Bab Empat Puluh Satu: Kekhawatiran Luo Qingci
Meskipun Luo Qingci sudah melangkahkan satu kakinya ke dunia hiburan, pada awalnya dia tidak akan langsung mendapatkan banyak sumber daya. Ditambah lagi, belakangan ini dia semakin jarang mendapat izin untuk meng-cover lagu, sehingga ia pun jadi lebih santai.
Di dunia ini, kesadaran akan hak cipta sangat kuat. Jika ingin merilis lagu cover, harus ada izin resmi dari penyanyi aslinya. Dulu, Luo Qingci sangat mudah mendapatkan izin tersebut. Hampir setiap kali ia meminta, para penyanyi akan langsung memberikannya. Alasannya sederhana: sebelumnya Luo Qingci hanyalah seorang penyanyi cover. Banyak lagu yang aslinya tidak terkenal, justru jadi populer setelah ia nyanyikan ulang. Penyanyi aslinya pun ikut terangkat namanya.
Memberikan izin pada Luo Qingci sama saja dengan strategi promosi. Namun sekarang keadaannya berbeda. Kini Luo Qingci meniti jalur pencipta lagu orisinal. Ia sudah menjadi musisi sejati, bukan sekadar penyanyi cover biasa, yang berarti ia telah menjadi saingan para penyanyi lain. Karena sudah jadi pesaing, tentu saja mereka tidak akan dengan mudah memberi izin lagunya untuk dicover, meskipun nama panggung “Qingci” yang ia daftarkan terbilang baru.
Orang-orang tak bodoh. Walaupun nama panggung “Qingci” baru didaftarkan, jutaan penggemar Luo Qingci tahu bahwa “Qingci” adalah dirinya.
Luo Qingci bukan tipe yang bisa diam saja. Karena bulan ini ia tak punya banyak kesibukan, ia memutuskan mencoba peruntungan di daftar pendatang baru demi menambah eksposur dirinya.
Bagaimanapun juga, tujuannya adalah menjadi bintang besar. Untuk menjadi bintang, tidak harus mengandalkan akting; bernyanyi pun bisa membawa seseorang ke puncak popularitas. Di zaman ini, hampir tidak ada lagi selebriti yang hanya fokus pada satu bidang. Mereka umumnya menyanyi, berakting, sekaligus tampil dalam acara varietas.
Bagi selebriti zaman sekarang, eksposur dan traffic adalah segalanya.
Dalam hati, Luo Qingci berpikir, jika ia tidak salah ingat, di kehidupan sebelumnya ia pernah meraih posisi puncak dalam daftar penyanyi pendatang baru bulan Agustus dan mendapat dukungan besar dari Qianyang Musik. Itu sangat membantu dalam membangun popularitasnya di kemudian hari.
Karena sekarang ia sedang tidak punya kegiatan, mengapa tidak merebut posisi puncak yang memang dulu miliknya?
Saat itu, Tong Yao bertanya, “Kak Luo, kali ini kamu mau bekerja sama dengan studio musik mana untuk merilis album barumu?”
Luo Qingci berpikir sejenak, lalu menjawab, “Pilih saja Studio Musik Haiyun.”
Walau Luo Qingci agak enggan bertemu Fang Shaohong dan tak ingin berurusan dengannya, ia khawatir jika terlalu sering mengubah jalannya sendiri, bisa-bisa efek kupu-kupu terjadi dan masa depannya jadi tak terkendali.
Karena itu, Luo Qingci tetap memilih menjalani segalanya sesuai pengalamannya di masa lalu. Apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya, ia ulangi di kehidupan sekarang, demi meminimalkan intervensi terhadap masa depan, sehingga ia tetap bisa mengendalikan apa yang akan terjadi.
Walau cara ini mungkin membuatnya menghadapi masalah yang sama seperti di kehidupan sebelumnya, namun dibandingkan resiko tak terduga akibat mengubah masa depan, Luo Qingci lebih memilih masalah yang sudah ia ketahui jalan keluarnya.
Ia tahu persis masalah apa yang akan ia hadapi nanti, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Ia hanya perlu mengikuti “catatan harian masa depan” yang ia miliki, maka segalanya akan terselesaikan dengan mudah.
Mendengar jawaban Luo Qingci, Tong Yao sedikit bingung. Waktu rekaman “Musim Cinta” kemarin, Luo Qingci tidak ke Studio Musik Haiyun, tapi kenapa kali ini memilih rekaman album di sana? Meski heran, Tong Yao tidak banyak bertanya. Ia hanya berkata, “Baiklah, aku akan segera telepon Pak Ma.”
