Bab Tiga: Lu Cheng di Kehidupan Sebelumnya
Di perjalanan pulang, Lu Cheng terus-menerus memikirkan cara untuk berbicara dengan Luo Qingci. Lawan bicaranya begitu inisiatif, bahkan sudah datang ke tempat tinggalnya, jelas tidak mungkin semudah itu mengusirnya pergi. Atau mungkin sebaiknya dia langsung saja pindah rumah. Kalau tidak, perempuan ini akan terus menempel di rumahnya, nanti semua yang ia lakukan jadi serba tidak nyaman, apalagi bisa jadi perempuan ini akan melaporkan semua kegiatannya pada orang tuanya.
Sambil melamun, Lu Cheng sampai di depan rumahnya. Begitu keluar dari lift, ia langsung melihat seorang wanita bertubuh tinggi semampai berdiri di depan pintu rumahnya. Wanita itu mengenakan gaun teratai berwarna biru muda yang panjangnya selutut, sepasang sandal hak tinggi bertali di kakinya membuat kakinya tampak semakin jenjang, dan sabuk yang melilit pinggangnya semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.
Saat itu, wanita tersebut menoleh ke arah Lu Cheng, sehingga Lu Cheng pun bisa melihat jelas wajahnya. Wajah wanita itu sangat menawan, kulitnya putih bersih, hidungnya mungil dan mancung, tanpa riasan pun ia terlihat semakin polos dan memesona, seolah-olah ada aura dewi yang mengelilinginya, seperti peri yang turun ke dunia fana.
Lu Cheng sudah pernah bertemu banyak wanita cantik, tapi baru kali ini dia melihat kecantikan yang seolah tak tersentuh duniawi. Ia bahkan mengucek matanya, bertanya-tanya apakah ini hanya efek cahaya, namun ketika ia kembali menatap Luo Qingci, kesan yang didapatnya masih sama seperti pandangan pertama.
Melihat Lu Cheng menatapnya lekat-lekat, Luo Qingci dalam hati berpikir, orang ini ternyata sama saja seperti kehidupannya yang lalu. Sama-sama genit. Melihat perempuan saja sudah lupa diri.
Luo Qingci kemudian berkata, “Halo, apakah kamu Lu Cheng?” Suaranya sama seperti di telepon, jernih dan dingin, sangat nyaman didengar.
Barulah Lu Cheng tersadar, lalu menjawab, “Halo, aku Lu Cheng.” Dalam hati, walaupun ia sangat tidak suka dengan perjodohan bisnis, tapi bagaimanapun ini adalah niat baik dari orang tuanya. Setelah dibesarkan selama puluhan tahun, masa iya ia tidak bisa memberi sedikit muka untuk mereka? Demi membalas budi orang tua, ia memutuskan untuk mengenal wanita ini lebih dalam dulu, siapa tahu justru dia jodoh yang tepat.
Dengan pikiran itu, Lu Cheng segera melangkah ke pintu, dan sambil membuka pintu ia berkata, “Nona Luo, silakan masuk.” Luo Qingci menarik koper sambil menjawab, “Panggil saja aku Qingci.” Lu Cheng pun berkata ramah, “Qingci, biar aku bantu bawa kopermu.” Namun Luo Qingci menolak halus, “Tidak perlu, isinya hanya beberapa pakaian, tidak berat.”
Setelah berkata begitu, Luo Qingci membawa kopernya masuk ke dalam rumah. Melihat ruangan yang begitu dikenal, Luo Qingci merasa seperti sedang bermimpi. Tak disangka ia benar-benar terlahir kembali.
Satu jam sebelumnya, ia mengalami kecelakaan, dan ketika sadar ia sudah duduk di kereta cepat menuju Kota Jiangnan. Daya terimanya sangat kuat, sebelum kereta sampai ke tujuan, ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa ia telah bereinkarnasi.
Luo Qingci menatap sekeliling ruangan, rumah itu tidak berantakan, bahkan sangat rapi dan bersih. Melihat keadaan rumah yang begitu bersih, Luo Qingci justru merasa heran. Eh… Dalam ingatannya, Lu Cheng adalah tipe laki-laki yang tidak suka merapikan rumah, penampilannya memang necis, tapi isi rumahnya selalu kacau balau.
Kenapa rumah ini berbeda sekali dengan yang ada dalam ingatannya? Apa yang terjadi? Ia ingat, kehidupan sebelumnya, saat pertama kali masuk ke rumah ini, ia hampir pingsan karena baunya, sampai-sampai ia sempat meragukan apakah Lu Cheng benar-benar anak sulung keluarga Lu Yiming.
