Bab 158 Dua Bunga Sekolah Berlari di Lapangan
Setelah Gu Shan pergi, Zhou Panxi melipat tangannya di dada dengan ekspresi angkuh. "Qiao Qingyi, jangan dikira urusan hari ini sudah selesai sampai di sini."
Qiao Qingyi memutar bola matanya tanpa bisa berkata-kata. "Lalu, apa yang mau kau lakukan? Mau berkelahi lagi?"
Ekspresi Zhou Panxi langsung kaku saat teringat wajah lembut namun dengan senyuman iblis milik Guru Muchuan. Ia langsung mencemooh, "Selama kita tidak berkelahi di dalam lingkungan sekolah, itu tidak melanggar aturan Guru Muchuan! Lagipula, kali ini aku tidak akan berkelahi denganmu. Aku ingin mengajakmu—balapan!"
Qiao Qingyi mengerjap-nergapkan matanya. "Zhou Panxi, apakah otakmu sudah menjadi bubur? Aku tidak pernah belajar balapan mobil."
Zhou Panxi berkata dengan nada dingin, "Lalu, apa yang bisa kau lakukan?"
Qiao Qingyi mengerjap-nergapkan matanya pelan. "Aku bisa bermain piano."
Zhou Panxi: "..."
Kelemahannya adalah piano.
"Yang lain," sorot mata Zhou Panxi tampak suram.
Qiao Qingyi menutup wajahnya sambil menghela napas dan menggelengkan kepala. "Kukatakan padamu, Zhou Panxi, bisakah kau memberikan sedikit variasi? Sebagai seorang penguasa sekolah, jangan terus-menerus mengawasiku, oke?"
Zhou Panxi berkata dengan dingin, "Yang lain hanyalah sampah, tidak layak untuk bertanding dengannya."
"..." Qiao Qingyi membatin dalam hatinya, kalau begitu aku harus berterima kasih karena kau sudah menghargaiku!
Merasa tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan Zhou Panxi, Qiao Qingyi mempercepat langkahnya dan kembali ke asrama.
"Qiao Qingyi, tunggu saja pembalasanku!" seru Zhou Panxi dengan suara lantang.
Di bawah naungan malam, para pasangan kekasih di sekitar menoleh ke arahnya silih berganti.
Mereka tampak terganggu karena suaranya merusak suasana romantis malam itu.
Tanpa alasan yang jelas, Zhou Panxi merasa kesal. Ia mendengus dingin lalu berbalik pulang.
Setibanya Qiao Qingyi di asrama, aroma makanan yang menggugah selera langsung menyambut indra penciumannya. Matanya berbinar-binar dan ia menelan ludah. "Ada makanan!"
Mo Zhihan duduk bersilang kaki, sementara di atas meja di depannya tersaji berbagai macam makanan.
Ada nasi omelet, ayam panggang utuh, paha ayam teriyaki, pai kacang merah KFC, tart telur, ayam goreng dan kola, serta dua buah burger ukuran jumbo. Tidak ketinggalan pula udang karang bumbu Singsang dari restoran di luar sekolah.
Sangat berlimpah.
Mo Zhihan sedang mengunyah paha ayam sambil tersenyum. "Aku tahu kau pasti kelaparan, cepat kemari dan makanlah."
Qiao Qingyi duduk, mengambil secangkir kola dan meneguknya beberapa kali, lalu mengambil burger dan memakannya perlahan.
Mo Zhihan menggoda, "Bagaimana rasanya berkonfrontasi dengan Guru Muchuan hari ini?"
"Biasa saja," jawab Qiao Qingyi dengan nada malas. "Namun, memang benar seperti yang dikatakan dalam legenda, dia sangat lurus dan tidak kenal kompromi. Sekalipun kau adalah anak penguasa langit, di hadapannya semuanya tetap sama."
