Bab 11
Halaman (1/3)
Belum lama pelajaran terakhir sore itu dimulai, Wu Sili kembali menerima pesan dari Zuo Kerang.
Dia memberi tahu bahwa sedang ada sedikit urusan, sehingga tidak akan sempat tiba di sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Wu Sili diminta pulang sendiri; kalau naik taksi, dia harus mengirimkan nomor pelatnya.
Zuo Kerang tidak mengatakan sedang pergi melakukan apa, dan Wu Sili juga tidak bertanya. Dia hanya membalas dengan satu kata yang sama: “Hmm.”
Sepulang sekolah, Wu Sili berjalan searah dengan Zou Niantong untuk beberapa waktu. Mereka mengikuti arus orang menuju luar gedung pengajaran, lalu berpisah di persimpangan. Saat itu adalah jam pulang kerja, orang-orang ada di mana-mana. Para siswa berkelompok-kelompok menuju luar sekolah, dan Wu Sili berbaur di antara mereka.
Bus nomor dua puluh sembilan yang menuju apartemennya kebetulan tiba di halte. Namun, dia tidak naik. Dia hanya berdiri tanpa tujuan, memandangi satu rombongan demi satu rombongan orang menaiki bus. Sebelum senja benar-benar turun, akhirnya dia menaiki bus yang tujuan akhirnya adalah kawasan kota tua.
Untuk sementara, dia tidak ingin kembali ke apartemen, juga tidak ingin pergi ke rumah sakit. Setiap kali Wu Sili menjenguk Wu Siming pada malam hari, selama Zuo Kerang berada di Kota Ning, dia akan selalu menemaninya. Jika sedang tidak berada di Kota Ning, dia juga akan memberi tahu Wu Siming dan berpesan agar Wu Siming melaporkan kepadanya dengan tepat kapan Wu Sili tiba di rumah sakit dan kapan dia meninggalkannya.
Kalau malam ini dia pergi ke rumah sakit sendirian, Wu Siming pasti akan menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Sekitar setengah jam kemudian, Wu Sili turun dua halte sebelum kawasan kota tua.
Di sana juga terdapat deretan bangunan tempat tinggal. Setiap bangunan hanya terdiri atas empat lantai, dan usianya sudah cukup tua. Beberapa retakan tampak pada dinding, tidak sampai mengganggu tempat itu untuk dihuni, hanya saja memang kurang sedap dipandang. Namun, tepat di seberangnya berdiri sebuah sekolah menengah pertama unggulan, sehingga nilai rumah di kawasan zonasi sekolah jauh lebih tinggi daripada segala hal lainnya.
Pada jam seperti ini, sekolah baru saja usai. Para siswa laki-laki dan perempuan berseragam berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Setiap keluarga mulai menyiapkan makan malam. Karena cuaca panas, jendela-jendela terbuka, dan suara minyak yang mendesis saat penghuni lantai satu menumis masakan terdengar jelas sampai ke telinga.
Wu Sili berjalan lurus menuju gedung kedua dari belakang di kompleks itu. Dia naik ke lantai tiga, lalu mengeluarkan kunci dari dalam tas dan memasukkannya ke lubang kunci di pintu sebelah kanan.
Inilah rumahnya, tempat dia tinggal sejak kecil.
Sudah lama dia tidak datang. Selain perabot-perabot yang tertutup lapisan debu, semuanya masih seperti dulu.
Wu Sili berkeliling melihat-lihat seisi rumah. Karena tidak ada kegiatan lain, dia meletakkan tas jinjingnya, mencari selembar handuk untuk dijadikan kain lap, lalu mulai membereskan rumah.
Jika seseorang sibuk mengerjakan sesuatu, waktu terasa berlalu dengan cepat. Saat dia selesai membersihkan seluruh ruangan, baik bagian dalam maupun luar, langit di luar jendela telah sepenuhnya gelap.
Ponsel yang diletakkan di atas lemari televisi menyala. Di layarnya muncul deretan angka yang sudah dikenalnya.
Nomor ponsel Zuo Kerang. Dia tidak menyimpannya dengan nama apa pun, tetapi dia mengingatnya.
Begitu panggilan tersambung, pintu diketuk. Dari sambungan telepon terdengar suara Zuo Kerang yang tak terbaca emosinya.
“Buka pintu.”
Pintu terbuka. Yang satu berada di dalam, yang satu lagi di luar. Tatapan mereka bertemu. Zuo Kerang berdiri di lorong sempit yang agak sesak, lalu mengulurkan tangan kepadanya.
