Bab 130: Bersiap untuk Kencan
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali.
Qiao Qingyi sudah bangun sejak dini hari.
Ia menyikat gigi, mencuci muka, berkumur, lalu merawat kulitnya.
Chenmu membuka pintu kamar Nona Besar, seperti biasa merapikan dan mengelompokkan barang-barang, kemudian membersihkan kamar.
Lalu ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Hari ini, Nona Besar tidak berbaring di dalam pod nutrisi.
Pakaian di dalam lemari juga berantakan.
Rak sepatunya pun tampak seperti baru saja diacak-acak seseorang.
Kotak perhiasannya kacau-balau. Sepasang anting perak mungil diletakkan di atas meja rias.
Di sisi ranjang tergantung sebuah gaun hitam, sementara sepasang sandal hitam berhak rendah tergeletak di bawahnya.
Chenmu menyipitkan mata sedikit. Dalam diam, ia merapikan lemari pakaian, lalu membereskan rak sepatu, kotak perhiasan, dan meja rias.
Qiao Qingyi keluar sambil mengoleskan krim wajah. Ia bahkan bersenandung riang, tampak sangat bahagia.
Dengan tatapan lembut, Chenmu tersenyum dan berkata, “Nona Besar ada janji hari ini?”
Qiao Qingyi mengedipkan mata. “Ya.”
Chenmu tahu ia tidak seharusnya bertanya lebih jauh. Namun, berkat nalurinya yang jauh lebih tajam daripada orang biasa, ia dapat menganalisisnya dengan tepat—Nona Besar sedang jatuh cinta.
Ia sangat penasaran, siapa yang bisa membuat suasana hati Nona Besar begitu ceria?
Belakangan ini, Nona Besar nyaris tidak pernah keluar rumah.
Ia juga hampir tidak pernah bertemu siapa pun, bukan?
Tidak… setiap hari ia hanya berbaring di dalam pod nutrisi.
Chenmu tampak terkejut. “Nona Besar mau bertemu teman dari internet?”
Qiao Qingyi merasa canggung. “Jangan asal menebak.”
Chenmu tersenyum. Ternyata tebakannya benar.
Qiao Qingyi bersandar di sisi lemari, menyilangkan tangan, lalu menatapnya dengan santai.
“Kau tidak boleh ikut.”
Chenmu terdiam sejenak. “…Tetapi aku harus memastikan keselamatanmu.”
Qiao Qingyi mengedipkan mata. “Aku sangat aman. Kau tidak perlu khawatir.”
Chenmu terdiam lagi. “…Baik.”
Dengan alis sedikit berkerut dan hati penuh kekhawatiran, ia turun ke lantai bawah.
…
Siang hari, pukul sebelas lewat tiga puluh, waktu makan siang.
Qiao Qingyi turun untuk makan.
Seluruh keluarga sudah duduk di meja makan.
Begitu melihatnya datang, Qiao Heguang segera melambaikan tangan.
Qiao Qingyi berjalan menuju meja makan lalu duduk.
“Xiaoqi, jangan terus-terusan tenggelam dalam permainan. Kau juga harus lebih sering keluar berjalan-jalan,” kata Ayah Qiao dengan sungguh-sungguh.
Qiao Qingyi hanya menjawab, “Oh.”
Xu Yunshu mengambilkan sepotong daging untuknya sambil tersenyum. “Qingyi, makanlah yang banyak. Lihat, tubuhmu kurus sekali.”
Qiao Qingyi terdiam.
Ia pun makan dengan patuh.
Xu Ruofeng menundukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di meja makan hanya terdengar bunyi mangkuk dan sumpit, serta suara orang-orang mengunyah.
Ayah Qiao meliriknya. “Hari ini kau berdandan cantik sekali. Mau pergi ke mana?”
Qiao Qingyi mengedipkan mata. “Aku sudah berjanji dengan Yaxi.”
