Bab 72: Jarak Terjauh di Dunia
Qiao Qingyi berjalan tanpa tujuan untuk waktu yang lama.
Dia sendiri tak tahu hendak ke mana. Ia hanya tahu, setiap kali menghadapi situasi seperti ini, ia hanya ingin menyendiri. Alasannya sederhana: ia tidak ingin ada orang lain yang melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.
Ia pun tidak ingin merasa sesedih ini, namun apa daya, perasaan itu datang begitu saja, tanpa tanda-tanda. Kematian ibunya adalah duri abadi yang tertancap di lubuk hatinya, duri yang ikut menemani sepanjang hidupnya. Duri itu tak bisa ia lupakan walaupun memaksa, dan ketika ingin tegar menghadapinya, ia tetap tak sanggup. Satu-satunya cara menenangkan diri hanyalah dengan hipnosis dari Chen Mu.
Jika tidak, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan saat kehilangan kendali.
Tanggal dua puluh sembilan Juli, tepat di puncak musim panas. Saat itulah suhu paling tinggi sepanjang tahun. Matahari menggantung tinggi, panasnya membakar bumi, bahkan angin yang berembus pun terasa gerah dan menyesakkan.
Orang-orang di jalan, meski sepanas apapun, tetap memakai pakaian pelindung dari sinar matahari. Kalau tidak ada, mereka pasti telah menyemprotkan tabir surya. Kalau tidak, kulit yang halus dan lembut itu akan terbakar di bawah sinar mentari.
Qiao Qingyi terus melangkah hingga matanya tertumbuk pada spanduk iklan di depan pusat perbelanjaan: "Festival Qixi, berbagai acara menarik, bersama orang yang kau cintai."
Qiao Qingyi baru teringat.
Ulang tahunnya sebentar lagi.
Ia lahir di hari Qixi, hari pertemuan Gembala dan Gadis Penenun, hari yang begitu indah. Karena itu, ibunya memberinya nama kecil: Xiao Qixi.
Ayah Qiao memanggilnya Xiao Qixi, Paman Lu memanggilnya Qixi, sedangkan Rong Yaxi menyapanya Qiqi.
Itulah nama-nama panggilannya.
Namun, pada hari ulang tahunnya itu pula...
Qiao Qingyi menghela napas, memaksa diri mengalihkan pikiran. Ia terus berjalan tanpa arah, hingga akhirnya tersesat.
Tiba-tiba, gemuruh petir menggelegar di langit. Hujan deras turun mengguyur bumi, membasahi jalanan dan orang-orang yang melintas.
Banyak orang buru-buru berlari mencari tempat berteduh.
Qiao Qingyi menoleh ke kiri dan kanan. Ia mendapati dirinya berada di tanah lapang, tak ada tempat berlindung dari hujan.
"Sial," makinya pelan. Begitu membuka mulut, air hujan langsung masuk ke dalamnya.
Ia mengeluarkan ponsel, hendak menelepon Chen Mu.
Namun derasnya hujan membuat ponselnya basah kuyup, layar sentuhnya tak lagi berfungsi, tak mau menuruti kemauannya.
Qiao Qingyi mencoba berulang kali, tetap saja gagal menghubungi Chen Mu.
"Sial!" Ia mengumpat lagi. Seluruh tubuhnya sudah basah, rambutnya pun lepek menempel di kepala.
Ia sudah tak peduli lagi, hanya bisa berlari sekuat tenaga mencari tempat berteduh.
Namun jalan yang licin dan sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuatnya tersandung dan terjatuh, lututnya terluka.
Qiao Qingyi tergeletak di pinggir jalan, meringis menahan sakit, lalu tersenyum getir. Barangkali cuma ia yang seapes ini.
Lalu, sebuah payung terbuka di atas kepalanya, melindunginya dari hujan.
Qiao Qingyi tertegun.
Di depannya, sepasang kaki panjang berhenti melangkah.
Ia menengadah.
Laki-laki itu tinggi, sekitar seratus delapan puluh lima sentimeter, mengenakan kemeja putih. Tubuhnya tegap dan ramping. Wajahnya tampan dan sempurna, matanya dingin dan tak ramah.
Ia mengulurkan tangan.
Qiao Qingyi, masih linglung, menyambut tangan itu dan berbisik, "Terima kasih."
