Bab 40: Apakah Kau Berminat Mendirikan Serikat Bersamaku?
Meskipun Qiao Qingyi makan dengan cepat, caranya makan tetap anggun, memperhatikan etika pada detail-detail tertentu. Rupanya ia berasal dari keluarga besar yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Mo Cheng Qingbai menarik kembali pandangannya tanpa terlihat jelas.
Tak butuh waktu lama, makan siang mereka pun habis disantap oleh tiga orang dan seekor kelinci. Setelah selesai makan, Mo Cheng Qingbai tiba-tiba bertanya, "Qingyi."
Qiao Qingyi yang baru saja kenyang mulai mengantuk, mengusap matanya dan menatap dengan pandangan sayu, "Hm?"
Mo Cheng Qingbai menatapnya dengan tenang, namun dalam hatinya serasa bunga-bunga bermekaran. Begitu menggemaskan! Begitu manis! Ingin sekali mencubit pipinya!
Walau hatinya berkata demikian, wajahnya tetap tampak tenang dan bersahaja.
"Apa kamu tertarik membantuku mendirikan serikat?" tanya Mo Cheng Qingbai sambil tersenyum.
Qiao Qingyi hanya menanggapi singkat, "Serikat, ya?"
Ia menunduk, berpikir sejenak, lalu dengan cepat menggeleng, "Tidak mau! Aku sudah terbiasa hidup bebas, tidak ingin punya urusan dengan serikat."
Mo Cheng Qingbai diam-diam merasa kecewa, namun ia tidak menyerah. Ia hanya tersenyum tipis, "Kamu tidak mau bergabung dengan serikat karena serikat membatasi kebebasanmu?"
Qiao Qingyi mengangguk, "Aku main game supaya bisa bebas, santai, melakukan apa pun yang aku mau. Kalau kebebasan itu dibatasi, tak asyik lagi rasanya."
Mo Cheng Qingbai kembali tersenyum, "Bergabunglah dengan serikatku, kamu hanya perlu nama saja."
Qiao Qingyi menaikkan alisnya, matanya sedikit berbinar, "Serius nih?"
Mo Cheng Qingbai membujuk, "Serius."
Qiao Qingyi cemberut, "Aku nggak percaya!"
Mo Cheng Qingbai hanya bisa terdiam.
Qiao Qingyi kembali tersenyum, "Tapi, karena kita sudah seperti saudara, baiklah, aku setuju."
Tiga tanda tanya memenuhi benak Mo Cheng Qingbai.
Saudara?
Ia merasa bingung.
Mo Cheng Qingbai merasa sedikit tersinggung, tapi tak bisa mengungkapkannya pada Qiao Qingyi!
Ekspresinya pun menjadi sedikit dingin, alisnya berkerut, bahkan matanya yang biasanya bening kini terlihat dingin.
Sang pendekar berbaju putih itu duduk kaku di tempatnya, bibir terkatup rapat. Bahkan seekor babi pun bisa tahu, ia sedang bad mood.
Qiao Qingyi menatapnya heran, "Kamu nggak senang ya?"
Mo Cheng Qingbai dalam hati berkata, "Aku sedih, tapi aku tidak bisa bilang."
Tatapan Qiao Qingyi penuh rasa kesal, "Kamu laki-laki, baper banget sih!"
Mo Cheng Qingbai hanya bisa terdiam.
Hari ini pun, aku kembali dicuekin oleh Qingyi.
Sungguh menyenangkan.
Qiao Qingyi berkedip, menarik ujung bajunya, lalu memiringkan kepala, bicara lembut, "Sudahlah, jangan sedih lagi."
Tatapan Mo Cheng Qingbai pun sedikit berbinar, hawa dinginnya perlahan menghilang.
Qingyi menenangkannya. Qingyi sungguh menggemaskan!
Ia kembali ke wajah biasanya, "Aku tidak apa-apa."
Qiao Qingyi mencibir, padahal tadi jelas-jelas murung. Benar kata pepatah, hati lelaki seperti jarum di dasar lautan.
Mo Cheng Qingbai menatap Qiao Qingyi, matanya yang seperti obsidian menatap tajam, penuh kesungguhan, "Qingyi."
Qiao Qingyi kali ini menurut, mengangguk, "Hm?"
Ekspresi Mo Cheng Qingbai tetap biasa saja, hanya saja matanya seolah memancarkan cahaya, membuat jantung Qiao Qingyi berdegup.
Ia pun berkata, "Kamu saja yang jadi ketua serikat."
Qiao Qingyi membuka mulut hendak menolak, lalu menggeleng.
Mo Cheng Qingbai tersenyum tipis, "Aku wakil ketua, semua urusan aku yang urus."
Qiao Qingyi sedikit malu, "Waduh, nggak enak dong."
Ia berpikir sejenak, lalu berkata sungguh-sungguh, "Kalau sudah janji mau mendirikan serikat bersamamu, aku tak akan benar-benar diam saja. Jabatan ketua tetap kamu saja, kasih aku posisi yang santai saja."