Mo Zhihan sedang menggulir postingan di forum kampus, dan secara tidak sengaja melihat sebuah judul yang sangat mencolok: "Dua Bunga Kampus Membaca Surat Penyesalan di Lapangan?"
Mo Zhihan mengangkat kepalanya dan menatap Qiao Qingyi dengan terkejut. "Serius!? Sungguh?"
Sambil mengunyah makanannya, Qiao Qingyi mengangkat bahu. "Seperti yang kau lihat."
Mo Zhihan mendesis beberapa kali. "Tidak disangka Guru Muchuan ternyata memang sehebat dan menakutkan seperti rumor yang beredar! Cara licik seperti itu pun bisa dia pikirkan!"
Qiao Qingyi: "Kuperkirakan masih ada cara yang lebih licik lagi."
Mo Zhihan terus menggulir postingan tersebut dan berkata, "Postingan ini sudah ditonton sebanyak tiga puluh ribu kali..."
Ia mengangkat kepala dengan binar mata penuh geli. "Beserta lapangan sekolah besok pasti akan sangat meriah."
Qiao Qingyi langsung menyumpalkan sepotong paha ayam ke mulutnya. "Makan saja ayammu!"
...
Keesokan harinya.
Setelah seluruh kelas selesai untuk hari ini.
Guru Muchuan secara khusus memanggil Zhou Panxi dan Qiao Qingyi untuk datang bersama.
Setibanya di lapangan, tempat itu sudah dipadati oleh lautan manusia.
"Begitu banyak orang!" Zhou Panxi menggeretakkan giginya sambil menunjuk ke arah kerumunan. "Kalian semua, enyah dari sini!"
Para mahasiswa saling berpandangan. Tempramen Nona Muda Zhou sudah terkenal buruk, dan kemampuan berkelahnya pun berada di tingkat atas. Banyak sekali orang yang takut padanya.
Namun—namun kali ini mereka dilindungi oleh Guru Muchuan, jadi apa yang harus ditakuti?
Setelah dipikir-pikir, keberanian mereka bangkit. Mereka membusungkan dada dan melangkah mantap, menyambut tatapan Zhou Panxi tanpa rasa takut sedikit pun.
Zhou Panxi berkata dengan suara dingin, "Kalian semua, rasakan saja nanti!"
Seketika nyali mereka ciut kembali. Sekarang memang ada Guru Muchuan yang melindungi, tetapi bagaimana dengan nanti? Apakah di kemudian hari Zhou Panxi akan mencari kesempatan untuk balas dendam!?
Muchuan berkata dengan dingin, "Siswi Zhou Panxi! Kuharap kau bisa menjaga perkataan dan perbuatanmu selama berada di lingkungan sekolah!"
Zhou Panxi: "..."
Di lapangan luas yang disaksikan oleh seribu pasang mata, dua kuntum bunga kampus Mingda itu memulai lari mereka sambil membawa beban surat penyesalan sepanjang dua ribu kata.
"Aku, Zhou Panxi, seharusnya tidak berkelahi di sekolah."
"Aku tidak akan pernah berkelahi dengan Zhou Panxi lagi!"
"Tidak seharusnya aku melanggar aturan kedisiplinan kampus!"
"Aku tidak akan pernah berkelahi dengan Zhou Panxi lagi!"
......
Para mahasiswa yang menonton tertegun hingga terdiam.
Ya Tuhan, hukuman ini begitu kejamnya?
Sambil berlari sambil membaca surat penyesalan!?
Guru Muchuan berkata dengan tegas, "Keraskan suara kalian!"
Di dalam hatinya, Zhou Panxi merasa putus asa, namun ia terpaksa memperbesar volume suaranya. "Aku tidak seharusnya berkelahi dengan saudari Qiao Qingyi!"
Qiao Qingyi mengikuti dan memperbesar volume suaranya. "Aku tidak akan pernah berkelahi dengan Zhou Panxi lagi!"
