Bab 36 Tinggal Bersama Paman Kecil
Kilatan lampu kamera seketika menerpa mereka berdua secara bertubi-tubi. Kejadian itu diabadikan oleh tujuh hingga delapan kamera yang sudah bersiap.
Su Luoyan tampak panik dan mundur selangkah.
Lu Yixuan sebelumnya telah bersekongkol dengan Shen Yuan. Shen Yuan tahu bahwa Lu Yixuan berniat membawakan pakaian untuk Su Luoyan, sehingga ia sengaja memanggil para wartawan. Jika berita mengenai kebersamaan mereka berdua hari ini tersebar, Lu Yixuan yakin Grup Wanxie bisa memanfaatkan skandal tersebut untuk mendongkrak harga saham mereka. Belakangan ini, Lu Yixuan sedang pusing tujuh keliling karena persaingan sengit dengan kakak laki-lakinya, jadi ia tentu tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini. Shen Yuan pun tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk menjodohkan Lu Yixuan dan Su Luoyan.
"Berhenti memotret!" suara Lu Yixuan terdengar dingin dan tajam.
Setelah merasa cukup mendapatkan foto, para wartawan segera menyimpan kamera mereka dan bergegas hendak pergi.
Su Luoyan segera menarik lengan Lu Yixuan dan berbisik, "Cepat cegah mereka!"
Detik berikutnya, suara Gu Jinting tiba-tiba terdengar dari arah yang tidak jauh.
"Hancurkan semua benda itu sekarang juga."
Begitu Gu Jinting memberi perintah, belasan pengawal segera berlari maju dan mengepung para wartawan. Mereka merampas kamera dengan kasar dan membantingnya ke lantai hingga hancur. Suasana seketika menjadi kacau balau.
"Tuan Gu, itu adalah alat mata pencaharian kami!"
"Benar! Mengapa Tuan Gu memperlakukan kami seperti ini?" protes para wartawan dengan gusar.
"Jika rusak, aku akan mengganti masing-masing dari kalian dengan tiga kamera baru," ujar Gu Jinting dingin sambil menatap kerumunan wartawan tersebut.
Para wartawan itu seketika ketakutan dan membisu, tidak berani melawan meski menahan amarah. Su Luoyan akhirnya bisa bernapas lega dan tak kuasa menahan diri untuk melirik Gu Jinting.
"Pergi," perintah Gu Jinting dingin.
Mendengar itu, para wartawan segera membubarkan diri, tidak berani berlama-lama di sana.
"Jinting, untung saja ada kau. Kalau tidak, seandainya berita tentang Tuan Lu dan Luoyan yang berada di ruangan yang sama tersebar, dampaknya bagi keluarga Gu akan sangat buruk," ujar Shen Yuan sambil mendekat dan merangkul lengan Gu Jinting dengan nada manja.
Gu Jinting hanya menatap Su Luoyan yang berdiri tak jauh dari mereka dengan pandangan dingin.
"Kau belum resmi menikah, jika kau berani melakukan hal seperti ini lagi dan merusak citra keluarga Gu, aku tidak akan melepaskanmu," ancam Gu Jinting pada Su Luoyan, sebelum beralih menatap Lu Yixuan, "Tuan Lu, Anda tidak perlu terburu-buru."
Lu Yixuan menatap wajah dingin Gu Jinting tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana mendadak menjadi tegang, hingga tak lama kemudian terdengar suara Gu Mingde dari kejauhan.
"Kalian semua kemarilah, apa yang kalian kerjakan berkerumun di sana?" tanya Gu Mingde dengan raut wajah bingung sembari berjalan perlahan mendekat. "Hari ini suasana hati sedang bagus, mari kita minum sedikit."
"Ayah, kesehatan Ayah tidak baik, sebaiknya jangan minum alkohol," bujuk Gu Jinting.
Gu Mingde menepuk bahu Gu Jinting, memberi isyarat agar tidak perlu khawatir. "Aku baik-baik saja, tidak perlu mencemaskanku," ucapnya dengan suara yang berat namun penuh wibawa.
Tak lama kemudian, kepala pelayan menyajikan minuman. Su Luoyan segera maju dan memberikan segelas minuman kepada Gu Mingde.
"Kakek, minuman ini tidak apa-apa, tapi minum sedikit saja ya, jaga kesehatan Kakek."
"Luoyan memang yang paling perhatian dan pengertian," ujar Gu Mingde menatap Su Luoyan dengan penuh kasih sayang.
Gu Jinting pun merasa tenang dan mengambil segelas minuman untuk dirinya sendiri.