Setelah berkata begitu, Tong Yao mengeluarkan ponselnya dan keluar ruangan untuk menghubungi Ma Minghui.
Setelah Tong Yao pergi, Luo Qingci tiba-tiba teringat sesuatu. Ia segera membuka ponsel, masuk ke aplikasi Qianyang Musik, dan mengecek peringkat daftar pendatang baru.
Melihat Cheng Ge berada di peringkat lima, Luo Qingci merasa sedikit lega.
Cheng Ge sudah merilis satu album. Sebagai musisi independen, sepertinya ia tidak akan langsung merilis album kedua dalam waktu dekat, sehingga peringkatnya kemungkinan hanya bertahan di posisi keempat atau kelima.
Sekarang tak ada lagi yang bisa menyainginya di daftar peringkat.
Tapi kalau Cheng Ge ini benar-benar seorang reinkarnasi, inspirasi musiknya pasti tak terbatas. Bukan tidak mungkin ia bisa mengeluarkan album kedua dalam waktu singkat—menjiplak lagu toh sangat mudah dilakukan.
Luo Qingci hanya bisa berharap Cheng Ge tidak merilis album lagi bulan ini, kalau tidak, posisi puncaknya bisa saja direbut orang itu.
Ia tidak mau berpikir terlalu banyak. Luo Qingci keluar dari aplikasi Qianyang Musik, menaruh ponsel, dan kembali sibuk dengan urusannya.
Beberapa hari kemudian, Luo Qingci datang ke Studio Musik Haiyun untuk rekaman album. Sialnya, hari itu Fang Shaohong juga datang ke studio yang sama, bersama Ma Minghui untuk membicarakan rencana transformasi studio menjadi perusahaan musik.
Begitu melihat Luo Qingci, Fang Shaohong langsung terdiam. Tatapannya tajam menyorot ke arahnya. Selama ini ia sering tidur dengan perempuan-perempuan manis, tapi baru kali ini ia melihat wanita secantik dan sehidup Luo Qingci.
Menangkap tatapan penuh nafsu dari Fang Shaohong, hati Luo Qingci langsung dipenuhi rasa muak.
Sungguh sial, di kehidupan ini pun ia harus bertemu lagi dengan orang seperti itu.
Fang Shaohong tersenyum, “Minghui, siapa wanita ini?”
Ma Minghui menjawab, “Namanya Luo Qingci, nama panggungnya Luo Luo Tianyin. Dia penyanyi internet yang punya lebih dari sepuluh juta penggemar.”
Mendengar itu, mata Fang Shaohong bersinar. Ternyata seorang seleb internet. Menarik juga, pikirnya. Ia sudah meniduri puluhan hingga ratusan seleb internet, menggoda satu lagi bukan perkara sulit.
Dengan pikiran seperti itu, Fang Shaohong mendekati Luo Qingci dan memperkenalkan diri, “Nona Luo, salam kenal. Saya salah satu investor Haiyun, nama saya Fang Shaohong. Senang bertemu dengan Anda.”
Luo Qingci hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa.
Melihat sikap dingin Luo Qingci, Fang Shaohong sempat tertegun, lalu tersenyum tipis. Justru wanita seperti inilah yang ia sukai—semakin dingin, semakin menantang untuk ditaklukkan.
Fang Shaohong lalu bertanya, “Nona Luo, Anda datang ke Haiyun ada keperluan apa?”
Luo Qingci tidak menggubris Fang Shaohong, langsung berbicara pada Ma Minghui, “Pak Ma, saya datang untuk rekaman album. Seharusnya musik pengiringnya sudah siap?”
Ma Minghui segera menjawab, “Sudah siap, sekarang juga bisa mulai rekaman.”
Setelah itu, Ma Minghui beralih pada Fang Shaohong, “Pak Fang, Nona Luo mau rekaman album. Kalau ada urusan lain, nanti saja kita bicarakan.”
Mendengar itu, Fang Shaohong jelas tidak senang, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Jika memaksa sekarang, pasti akan meninggalkan kesan buruk di hati Luo Qingci.
Ia pun tersenyum, “Baiklah, saya tidak akan mengganggu Nona Luo.”
Setelah berkata begitu, Fang Shaohong tak lagi bicara. Namun ia juga tidak pergi dari studio. Ia berniat menunggu Luo Qingci selesai rekaman, lalu mencoba mendekatinya lagi, berharap ada kesempatan untuk menaklukkan Luo Qingci.