terlalu menguntungkan Su Luoyan.
Bagaimana mungkin perempuan seperti Su Luoyan pantas menikah dengan Lu Yixuan?
“Kakak, jangan mengira setelah menikah demi kepentingan bisnis, kau bisa terbang ke dahan dan berubah menjadi burung hong. Lu Yixuan jatuh ke tanganmu hanya karena aku tidak memilihnya. Namun, itu bukan berarti kau benar-benar bisa menikah dengannya. Kudengar keluarganya sangat rumit.” Gu Huairou mencibir. “Sebelum memahami semuanya, sebaiknya Kakak menahan diri. Jangan sampai nanti menimbulkan skandal.”
“Bagaimanapun juga, itu urusanku sendiri. Tidak perlu merepotkan dirimu.” Su Luoyan menatap Gu Huairou dengan dingin, lalu berbalik menuju mejanya.
Para rekan kerja di sekeliling mereka menyadari ketegangan yang nyaris meledak di antara keduanya, lalu mengamati mereka dengan hati-hati.
Melihat tumpukan dokumen di atas mejanya, Su Luoyan mengernyit dan bertanya, “Gu Huairou, apa lagi ini?”
“Ini bahan proyek yang diperintahkan Direktur Gu untuk kuberikan kepadamu. Direktur Gu ingin kau menyusun proposal dan menyerahkannya besok pagi.” Gu Huairou menjawab.
“Aku masih memiliki pekerjaan lain yang belum selesai.” Su Luoyan hendak menolak, tetapi pada detik berikutnya suara Gu Jinting terdengar dari belakangnya.
“Kalau tidak mau bekerja, enyah dari sini. Kau sudah lama menangani proyek ini. Memangnya sulit membuat sebuah proposal?” Tatapan dingin Gu Jinting jatuh pada Su Luoyan.
Melihat sikap Gu Jinting, Su Luoyan menekan amarahnya dalam-dalam, lalu mengangguk. “Baik, akan kukerjakan.”
Setelah mengucapkan itu, Su Luoyan segera duduk dan mulai bekerja.
Gu Huairou memandangi keseriusan Su Luoyan dan diam-diam mencibir, lalu berbalik pergi.
Gu Jinting tanpa sadar mengepalkan tangannya. Melihat sikap keras kepala Su Luoyan, hatinya semakin kesal. Ia melirik Su Luoyan dengan dingin sebelum pergi.
Su Luoyan menahan rasa tidak nyaman dan terus bekerja hingga malam tiba.
Begitu keluar dari gedung kantor, Su Luoyan tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya mengendur. Saat itulah ia melihat mobil Gu Jinting melintas.
Shen Yuan duduk di dalam mobil. Keduanya bersandar mesra satu sama lain. Ketika melewati Su Luoyan, Gu Jinting meliriknya, dan secercah hawa dingin melintas di matanya.
Su Luoyan berbalik pergi tanpa memedulikannya, lalu langsung naik taksi menuju tempat Wen Muxue.
“Pamanmu benar-benar bukan manusia!” Setelah mendengar cerita Su Luoyan tentang kejadian hari itu, Wen Muxue memaki Gu Jinting habis-habisan. “Dia benar-benar binatang berbaju manusia!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Sudahlah, cepat tidur.” Su Luoyan merasa seluruh tubuhnya sangat lelah dan sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berbicara lagi.
“Menurutmu, bagaimana Lu Yixuan?” tanya Wen Muxue.
“Lembut, perhatian, dan ambisius.” Su Luoyan menilainya secara spontan.
“Penilaianmu tinggi sekali. Kau menyukainya?” Wen Muxue segera mendesak.
“Belum bisa dibilang suka. Hanya saja kesanku terhadapnya cukup baik.” Su Luoyan menutupi wajahnya dengan selimut. Kelelahan lahir dan batin selama beberapa hari terakhir sudah membuatnya hampir tak sanggup bertahan. “Sudahlah, aku mau tidur. Aku sangat lelah.”
“Baik, baik. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Wen Muxue segera mematikan lampu dan keluar.
Di tengah tidurnya, Su Luoyan tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia meraih ponsel dan menjawab telepon dengan setengah sadar. Tiba-tiba, dari seberang terdengar suara samar yang ambigu, terdengar seperti suara ciuman.
Ketika melihat nama Gu Jinting di layar, hati Su Luoyan terasa tertusuk.
Apakah Gu Jinting benar-benar harus mempermalukannya seperti ini?
Apa yang dikatakannya di rumah sakit belum cukup? Sekarang, di tengah malam, ia masih menelepon untuk menghina dirinya?
Su Luoyan segera memutuskan telepon itu. Dadanya terasa sesak tanpa alasan, dan ia tak bisa tidur lagi, bagaimanapun juga.
Mendengar sambungan telepon terputus, secercah kelicikan melintas di mata Shen Yuan. Ia kembali mencium wajah Gu Jinting yang tertidur lelap.
Gu Jinting sudah lama terlelap. Tujuan Shen Yuan menelepon sebenarnya hanya untuk menguji sikap Su Luoyan. Ia tidak menyangka Su Luoyan akan langsung memutuskan telepon.
Sejak kembali, Gu Jinting memang bersikap lembut dan penuh perhatian kepadanya, tetapi tidak menunjukkan keinginan untuk melangkah lebih jauh.
Malam itu, Shen Yuan mengenakan daster tidur renda yang sangat seksi dan sengaja berusaha menggoda Gu Jinting. Namun, Gu Jinting menolaknya dengan mengatakan bahwa ia ingin menghargainya baik-baik dan baru memberinya status yang sah setelah mereka menikah.