Para mahasiswa di sekitar merasa ingin menonton pertunjukan, merasa kasihan, sekaligus tertawa terbahak-bahak.
Hukuman dua dewi kampus yang harus berlari sambil membaca surat penyesalan di lapangan ini benar-benar kejadian seumur hidup sekali!
Guru Muchuan benar-benar luar biasa, mampu menjinakkan penguasa sekolah Zhou Panxi, sekaligus memaksa dewi kampus Qiao Qingyi untuk ikut berlari bersama.
Setelah berlari sebanyak lima putaran di lapangan, surat penyesalan itu bahkan baru dibaca setengahnya.
Qiao Qingyi juga sudah mengucapkan kalimat "Aku tidak akan pernah berkelahi dengan Zhou Panxi lagi" tidak kurang dari seratus kali.
Di bawah teriknya matahari yang membakar, keduanya kehausan dan kelelahan, namun mereka tetap harus bertahan dan membacanya. Keringat bercucuran membasahi tubuh, dengan nada bicara yang terputus-putus.
Melihat langkah kaki mereka yang mulai melambat, Guru Muchuan berkata dengan suara tajam, "Lanjutkan! Tidak boleh berhenti!"
Mau tidak mau, kedua dewi yang selalu bersikap angkuh itu harus terus berlari di bawah teriknya matahari pagi, menanggung tatapan penuh antusias dari banyak orang yang sedang menonton, sambil terus membaca tanpa henti.
Seseorang merekam video tersebut dan mengunggahnya ke forum kampus.
Bahkan ada yang langsung membuka siaran langsung agar para mahasiswa yang tidak berkesempatan menonton secara langsung tetap bisa menyaksikannya.
Kurang dari setengah jam, forum tersebut langsung menjadi sangat populer!
Bahkan sempat menduduki peringkat ketiga dalam daftar pencarian tren.
#DuaDewiMingdaBerlariDiLapangan#
Orang-orang yang tidak tahu apa-apa merasa penasaran ketika melihatnya, mengapa mahasiswa Universitas Minghua berlari bisa masuk daftar pencarian tren?
Ketika mereka mengeklik dan melihatnya, seketika mereka tertawa terbahak-bahak.
Perasaan ini bagaikan para dewa yang turun dari singgasana mereka dan menjadi orang biasa. Dalam sekejap, hal itu menambah banyak kesan keakraban.
Dalam sekejap, kedua dewi tersebut menjadi pusat perbincangan semua orang.
Kedua orang yang bersangkutan tentu saja sama sekali tidak mengetahui hal ini.
Setelah selesai berlari, keduanya bermandi keringat dan bersandar pada pagar pembatas untuk beristirahat.
Melihat hal tersebut, para mahasiswa laki-laki maju sambil membawa botol air mineral dan menyerahkannya kepada mereka.
"Dewi, minumlah air mineral dariku untuk beristirahat sebentar!"
"Minum milikku saja!"
"Pergi sana! Minum milikku!"
Melihat tumpukan air mineral yang diletakkan di hadapan mereka, keduanya terdiam tanpa bisa berkata-kata.
Zhou Panxi benar-benar merasa kehausan setengah mati, jadi ia langsung menyambar botol air mineral terdekat dan meminumnya.
Lelaki yang memberikan botol itu bahkan berinisiatif membukakan tutup botolnya.
Lelaki itu berteriak dengan kesal, "Zhou Panxi! Air itu kuberi untuk Kakak Qingyi! Untuk apa kau meminumnya?"
Sudut bibir Zhou Panxi berkedut, lalu ia melirik Qiao Qingyi dengan dingin.
Qiao Qingyi menunjukkan ekspresi tak bersalah. "Bukan urusanku."
Guru Muchuan melipat tangan di dada, berdiri di luar kerumunan, menaikkan sebelah alisnya melihat dua orang yang begitu diperebutkan itu.
Setelah beberapa saat tinggal di sana, Muchuan pun berlalu pergi.