“Pergi. Kita pulang.”
Zuo Kerang bisa langsung menemukan tempat ini, dan Wu Sili sama sekali tidak terkejut. Ponsel mereka berdua mengaktifkan berbagi lokasi, jadi bagi Zuo Kerang, memastikan keberadaannya bukanlah hal yang sulit.
Bagaimanapun juga, pada akhirnya dia akan tetap pergi bersamanya. Wu Sili tidak membuang waktu. Dia mengambil tas, menyelipkan tangannya ke telapak tangan Zuo Kerang, lalu dituntun olehnya menuruni tangga.
Lorong itu tidak cukup lebar untuk dilewati dua orang berdampingan. Zuo Kerang berjalan di depan, Wu Sili di belakang. Zuo Kerang bertanya apakah perutnya sakit. Pertanyaan itu sudah dia ajukan tiga kali lewat pesan, dan setiap kali Wu Sili menjawab hal yang sama: tidak sakit.
Suara langkah kaki mereka terdengar berselang-seling. Zuo Kerang mengusap punggung tangan Wu Sili dua kali.
Dalam perjalanan kembali ke apartemen, mereka tidak lagi berbicara. Begitu turun dari mobil, Zuo Kerang kembali menggenggam tangan Wu Sili, lalu menyelipkan jari-jari mereka hingga bertaut erat.
Setelah pemindai sidik jari mengenali mereka dan pintu terbuka, lampu di dalam sudah menyala. Bahkan sebelum sempat mengganti sandal, mereka mendengar suara gonggongan anjing yang sangat lirih.
Begitu lirih hingga Wu Sili mengira dirinya salah dengar. Dia tidak terlalu memikirkannya, sementara Zuo Kerang juga tidak memberinya petunjuk apa pun. Namun, ketika sampai di ruang tamu, dia melihat sebuah kotak hadiah di samping meja kecil. Tingginya mencapai betis Wu Sili.
Tutup kotak itu tergeletak di lantai. Seekor anjing Samoyed putih salju menjulurkan kepalanya dari dalam. Kedua kaki depannya bertumpu pada tepi kotak, telinganya terkulai, dan tubuhnya yang gempal berdiri tegak lurus.
Langkah Wu Sili terhenti. Dia menatapnya.
Zuo Kerang melewatinya, lalu berjongkok dan mengusap kepala Samoyed yang berbulu lebat itu. Bersama si anjing, dia memandang Wu Sili.
“Mau kemari dan mengelusnya?”
Entah kebetulan atau bukan, Samoyed itu sangat kooperatif dan kembali menggonggong sekali.
Suara kekanak-kanakan itu membuat hati siapa pun terasa lembut.
Wu Sili tidak mampu menahan godaan. Dia mendekat dan mencubit bantalan salah satu kakinya. Zuo Kerang mengangkatnya dengan memegang tengkuk belakang, lalu meletakkannya ke dalam pelukan Wu Sili.
Tubuh kecil itu tengkurap di atas kedua kaki Wu Sili yang dirapatkan. Keempat kakinya berusaha keras menapak untuk berdiri. Setelah gemetar beberapa saat, usahanya berakhir dengan kegagalan dan dia kembali terjatuh.
Sudut bibir Wu Sili terangkat membentuk lengkungan tipis. Dia mengelusnya dari kepala sampai ekor.
Melihat Wu Sili tersenyum, suasana hati Zuo Kerang ikut membaik.
“Suka?”
Halaman (2/3)
Wu Sili mengangguk. “Kau yang membelinya?”
“Bukan,” jawab Zuo Kerang. “Aku minta dari kakak perempuan Duan Junpeng. Umurnya baru lewat sebulan beberapa hari.”
Pantas saja tubuhnya sekecil itu.
Wu Sili mengangguk untuk kedua kalinya dan tidak berkata apa-apa lagi. Seluruh pikirannya tertuju pada Samoyed itu. Gerakannya lembut, membuat si anjing merasa senang. Samoyed itu berguling, memperlihatkan perutnya, lalu berbaring patuh di lekuk paha Wu Sili dengan sudut bibir terangkat.
Zuo Kerang bergeser ke sampingnya hingga bahu mereka bersentuhan. Dia membuka percakapan dengan sengaja.
“Beri dia nama, dong. Dia masih belum punya nama.”
Wu Sili merenung sejenak, lalu menggeleng. Dia tidak pandai memberi nama.
“Kalau begitu, panggil saja Husky,” putus Zuo Kerang asal-asalan. “Dia juga suka tersenyum.”