Xu Mobai menatap gadis di depannya. Ia tampak sangat kacau dan sial. Keluar rumah malah kehujanan, jatuh hingga lututnya terluka.
Tapi ia tidak menangis.
Padahal rambut dan bajunya basah, lututnya berdarah.
Gadis lain pasti sudah menangis.
Xu Mobai menyerahkan payung padanya.
Qiao Qingyi berkedip, "Lalu kau bagaimana?"
Xu Mobai tiba-tiba merasa, tatapan mata gadis itu sangat familiar. Ia tersenyum samar, "Aku tidak apa-apa."
Qiao Qingyi ikut tersenyum, "Bagaimana kalau kita berteduh bersama di mal terdekat?"
Xu Mobai menggeleng, "Tidak usah, aku ada urusan mendesak. Payung ini untukmu saja."
Ia menyerahkan payung itu, lalu berlari menerobos hujan.
"Halo—" Qiao Qingyi berbalik, ingin menanyakan nomor kontaknya, tapi lelaki itu sudah menjauh.
Ia hanya bisa menatap tanpa daya.
Qiao Qingyi menghela napas, "Sudahlah, kalau berjodoh pasti akan bertemu lagi."
Xu Mobai berlari, namun pandangan mata gadis itu terus terbayang di benaknya.
Ia merasa, tatapan dan gerakan itu sangat akrab. Di mana ia pernah melihatnya?
Xu Mobai mendadak teringat sesuatu, langkahnya terhenti. Wajahnya berubah suram.
Sial!
Seharusnya ia sudah sadar sejak tadi!
Xu Mobai berbalik dan berlari kembali ke tempat semula.
Tapi gadis itu sudah pergi.
Hatinyanya terasa dingin dan kecewa yang datang bertubi-tubi.
Ia seharusnya tahu, hanya dia yang memiliki mata seindah itu!
Juga suara lembut dan manja yang sangat ia kenal!
Xu Mobai menyesal, tadi seharusnya ia menyapanya sambil tersenyum, "Qingyi, halo, aku Mobai dari Kota Mo."
Dengan begitu, segalanya mungkin saja terjadi—
Namun sekarang, mereka malah saling melewatkan.
Ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat.
...
Chen Mu mengendarai mobil, menjemput Qiao Qingyi yang basah kuyup dan membawanya pulang.
Qiao Qingyi turun dari mobil, membawa payung hitam itu.
Chen Mu tersenyum lembut, "Biar aku simpan payungnya."
Qiao Qingyi berkedip, "Tidak usah, simpan saja di kamarku."
Hanya sebuah payung. Chen Mu merasa aneh, tapi tetap tersenyum dan mengangguk, "Baiklah."
Setibanya di kamar, usai mandi air hangat, Qiao Qingyi mengenakan piyama, menyalakan pendingin ruangan, duduk di atas karpet lembut, memperhatikan payung itu.
Payung hitam dengan pola sederhana, tampak biasa saja, tapi Qiao Qingyi begitu menyukainya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering.
Tertulis: White.
Qiao Qingyi bingung, namun tetap mengangkat, "Xiao Bai?"
Dari seberang, Xu Mobai berbicara di tengah derasnya hujan, "Kau sudah sampai di rumah?"
Qiao Qingyi merasa aneh, tapi tetap menjawab, "Baru saja tiba." Lalu ia sadar, "Kenapa kau menanyakan itu?"
Xu Mobai tertawa pelan, "Barusan aku memberi payung pada seorang gadis."
Hati Qiao Qingyi berdebar. Ia menatap payung itu dengan heran. Benarkah kebetulan seperti ini ada? Ia menjawab kaku, "Apa... payung hitam?"
Xu Mobai menjawab, "Iya, di pegangan payung itu terukir satu kata: ‘Bai’."
Qiao Qingyi segera memeriksa. Benar saja, ada huruf itu. Ia terpaku, campuran antara terkejut dan gembira, "Jadi tadi itu kau! Kau yang memberikan payung ini padaku."
Xu Mobai tertawa kecil, berpura-pura tidak tahu, "Oh ya? Dunia ini ternyata sekecil itu."
————
Jarak terjauh di dunia ini.
Bukanlah antara hidup dan mati.
Melainkan saat aku berdiri di hadapanmu.
Namun kau tak mengenaliku.