Larut malam, saat Su Luoyan hendak pamit, ia justru ditahan oleh Gu Mingde. Gu Mingde tahu bahwa Su Luoyan tidak lagi tinggal di rumah utama. Mendengar ia tinggal bersama sahabatnya membuat Gu Mingde merasa iba. Ia pun berpura-pura mengeluh sakit dada dan merindukan cucunya agar Su Luoyan mau tetap tinggal.
Gu Jinting menatap Su Luoyan dengan tatapan datar sambil memainkan gelas di tangannya. Shen Yuan, yang memperhatikan Su Luoyan dengan dingin, merasa gengsi untuk meminta izin menginap, sehingga ia hanya menarik lengan baju Gu Jinting dan bertanya dengan nada peduli, "Jangan minum terlalu banyak."
"Aku tahu," jawab Gu Jinting sambil meletakkan gelasnya.
Gu Jinting biasanya tinggal di kediaman keluarga Gu dan hanya sesekali berada di rumahnya yang lain. Malam ini, karena sudah minum, ia tentu akan menginap di sini. Shen Yuan sebenarnya berharap Gu Jinting memintanya untuk tinggal, namun pria itu tampaknya tidak memiliki niat tersebut.
Lu Yixuan melirik Shen Yuan. Melihat wanita itu tidak meminta izin untuk menginap, ia pun tidak bisa berkata apa-apa. Meski ia merasa cemas membiarkan Su Luoyan dan Gu Jinting berada di bawah satu atap, namun karena mereka berada di kediaman keluarga Gu dan tinggal bersama Gu Mingde, ia yakin tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Malam semakin larut, Lu Yixuan terpaksa pamit. Shen Yuan pun turut meninggalkan rumah keluarga Gu dengan rasa tidak puas. Malam ini, Gu Jinting tidak memintanya untuk tinggal, hal yang membuat Shen Yuan merasakan ancaman yang nyata.
"Sudahlah, hari sudah larut, kalian pergilah beristirahat, aku juga akan tidur," ucap Gu Mingde seraya berdiri.
"Luoyan, besok katakan saja pada pelayan apa yang ingin kau makan. Mulai sekarang tinggallah di sini, ini adalah rumahmu. Jangan menolak Kakek. Dulu saat Kakek memintamu pindah ke sini kau selalu menolak. Kakek sudah tua, tidak tahu berapa tahun lagi bisa hidup. Jika kau tidak sering menjenguk Kakek, mungkin suatu hari nanti yang kau temui hanyalah tubuh Kakek yang dingin."
"Kakek, jangan bicara sembarangan!" Su Luoyan segera maju memapah Gu Mingde. "Kakek pasti akan panjang umur, jangan bicara seperti itu."
"Jika kau mau tinggal di sini, aku tidak akan bicara seperti itu lagi. Tinggal di tempat temanmu itu juga tidak nyaman, bukan?" desak Gu Mingde keras kepala. "Jika kau tidak setuju, aku tidak akan mau tidur."
"Baik Kakek, aku akan pindah ke sini," ujar Su Luoyan dengan haru. "Aku juga ingin lebih sering menemani Kakek."
"Cucu perempuan yang baik!" Gu Mingde berseri-seri dan segera melirik Gu Jinting. "Masih duduk saja? Cepat suruh orang menyiapkan kamar untuk Luoyan."
Gu Jinting pun berdiri dengan tenang.
Su Luoyan merasa lega. Dulu ia bukannya tidak ingin pindah ke kediaman Kakek, namun ia selalu ragu karena ada Gu Jinting di sini. Selama ini ia selalu menjaga martabat Gu Jinting dan mempertimbangkan posisinya, namun sekarang setelah mereka berpisah, Su Luoyan merasa bisa pindah ke sini dengan terang-terangan tanpa perlu memikirkan hal-hal lain lagi.
Kamar segera disiapkan, dan Su Luoyan pun segera membersihkan diri lalu berbaring. Terbaring di tempat tidur yang nyaman, Su Luoyan merasa jauh lebih tenang.
Namun, tak lama setelah ia terlelap, pintu kamarnya diketuk. Su Luoyan merasa takut. Saat ketukan itu semakin keras, ia takut akan membangunkan orang lain, sehingga ia segera turun dari ranjang untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Su Luoyan didorong dengan kasar ke balik pintu. Saat melihat sosok di depannya adalah Gu Jinting, Su Luoyan refleks melayangkan tamparan ke wajah pria itu.
Mata Gu Jinting menggelap. Ia mencengkeram pergelangan tangan Su Luoyan, menutup pintu, dan menatapnya dengan tatapan dingin.
"Su Luoyan, kau benar-benar sudah berani sekarang, berani memukulku?" suara Gu Jinting terdengar sangat dingin.
"Ternyata Paman, kukira tadi ada maling," jawab Su Luoyan dengan raut wajah terkejut.