(13) Menjual Pil Obat
Di pasar yang masih ramai seperti biasa, terdengar seruan lantang: “Kakak-kakak, paman-paman, bibi-bibi yang lewat, tolong berhenti sejenak, jangan lewatkan pertunjukan menarik di sini!” Suara itu bening dan nyaring, namun jelas terdengar polos, menandakan pemilik suara hanyalah seorang anak kecil yang usianya belum genap sepuluh tahun. Ketika orang-orang menoleh, benar saja, mereka melihat seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berdiri di sana. Di tangannya ada sebuah keranjang, matanya berbinar memandang mereka, wajahnya dihiasi senyum cerah yang menular. Melihat ekspresi polos itu, siapa pun yang memandangnya pun tanpa sadar tersenyum dan melangkah mendekat, penasaran apa yang ingin dilakukan anak ini.
Luo Yueya memperhatikan sudah ada lima atau enam orang berkumpul di hadapannya. Ia pun meletakkan keranjang, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil bertuliskan 'Obat Masuk Angin'. Ia pun mulai memperkenalkan barang dagangannya.
“Saudara sekalian, pasti kalian pernah mengalami masuk angin. Walaupun penyakit ini ringan, tetap saja membuat orang sangat tidak nyaman! Batuk, bersin, demam, dahi panas, tidak nafsu makan, semua itu pasti pernah dirasakan, bukan? Walaupun akhirnya bisa sembuh setelah minum obat, biasanya harus beberapa kali minum, dan obatnya pun pahit serta baunya menyengat. Sekarang, aku punya obat khusus untuk menyembuhkan masuk angin. Saat merasa gejala, cukup minum satu butir saja, lalu tidur yang nyenyak dan selimuti tubuh hingga berkeringat. Setelah bangun, masuk angin pun akan hilang sepenuhnya. Harganya hanya dua puluh keping uang satu butir. Siapa yang mau menjadi pelanggan pertamaku?”
Senyum manis dan suara jernih itu membuat penjelasan yang seharusnya membosankan jadi terdengar menarik. Meski mereka tidak yakin seberapa ampuh obat itu, melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun yang ceria ini membuat hati mereka ikut gembira. Hanya karena itu pun, mereka rela berdiri di hadapannya, ingin tahu trik apa lagi yang akan ia tunjukkan. Namun, setelah Luo Yueya selesai bicara, ia hanya berdiri sambil tersenyum, memegang botol berisi pil itu.
Semua yang perlu disampaikan sudah ia sampaikan. Sekarang tinggal menunggu pelanggan pertama datang menghampiri. Kadang, dalam berdagang, tak perlu terlalu gencar menawarkan. Cukup bangkitkan rasa penasaran, lalu biarkan mereka sendiri yang bertanya. Ia percaya pasti akan ada satu orang yang maju. Benar saja, setelah menyadari Luo Yueya tidak akan menambah penjelasan lagi, seorang wanita paruh baya bertubuh agak gemuk melangkah maju, mengambil botol dari tangan Luo Yueya, membuka sumbatnya, dan seketika tercium aroma harum. Ia menuang satu pil berwarna coklat, yang tak berbeda dari pil kebanyakan. Sempat ragu sejenak, ia lalu bertanya pada Luo Yueya, “Nak, suamiku sudah tiga hari kena masuk angin; batuk, pilek, demam, tidak nafsu makan, semuanya ada. Sudah dua hari ini minum obat tapi belum juga sembuh, aku benar-benar khawatir. Benarkah pil ini sehebat itu, hanya perlu diminum lalu tidur, dan sembuh?”
Luo Yueya mendengarkan dengan tenang, lalu setelah semua pertanyaan selesai, ia menjawab satu per satu, “Benar, Bibi. Ini pil khusus yang diracik untuk masuk angin, di dalamnya ada bahan seperti ban xia dan kulit jeruk kering (hanya contoh saja, jangan dianggap serius!), juga ada bahan lain. Setelah minum pil ini, tidur nyenyak dan selimuti tubuh sampai berkeringat, nanti badan akan terasa segar dan ringan. Bibi bisa beli pil ini dulu, berikan pada suami Bibi. Kalau benar tidak ada efeknya, besok datang lagi ke sini, aku akan kembalikan uang Bibi!”
Melihat wajah kecil Luo Yueya yang masih polos tapi penuh keyakinan, wanita itu entah mengapa merasa tenang dan tak lagi ragu seperti sebelumnya. Apa yang dikatakan Luo Yueya memang benar, membuat wanita itu langsung menyerahkan dua puluh keping uang dan mengambil satu pil tanpa menawar.
Luo Yueya dengan hati-hati menyimpan uang itu. Ketika orang-orang mengira ia akan memanfaatkan kesempatan untuk menjual beberapa pil lagi, ia justru mengemasi barang-barangnya, mengangkat keranjang, dan bersiap pergi. Saat orang-orang heran dengan tindakannya, Luo Yueya menoleh dan tetap tersenyum, berkata,
“Terima kasih atas perhatian kalian. Kalau ingin membeli pil, silakan datang besok! Aku yakin kalian ingin melihat dulu khasiat obat ini sebelum memutuskan membeli, supaya tidak menyesal. Besok, waktu dan tempatnya sama, silakan datang lagi, aku tidak akan membuat kalian kecewa! Aku hanya membuat lima pil, satu sudah dijual ke Bibi tadi, jadi tinggal...” Empat butir lagi! Tiga kata terakhir itu tak ia lanjutkan, karena semua orang sudah tahu jawabannya. Meski masih banyak tanda tanya di hati mereka, mereka hanya bisa memandang Luo Yueya hingga ia menghilang dari pandangan.
Luo Yueya meraba dua puluh keping uang yang baru saja didapatkannya, yang jika di zaman modern setara dengan dua ratus ribu rupiah. Meski di kehidupan sebelumnya ia pernah mendapat uang ratusan hingga ribuan kali lebih banyak dari ini, namun uang kecil ini membuatnya sangat bahagia. Ini adalah uang pertamanya di zaman kuno, dan ia sudah tahu akan dipakai untuk apa. Harga pil yang ia tetapkan pun sudah dipikirkan matang-matang. Ia ingin melakukan sesuatu untuk kakak dan ayahnya! Dengan pikiran itu, Luo Yueya pun melangkah masuk ke toko kain, melihat kain-kain berwarna hitam, biru, dan hijau tua di atas meja, juga ada sol sepatu di sampingnya. Ia penasaran, dengan dua puluh keping uang bisa membeli berapa banyak?
Saat Luo Yueya sibuk memilih kain, ia tidak tahu bahwa dari awal ia berjualan pil hingga berhasil bertransaksi, semua gerak-geriknya telah diamati oleh seseorang. Sepasang mata hitam legam, sedingin es, menyorotinya tanpa perubahan emosi sedikit pun. Tak jelas kenapa pandangannya justru tertarik pada anak laki-laki enam atau tujuh tahun itu. Dari sudut pandang lain, entah pengamatan dari mata setajam itu akan membawa kebaikan atau keburukan bagi Luo Yueya.