Bab 8: Benturan Tak Terelakkan
Halaman (1/3)
Sampai di sini, wanita tua itu menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
"Cucu kesayanganku, nenek selalu paling menyayangimu sejak kecil, kamu tidak boleh menelantarkan nenek seperti orang-orang tak tahu diri itu..."
Paling menyayangiku sejak kecil? Aku tidak tahu bagaimana dia sanggup mengucapkan kata-kata seperti itu.
Namun, melihat usianya yang sudah senja dan nasibnya yang begitu malang, mau tak mau aku merasa iba.
"Bukannya kau seorang dukun sakti? Meskipun sudah tidak punya uang, kau tidak seharusnya sampai semalang ini. Ke mana perginya kemampuanmu?"
Wanita tua itu menepuk-nepuk kakinya sambil menggelengkan kepala berkali-kali.
"Aduh cucuku sayang, lihatlah keadaan nenek sekarang, mana terlihat seperti dukun sakti."
Aku membatin, ada benarnya juga. Pepatah mengatakan rupa mencerminkan martabat. Orang mungkin percaya seorang nenek yang berpakaian rapi adalah dukun sakti, tetapi siapa yang akan melirik pengemis tua seperti ini?
Tanpa menunggu aku atau Liu Shiyao bicara, wanita tua itu dengan santainya mengambil beberapa bakpao dan menuang secangkir teh hangat.
Sambil makan, dia berkata, "Cucu kesayanganku sekarang sudah sukses ya. Eh, gadis ini cantik sekali, pasti kekasih cucuku, ya? Kalau begitu dia cucu menantuku nanti, bagus sekali..."
Terlihat jelas wanita tua itu ingin kami menampungnya, tetapi Liu Shiyao dengan wajah datar berkata, "Setelah kenyang, segera pergi dari sini."
Wajah wanita tua itu seketika berubah masam.
"Aduh, gadis ini kenapa berhati batu sekali? Sia-sia saja punya wajah cantik. Di usia setua ini, kalau tidak ikut cucuku, aku mau ke mana lagi?"
Melihat Liu Shiyao sama sekali tidak menggubrisnya, wanita tua itu kembali menangis tersedu-sedu dan menerjang ke hadapanku.
"Huwang, nenek mengakui dulu nenek sudah pikun dan memperlakukanmu dengan buruk, tapi bagaimanapun aku ini nenekmu. Tanpa aku, mana mungkin ada ibumu, dan tanpa ibumu, mana mungkin ada dirimu. Di cuaca sedingin ini, tegakah kau mengusir nenek?"
Aku merasa serba salah, melirik Liu Shiyao dari sudut mataku.
Jangan salah, meski sudah lanjut usia, mata wanita tua itu sangat tajam. Manik matanya berputar dengan licik.
Halaman (2/3)
"Hah, dalam sebuah rumah tangga, pada akhirnya tetap harus mengandalkan pria. Tanpa Huwang, kau yang lumpuh ini bisa bertahan hidup?"
Mendengar itu, mata Liu Shiyao memerah karena marah. Aku tahu kontribusi Liu Shiyao bagi keluarga ini tidak kalah dariku, jadi aku bergegas menengahi agar wanita tua itu berhenti bicara sembarangan.
Namun, Liu Shiyao tampaknya mengerti isi hatiku dan berkata dengan dingin, "Aku tidak peduli lagi. Kalau kau ingin membiarkannya tinggal, silakan saja."
Aku tidak keberatan ada satu mulut lagi yang harus diberi makan, hanya saja wanita tua itu sepertinya tidak cocok dengan Liu Shiyao. Sejak dia datang, mereka berdua selalu berselisih.
Biasanya mereka tinggal di kamar masing-masing, bahkan tidak makan di meja yang sama.
Liu Shiyao ingin mengusir wanita tua itu, dan wanita tua itu juga ingin mengusirnya. Hal ini membuatku terjepit dan merasa sangat sulit.
Hari-hari berikutnya, Liu Shiyao tetap sibuk membolak-balik buku usang itu setiap hari.
Karena aku buta huruf, dia tidak terlalu waspada terhadapku, tetapi dia tidak pernah membiarkan wanita tua itu menyentuh buku tersebut.
Wanita tua itu mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan, dan berkali-kali mencoba mengintip, namun selalu gagal.
Mengenai wanita tua itu, aku sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi saat dia membantu orang mengatur feng shui dulu.
Mengapa setelah pulang dia harus memalsukan kematian dengan teknik penghentian napas, dan siapa sebenarnya Bos Feng yang memanggilnya itu?
Setiap kali aku menyinggung hal ini, wanita tua itu selalu sengaja mengalihkan pembicaraan.
Dia beralasan usianya sudah tua, tidak punya energi untuk mengurus masalah feng shui, dan ingatannya buruk, sehingga dia tidak ingat lagi apa yang terjadi di kediaman keluarga Feng.
Aku merasa baik Liu Shiyao maupun wanita tua itu sangat aneh, seolah-olah mereka berdua menyembunyikan sesuatu dariku.
Suatu malam, wanita tua itu tiba-tiba menarikku dengan penuh rahasia ke depan pintu kamar Liu Shiyao.
"Nenek, apa lagi yang sedang kau rencanakan? Besok aku harus berjualan pagi-pagi sekali."
Dia tiba-tiba berbisik, "Cucu sayang, wanita itu bukan orang baik, dia sedang membohongimu!"
Aku bingung mendengarnya, lalu dia melanjutkan, "Nanti kau juga akan tahu."
Halaman (3/3)
Sambil berkata begitu, dia langsung mendorong pintu dan masuk ke kamar Liu Shiyao. Tak disangka, dia masih berada di bawah lampu sambil membolak-balik buku usang itu.
Wanita tua itu melangkah maju dan tanpa basa-basi langsung menyingkap selimut di tempat tidur Liu Shiyao.
Terlihat dia mengenakan baju tidur, dan di balik baju itu tampak dua kaki putih yang mulus.
Meskipun aku biasanya mengurus kebutuhan sehari-harinya, Liu Shiyao adalah orang yang sangat tertutup dan tidak pernah memperlihatkan tubuhnya di depanku.
Wajahku seketika memerah, sementara wanita tua itu tampak sangat puas di sampingku.
Liu Shiyao tetap tenang, bahkan tidak bertanya mengapa wanita tua itu tiba-tiba menyingkap selimutnya.
Dia hanya berkata dengan lembut, "Sudah puas melihatnya? Perlu kubuka juga pakaian yang melekat di tubuhku?"
Aku panik, bergegas menutupinya dengan selimut, lalu menarik wanita tua itu keluar kamar.
Aku merasa sangat kesal.
"Apa sebenarnya yang ada di pikiran nenek seharian ini? Bisakah nenek tidak membuat masalah? Jika nenek terus berulah seperti ini, aku benar-benar akan mengusir nenek!"
Wanita tua itu justru berkata, "Aduh, cucuku yang bodoh, apa kau tidak menyadarinya?"
Aku sangat bingung.
"Menyadari apa?"
"Kakinya."
Aku teringat pemandangan tadi dan wajahku kembali memerah. Aku membatin, kau benar-benar orang tua yang tidak tahu malu, meskipun Liu Shiyao lumpuh, aku tidak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Namun, melihat tatapan mata wanita tua itu yang begitu yakin, aku tiba-tiba tersadar. Benar juga, kaki Liu Shiyao memang terasa ganjil.