Dalam hati, Luo Qingci bertanya-tanya, padahal ia menjalani semuanya sesuai dengan waktu di kehidupan sebelumnya, kenapa bisa ada perbedaan? Jika tidak salah, pertama kali ia masuk ke ruangan ini adalah tanggal dua puluh satu Mei, sekitar pukul sepuluh.
Luo Qingci pun mengambil ponsel untuk melihat tanggal dan waktu, ternyata memang sesuai dengan ingatannya. Saat itu, Lu Cheng yang melihat Luo Qingci terus memperhatikan seisi rumah, berkata, “Maaf, aku tidak tahu kamu akan datang, jadi belum sempat membereskan rumah.” Ia menambahkan, “Benar juga, kamu pasti belum ada tempat tinggal, kebetulan masih ada satu kamar kosong, bagaimana kalau kamu tinggal di kamar itu saja?”
Luo Qingci pun mengangguk pelan, “Baik.” Mendengar itu, Lu Cheng hendak menuntunnya, tapi Luo Qingci sudah lebih dulu menarik koper menuju kamar kosong tersebut.
Eh… Lu Cheng jadi bingung, kenapa Luo Qingci begitu akrab dengan rumahnya? Bahkan tahu ada kamar kosong? Jangan-jangan ini juga ayahnya yang memberitahu? Ia pun refleks melirik ke ruang tamu. Tidak ada kamera pengawas di sana.
Tak berpikir lebih jauh, Lu Cheng segera mengikuti Luo Qingci masuk ke kamar kosong itu. Di dalamnya sudah ada ranjang, selimut, dan perlengkapan lain, hanya saja memang belum pernah ditinggali, tapi Lu Cheng selalu memanggil pembantu untuk membersihkannya secara rutin, jadi kamar itu sangat bersih.
Luo Qingci sekali lagi menemukan kejanggalan dalam ingatannya, ia masih ingat dulu membersihkan kamar ini sampai seharian, tapi sekarang kamar itu sudah siap huni. Namun ia segera menepis pikiran itu, toh hanya soal detail kecil, seharusnya tidak akan memengaruhi jalan hidupnya ke depan.
Saat itu, pandangan Luo Qingci jatuh pada Lu Cheng.
Terhadap Lu Cheng, ia tidak bisa dibilang membenci, tapi juga tidak suka. Kata yang tepat hanyalah “biasa saja.” Toh di kehidupan sebelumnya ia tidak pernah bersama Lu Cheng.
Lu Cheng punya banyak kekurangan yang sulit ia toleransi. Pertama, dia sangat genit, punya hubungan ambigu dengan banyak wanita. Kedua, dia suka minum-minum, dan kalau mabuk suka bicara sembarangan. Di kehidupan lalu, akibat kebiasaan minumnya, ia sempat beberapa kali membuat Luo Qingci dalam masalah.
Namun meski begitu banyak kekurangannya, Luo Qingci tidak pernah benar-benar membenci, ada satu alasan utama—karena Lu Cheng masih tahu cara menghormatinya. Selama mereka tinggal bersama, meskipun sudah mabuk, sebebas apapun ia bicara, Lu Cheng tak pernah bertindak lancang.
Tentu saja, pada akhirnya ia juga yang mengusulkan membatalkan pertunangan.
Ketika Luo Qingci memperhatikan Lu Cheng kali ini, ia merasa ada sesuatu yang aneh, walaupun tidak tahu apa yang salah, namun perasaan tidak selaras itu tetap ada. Wajah Lu Cheng memang sama persis seperti di kehidupan lalu, tapi aura yang dipancarkan terasa berbeda.
Luo Qingci kemudian bertanya, “Apa kamar ini ada yang pernah tinggal?” Lu Cheng menjawab, “Tidak, ini memang kamar kosong, sprei dan selimut juga baru diganti, kamu bisa langsung pakai.”
Luo Qingci lalu menaruh koper di samping lemari kamar. Ia menoleh menatap Lu Cheng, dan Lu Cheng pun menatapnya; keduanya diam, udara terasa membeku.
Lu Cheng tersadar, lalu berkata dengan canggung, “Kamu pasti lelah di perjalanan, aku tidak akan mengganggu istirahatmu. Kalau ada perlu, panggil saja aku.” Setelah berkata begitu, Lu Cheng segera meninggalkan kamar.
Begitu ia pergi, Luo Qingci langsung menutup pintu kamar. Lu Cheng menggaruk kepalanya.
Calon istrinya ini… bagaimana ya… agak dingin, ya?