Ayah Qiao mengangguk. “Kalau dengan gadis kecil dari keluarga Rong itu, Ayah juga tenang. Ingat, pulanglah lebih awal malam nanti.”
Qiao Qingyi mengerucutkan bibir. “Aku sudah bukan anak kecil lagi.”
Ayah Qiao mengetuk kepalanya dengan penuh kasih sayang. “Sebesar apa pun kau nanti, di mata Ayah, kau tetap seorang anak.”
Qiao Qingyi mengusap dahinya dan kembali mengerucutkan bibir.
Setelah makan selesai, Qiao Qingyi kembali ke kamarnya.
Ia duduk di depan meja rias, sementara jantungnya berdebar kencang.
Sungguh menegangkan.
Mereka akan segera bertemu.
Lebih dari sebulan yang lalu, mereka masih hanyalah teman asing di internet.
Ia masih ingat betapa congkaknya ia saat mengajak Dewa X, seorang pemain profesional, untuk bertanding dalam duel hidup dan mati.
Namun kini, mereka telah menjadi pasangan dalam permainan yang membuat iri semua orang.
Dunia memang penuh perubahan tak terduga.
…
Apakah ia menyukainya?
Mungkin… memang iya.
Qiao Qingyi menyentuh bagian dadanya, tepat di atas jantung.
Bagaimanapun juga, selama dua puluh tahun hidupnya, belum pernah sekalipun jantung itu berdebar sehebat hari ini.
Di depan cermin, ia mulai membentuk alis dan merias wajah dengan tipis. Ia mengenakan riasan yang halus, anggun, dan indah.
Wajahnya memang sudah cantik secara alami.
Setelah dirias, mengenakan lensa kontak, dan memulas lipstik, parasnya tampak semakin sempurna dan menawan.
Ia mengambil sebuah tas, lalu memasukkan tisu ke dalamnya.
Setelah berpikir sejenak, Qiao Qingyi mengambil sebuah payung hitam dari tempat rahasianya.
Ia mengusap payung itu dengan lembut.
Payung ini adalah payung yang pernah digunakan pria itu untuk melindunginya dari hujan.
Payung dari pertemuan mereka yang benar-benar pertama.
Namun, saat itu mereka justru saling melewatkan.
Qiao Qingyi mengangkat payung itu, lalu bersiap pergi.
Bibi Wu tersenyum. “Nona Besar, hendak pergi?”
Qiao Qingyi mengangguk. “Ya. Aku akan pulang malam nanti.”
“Baiklah! Hati-hati di jalan, Nona Besar.”
“Ya!”
Qiao Qingyi meninggalkan rumah.
Matahari menggantung tinggi di langit, memancarkan panas yang membara.
Ia membuka payung, lalu naik ke mobil sewaan daring.
“Pak, ke Alun-Alun Jinshan di Distrik Luohua.”
Sang pengemudi menjawab singkat.
Mobil pun perlahan melaju.
Qiao Qingyi menoleh ke belakang.
Sebuah mobil terus mengikuti mereka dari belakang.
Qiao Qingyi tersenyum tipis.
Ia sudah tahu Chenmu pasti tidak tenang, sehingga diam-diam mengikutinya.
Namun, ia punya banyak cara untuk melepaskan diri darinya.
“Pak, lewat Teluk Longcheng saja, ambil jalan memutar.”
“Namun, lewat Teluk Longcheng terlalu jauh.”
“Tidak apa-apa. Aku akan membayar lebih.”
“Baiklah!”
Maka, dua mobil itu pun memulai permainan kejar-kejaran.
Sesampainya di Teluk Longcheng, Qiao Qingyi segera berkata, “Pak, belok kiri, lalu belok kanan. Setelah sampai di dekat pohon flamboyan, belok kiri lagi, lalu percepat dan masuk ke jalan tol.”
Qiao Qingyi mengucapkan banyak petunjuk dengan cepat.
Untunglah pengemudinya cerdas. Ia berhasil berbelok ke kiri dan kanan dengan sangat tepat, lalu langsung masuk ke jalan tol di dekat sebatang pohon flamboyan dan mempercepat laju kendaraan.