Mo Cheng Qingbai menggeleng, "Kalau aku jadi ketua, kamu jadi istri ketua. Tentu saja tidak bisa sembarangan kasih jabatan padamu."
Qiao Qingyi terdiam. Benar juga sih, tapi kenapa jadi bikin wajah panas begini.
Mo Cheng Qingbai menahan senyum, "Kamu jadi wakil ketua saja."
Akhirnya Qiao Qingyi menyerah, "Baiklah."
Mo Cheng Qingbai bertanya, "Ada saran nama bagus untuk serikatnya?"
Qiao Qingyi memandang matanya, menumpu dagu dengan kedua tangan, termenung sejenak.
Mo Cheng Qingbai pun menatap balik. Wajah itu, berapa kali pun dilihat tak pernah bosan, sungguh menawan, sekali lihat tak mudah dilupakan.
Kalau bukan karena itu, mana mungkin ia yang begitu tergila-gila pada wajah cantik dan gadis muda bisa tertarik.
Mata Qiao Qingyi bersinar, "Bagaimana kalau 'Lukisan Tinta Pegunungan Hijau'?"
Mata Mo Cheng Qingbai juga berbinar, ia menggumamkan nama itu, 'Lukisan Tinta Pegunungan Hijau', nama yang bagus, yang terpenting mengandung unsur 'Mo' dari namanya dan 'Qing' dari Qingyi.
Sungguh indah didengar.
Suara langkah terdengar dari luar pintu.
Kemudian, terdengar ketukan.
Qiao Qingyi menatap ke arah luar ruangan dengan bingung.
Mo Cheng Qingbai dengan tenang berkata, "Anggota timku sudah datang."
Qiao Qingyi mengangguk singkat.
Pintu pun terbuka.
Luo Luo Feichen masuk lebih dulu, melihat sisa-sisa makanan yang sudah habis di meja, mulutnya langsung menganga, "Astaga! Kak Mo Bai! Kalian nggak sisain makanan sedikit pun buat kami!"
Ke Xin'er masuk kemudian.
Qiao Qingyi memandangi penyihir dari bangsa langit itu dengan santai dan malas.
Ia mengenakan jubah panjang putih, tepian kerahnya dihiasi awan sulam dari benang hitam, model pundak terbuka itu semakin menonjolkan tulang selangka yang indah seperti kupu-kupu.
Wajah itu juga begitu menawan, pipinya merona, bibirnya merah alami tanpa polesan. Namun, di matanya selalu terbersit cahaya sendu.
Cantik memang, tapi tetap terasa ada yang kurang.
Qiao Qingyi tersenyum menggoda, "Ternyata di sini juga ada perempuan cantik ya, Xiao Bai?"
Mo Cheng Qingbai mengangguk singkat, memperkenalkan dengan serius, "Ini pejuang dari bangsa manusia, Luo Luo Feichen, anggota tim Mo Bai. Dan ini penyihir dari bangsa langit: Ke Xin'er, anggota tim Mo Bai juga."
Luo Luo Feichen menatap takjub pada gadis kecil berbaju ungu itu. Gaunnya yang mewah nyaris membuat matanya silau, ia pun berkata dengan penuh semangat, "Feng Qi! Jadi kamu Feng Qi! Sama seperti rumor, benar-benar cantik! Seperti bidadari!"
Qiao Qingyi sangat menikmati pujian itu, orang ini memang pandai bicara. Ia tersenyum sambil menyipitkan mata, terlihat santai, lalu mengulurkan tangan, "Halo, Luo Luo Feichen."
Luo Luo Feichen dengan antusias membalas jabatan tangan itu, jelas sekali ia sangat gembira bisa bertemu Feng Qi, "Kamu nggak tahu, semua orang kira kamu laki-laki. Tiba-tiba kamu mengumumkan identitasmu, semua orang kaget, idola mereka ternyata cewek!"
Saat Luo Luo Feichen terus memuji, wajah Mo Cheng Qingbai justru menegang.
Ia melirik tangan Luo Luo Feichen yang masih menggenggam tangan Qiao Qingyi, lalu menatap tajam, kemudian berkata dengan senyum, "Feichen, duduklah."
Luo Luo Feichen langsung duduk dengan senang hati, masih ingin banyak bicara dengan Feng Qi.
Sementara itu, Ke Xin'er menatap Qiao Qingyi dengan pandangan yang lama.
Ia tersenyum ramah, mengulurkan tangan, "Halo, Qingyi, senang sekali bertemu denganmu."
Qiao Qingyi tidak membalas jabatan tangan itu. Meski wanita ini terlihat ramah, tetap saja ia merasa ada sesuatu yang tidak tulus. Pada orang yang tidak disukainya, Qiao Qingyi memang ogah berlama-lama, jadi ia hanya tersenyum malas dan mengangguk pelan.
Ke Xin'er menarik kembali tangannya yang menggantung di udara tanpa sedikit pun rasa canggung, lalu duduk di sebelah Mo Cheng Qingbai dan tersenyum manis, "Kak Mo Bai."