“…”
Seekor Samoyed diberi nama yang merupakan sebutan untuk jenis anjing lain.
Wu Sili benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Untuk sesaat, dia bahkan lupa pada pertengkaran mereka. Tatapan yang dilayangkannya kepada Zuo Kerang penuh makna yang sulit diungkapkan.
Zuo Kerang memanfaatkan kesempatan untuk mencium bibirnya.
“Disuruh memberi nama, kau tidak mau. Aku yang memberi nama, kau juga tidak senang.”
“Kalau begitu, Husky saja.” Wu Sili tidak terlalu keberatan. “Toh, itu anjingmu.”
“Anjingmu.” Zuo Kerang menopang dagu dengan tangan, siku bertumpu pada lutut. “Aku sengaja memintanya untuk menghiburmu.”
Bulu mata Wu Sili berkedip pelan. Dia menundukkan pandangan, diam-diam mengusap bulu lembut Husky.
Ketika tangan Wu Sili menggaruk perut Husky, Zuo Kerang menjulurkan jarinya dan mengait salah satu jari Wu Sili. Ruang tamu yang luas itu menjadi hening. Husky mengeluarkan beberapa suara dengkuran puas tanpa beban.
Dalam keheningan itu, Wu Sili tiba-tiba teringat masalah pertama yang dibantu Zuo Kerang untuk diselesaikannya.
Ayah Wu Sili cukup berpandangan jauh ketika masih muda. Pada awal tahun dua ribuan, belum ada pembatasan pembelian rumah. Dia mengeluarkan seluruh tabungannya, ditambah pinjaman, lalu membeli tiga rumah di lokasi yang cukup baik di Kota Ning sekaligus. Salah satunya adalah rumah di kawasan zonasi sekolah, sementara dua lainnya disewakan. Setelah Wu Siming jatuh sakit, kedua rumah yang disewakan itu dijual.
Tiga bulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi, kedua orang tua Wu Sili membawa Wu Siming ke Jingbei untuk berobat. Dalam perjalanan pulang, mereka mengalami kecelakaan. Ibunya melindungi Wu Siming dengan mempertaruhkan nyawanya, sehingga Wu Siming berhasil selamat.
Belakangan, paman keduanya ingin merebut rumah itu agar anaknya sendiri bisa bersekolah di sana. Namun, berkat campur tangan Zuo Kerang, rumah itu akhirnya berhasil dialihkan ke nama Wu Sili.
Karena penyakit Wu Siming, hampir seluruh harta keluarga telah terkuras. Setelah pemakaman kedua orang tuanya selesai secara sederhana, seluruh tabungan yang tersisa hanya cukup untuk satu kali kemoterapi Wu Siming.
Ujian masuk perguruan tinggi sudah di depan mata, kedua orang tuanya telah meninggal, dan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa menderita penyakit parah. Saat itu, langkah Wu Sili terasa begitu berat. Jika tidak ada Zuo Kerang, mungkin dia bahkan tidak akan dapat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, dan hidupnya barangkali tidak akan menjadi seperti sekarang.
Orang-orang tua sering berkata bahwa setiap perolehan pasti disertai kehilangan. Ketika dia mendapatkan sesuatu, dia ditakdirkan untuk kehilangan sesuatu pula. Dibandingkan dengan apa yang telah diperolehnya, kehilangan yang dialaminya sebenarnya tidak seberapa.
Karena itu, ketika kelingkingnya yang dililit tangan Zuo Kerang merasakan tarikan, dia menoleh. Saat bayangan Zuo Kerang menutupi dirinya, Wu Sili tidak menolak ciumannya.
Zuo Kerang membuka bibirnya yang terkatup, menyusup melewati barisan giginya, lalu menyapu langit-langit mulutnya. Ciumannya lembut sekaligus penuh perasaan.
Posisi itu benar-benar tidak cocok untuk berciuman. Mereka berdua masih berjongkok, sementara di antara mereka terdapat satu makhluk hidup yang sangat mencuri perhatian. Di tengah ciuman, Zuo Kerang akhirnya berlutut di lantai. Tubuhnya setengah kepala lebih tinggi daripada Wu Sili. Dia memegang wajah Wu Sili dan menciumnya beberapa saat lagi sebelum akhirnya bersedia melepaskan.
Dia menggosokkan hidungnya ke hidung Wu Sili, lalu balik menyalahkannya.
“Setelah menciummu, kau tidak boleh marah lagi.”
Lalu dia menambahkan, “Boleh, ya, Sayang?”