Chenmu mengerutkan kening.
Ia kehilangan jejaknya?
Setelah berhasil melepaskan diri dari Chenmu, Qiao Qingyi pun dengan santai bersiap pergi berkencan.
Mobil itu memasuki Alun-Alun Jinshan.
Qiao Qingyi membayar dua ratus yuan kepada pengemudi, kemudian turun.
Di depan Alun-Alun Jinshan, suasananya sangat ramai. Orang-orang berlalu-lalang, memenuhi tempat itu dengan kegaduhan dan semarak.
Sambil membawa payung, Qiao Qingyi perlahan memasuki pusat perbelanjaan di dalam alun-alun.
“Anda mendapat pesan baru.”
Qiao Qingyi membuka ponselnya dan melihat layar.
Xu Mobei telah mengirimkan lokasi secara langsung melalui WeChat.
Qiao Qingyi pun membagikan lokasinya kepada pria itu.
Di peta WeChat, ikon mereka berdua perlahan saling mendekat.
Jantung Qiao Qingyi kembali berdebar.
Ikon mereka terus bergerak mendekat, sedikit demi sedikit.
Qiao Qingyi menatap ponselnya tanpa berkedip.
Di peta, jarak mereka hanya tersisa 536 sentimeter.
Qiao Qingyi tanpa sadar mengangkat kepala dan memandang ke tengah kerumunan.
Di mana dia?
Qiao Qingyi berjalan perlahan ke depan. Sambil melihat peta di ponselnya, ia mengamati sekeliling.
Ia berpikir, setelah pernah bertemu dengannya sebelumnya, ia pasti akan langsung mengenalinya saat melihatnya.
Pria itu pasti memiliki sepasang mata hitam seindah lukisan, dengan cahaya bintang memenuhi tatapannya.
Ia akan tersenyum lembut kepadanya. Senyumnya pasti seperti angin sepoi-sepoi yang membelai, lembut bagai gerimis yang turun tanpa henti.
Ia pasti akan melangkah dengan tenang dan mantap ke arahnya.
Semua itu pasti dapat ia kenali.
Qiao Qingyi berdiri di tengah Alun-Alun Jinshan, menoleh ke kiri dan kanan.
Payung yang dipegangnya adalah payung yang pernah diberikan pria itu kepadanya pada hari hujan.
Pria itu pasti akan mengenali payung ini dengan tepat.
Matahari bersinar terik, sementara suara keramaian memenuhi udara.
Di tengah Alun-Alun Jinshan terdapat kolam air yang sangat besar. Di atasnya berdiri patung seorang perempuan cantik berukuran raksasa.
Di sisi kolam tumbuh bunga matahari berwarna-warni, tampak begitu indah.
Dalam pandangan Qiao Qingyi, di dekat kolam, di balik patung itu, seorang pria perlahan muncul dan berjalan ke arahnya.
Langkah Qiao Qingyi seketika terhenti. Ia menggenggam payung erat-erat, menatap pria itu tanpa berkedip.
Ia mengenalinya.
Matahari membara, sementara aroma bunga memenuhi udara.
Kemeja putihnya bersih dan rapi. Tubuhnya tinggi serta tegap.
Disinari cahaya matahari yang sakral, ia tampak seolah-olah baru saja keluar dari sebuah lukisan.
Sepasang mata indahnya dipenuhi cahaya bintang. Bentuk bibirnya menyerupai kelopak bunga, dengan sudut yang sedikit terangkat.
Jantung Qiao Qingyi tiba-tiba berdegup keras.
Dalam sekejap, seseorang berlari cepat dan mendorong Qiao Qingyi.
Qiao Qingyi terhuyung, lalu tertegun. Ketika menunduk, ia mendapati ponsel di tangannya telah lenyap.
Ia menelan kembali sumpah serapah yang hampir terlontar, lalu berteriak marah, “Tangkap pencurinya!”