Jarak mereka nyaris tidak ada. Dia berbisik lirih, seolah sedang meminta maaf dan memohon pengampunan.
“Aku tidak marah,” bisik Wu Sili.
Kali ini Zuo Kerang yang terdiam.
Wu Sili mengerti apa yang sedang ditunggunya. Dia mengangkat dagu dan mencium Zuo Kerang sekali.
Barulah jawaban itu mampu membuat Zuo Kerang merasa tenang. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Namun, tepat ketika dia hendak berdiri, kain kaus di bagian dadanya tiba-tiba tertarik ke bawah. Dia mundur dan melihat ke arah Husky. Keempat kakinya masing-masing menginjak tubuh Zuo Kerang dan Wu Sili, sementara mulutnya yang giginya belum tumbuh sempurna menggigit kain bajunya.
Telapak tangan Zuo Kerang kembali menyentuh tengkuk belakangnya. Dia menarik Husky menjauh dari bajunya. Pada kain hitam itu muncul noda basah kecil yang tidak terlalu jelas.
Zuo Kerang mendecakkan lidah dengan kesal. Dia mengangkat lengan, hendak melempar Husky kembali ke dalam kotak, tetapi Wu Sili mencegatnya di tengah jalan dan kembali memeluk anjing itu. Terhadap anggota baru di rumah mereka, Wu Sili rupanya sudah begitu menyukainya hingga melupakan segala hal. Zuo Kerang memandangnya dua kali, lalu ikut tersenyum. Dia mengambil dua bantal sofa dan melemparkannya ke lantai, kemudian duduk bersisian dengan Wu Sili.
Mereka belum makan. Zuo Kerang membuka aplikasi pesan-antar makanan dan mulai memilih menu.
“Mau makan apa?”
Halaman (3/3)
“Terserah.” Jari-jari Wu Sili dimasukkan ke dalam mulut Husky dan diisap-isap olehnya. Dia bertanya kepada Zuo Kerang, “Apa dia lapar?”
“Seharusnya tidak,” jawab Zuo Kerang sambil serius memikirkan cara memberi makan Wu Sili, sama sekali tidak memedulikan urusan Husky. “Sebelum dibawa kemari, dia sudah minum susu di rumah Duan Junpeng.”
Wu Sili tidak lagi mengandalkan Zuo Kerang. Dia memiringkan tubuh dan menemukan sebuah kotak kecil lain di dalam kardus. Isinya mangkuk makan, susu bubuk, popok, dan berbagai perlengkapan lainnya. Dia memanaskan air, mencampurkan susu bubuk, lalu menatap Husky tanpa berkedip saat anak anjing itu minum.
Ketika makanan yang dipesan Zuo Kerang tiba, dia menyuruh Wu Sili makan. Wu Sili menjawab akan makan, tetapi tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Pada akhirnya, Zuo Kerang mengangkatnya ke ruang makan.
Begitulah.
Semula Zuo Kerang ingin mengambil hati Wu Sili dengan memberinya seekor anjing sebagai hadiah untuk menghiburnya. Namun, belakangan dia menyadari bahwa dirinya justru membawa pulang leluhur kecil yang akan merebut kasih sayang Wu Sili darinya.
Hal itu membuatnya cukup murung.
Setelah selesai membersihkan diri, Zuo Kerang mencari sebuah film. Dia duduk bersama Wu Sili di ruang tamu untuk menontonnya. Husky berbaring dengan patuh di dekat kaki Wu Sili. Sesekali tangan Wu Sili mengelus bulunya, sementara tangan yang lain dimainkan oleh Zuo Kerang.
Wu Sili mulai mengantuk hingga kelopak matanya terasa berat. Zuo Kerang mematikan proyektor, lalu menggendongnya dengan kedua tangan menuju kamar untuk tidur. Sedangkan Husky tidak termasuk dalam pertimbangannya. Mau melakukan apa pun, terserah.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Wu Sili membuka mata yang masih mengantuk dan meliriknya dengan malas. Ujung matanya yang terangkat memancarkan sedikit pesona. Zuo Kerang tergerak. Tepat ketika Wu Sili memejamkan mata dan hendak tertidur, dia menundukkan kepala untuk menciumnya.
Dia menggesekkan ujung giginya, hingga Wu Sili merasakan perih halus yang rapat. Saat Wu Sili mendorong bahunya, Zuo Kerang melanjutkan gerakannya. Dia menangkap tangan Wu Sili, menekannya di atas bantal, lalu menyusuri tulang pergelangan tangannya hingga menyelip di antara jari-jarinya dan menggenggamnya erat.
Wu Sili agak linglung. Pikirannya sedikit kacau. Bukankah tadi mereka hendak tidur? Dia tidak tahu pada tahap mana semuanya berubah, tahu-tahu Zuo Kerang kembali bersemangat.
Dia menggandeng tangan Wu Sili untuk menggenggam dirinya sendiri.
“Sayang, kau suka sekali dengan hadiah yang kuberikan, bukan?”
“Hmm.”
“Kalau begitu, kau suka orang yang memberimu hadiah?”
Wu Sili tetap menjawab, “Hmm.”
Zuo Kerang pun tersenyum.
“Kalau begitu, aku boleh mendapat sedikit hadiah sebagai balasan, kan?”
Wu Sili merasa pertanyaannya tidak perlu. Sebelum meminta persetujuan, dia sudah mulai bertindak. Untuk apa lagi menunggu jawabannya?
Di kaca jendela besar, bayangan mereka tampak samar. Zuo Kerang berlutut di kedua sisi tubuh Wu Sili hingga kasur mengempis di bawah lututnya. Punggungnya sedikit membungkuk, wajahnya terbenam di lekuk bahu Wu Sili, menggesek-gesekkan diri seperti anak anjing.
Bedanya, rambutnya tidak selembut bulu Husky dan justru menusuk-nusuk, membuat Wu Sili hanya ingin menghindar.
Kesunyian khas malam menyelimuti kamar. Di antara gesekan kain pakaian terdengar suara gemerisik halus. Prakiraan cuaca tidak pernah memperingatkan bahwa malam itu akan turun hujan, tetapi titik-titik air datang tanpa diduga, menghantam jendela dengan suara berderai dan meninggalkan jejak melengkung di kaca.
Beberapa dengusan lirih yang sesekali lolos dari Zuo Kerang hanya dapat didengar oleh Wu Sili. Dia hampir tidak pernah melewati batas ketika Wu Sili sedang tidak berada dalam kondisi yang nyaman. Kemampuan ini masih perlu dikembangkan, terasa canggung sekaligus menguras tenaga.
Pergelangan tangan Wu Sili mulai pegal. Dia tidak tahan untuk mendesaknya.
“Masih… berapa lama?”
“Entahlah, Sayang.” Suara Zuo Kerang serak. Dia mengecup daun telinga Wu Sili. “Kalau begitu, kau saja yang melakukannya. Ikuti ritmemu sendiri.”
Setelah berkata demikian, dia melepaskan tangannya. Wu Sili pun berhenti bergerak. Dia benar-benar kelelahan. Kepalanya miring dan dahinya bersandar pada sisi wajah Zuo Kerang.
Zuo Kerang terkekeh pelan, lalu kembali menarik tangannya dan meneruskannya.
Lampu kamar tidak dinyalakan. Karena khawatir Husky ketakutan, lampu ruang tamu tetap dibiarkan menyala. Cahaya kuning hangat merembes masuk, menciptakan suasana samar dan temaram. Seolah-olah terdengar bunyi sesuatu jatuh ke lantai dari ruang tamu.
Wu Sili masih sempat bertanya kepada Zuo Kerang apakah Husky sedang membuat ulah. Namun, detik berikutnya, Zuo Kerang menutup mulutnya dengan ciuman yang lebih tegas.
Sudah sampai seperti ini, mengapa masih menyebut Husky?
Sialan si Husky.
Dalam keadaan setengah sadar, Wu Sili merasa semuanya berlangsung lebih lambat dibandingkan setiap kali mereka benar-benar bercinta sebelumnya. Waktu berlalu cukup lama. Hujan pun perlahan mereda. Tubuh Wu Sili telah bergeser dari tepi ranjang ke bagian tengah. Selimut yang nyaris terjatuh menggantung sebagian besar hingga ke lantai. Tangan yang telah lama bergerak itu kehilangan kendali atas kekuatannya dan menggenggam semakin erat. Zuo Kerang mendadak menegang karena terkejut.
Dari lantai bawah kembali terdengar suara gonggongan yang lemah. Wu Sili untuk sementara tidak memiliki tenaga lebih untuk memikirkan apa yang sedang dilakukan Husky.
Telapak tangannya terasa panas dan basah.
Zuo Kerang tetap dalam posisi semula. Bibirnya menempel di leher Wu Sili, merasakan denyut nadi yang bergetar di bawah kulitnya. Dia menjilatnya sekali, lalu bergumam dengan suara berat dan tertahan,
“Sayang, kau benar-benar pandai mengganggu orang.”