Bab Dua Belas: Masa Lalu yang Kelam
Setelah mengetahui bahwa Luo Qingci juga akan mengikuti Program Dukungan Musisi Qianyang, Lu Cheng memang agak terkejut. Namun, yang lebih membuatnya heran sebenarnya adalah nama akun Weibo Luo Qingci itu sendiri.
Luo Luo Tianyin...
Luo Luo...
Nama akun Weibo ini sama sekali tidak cocok dengan citra Luo Qingci yang dingin dan anggun!
Lu Cheng lalu menelusuri lagi isi postingan Weibo Luo Qingci. Setelah membaca, Lu Cheng perlahan paham, ternyata Luo Qingci sudah mendaftarkan akun Weibo ini sejak kecil. Nama akun ini pun dibuat saat Luo Qingci masih anak-anak.
Alasan Luo Qingci bisa mengumpulkan begitu banyak penggemar adalah karena cover lagu-lagunya sangat indah, suaranya juga sangat memikat. Tentu saja, yang terpenting adalah karena dia sangat cantik.
Namun, kecantikan itu baru muncul setelah dia berusia lima belas tahun.
Dulu, Luo Qingci selalu berambut pendek dan kulitnya agak gelap. Walau wajahnya simetris dan tidak bisa dibilang jelek, tapi juga tidak menonjol, paling-paling hanya seperti orang biasa.
Lu Cheng melihat-lihat foto lama Luo Qingci di Weibo, dalam hati ia berpikir, pantes saja dia tidak ingat pernah bertemu gadis bernama Luo Qingci.
Seorang gadis seperti Luo Qingci dengan rambut pendek, benar-benar seperti laki-laki, mana mungkin dia bisa mengingatnya.
Saat itu, tatapan Lu Cheng jatuh pada sebuah foto yang agak spesial. Dalam foto itu, di belakang Luo Qingci berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak laki-laki itu menatap kaki kakak perempuan di sebelahnya yang mengenakan stoking hitam, matanya menyipit dengan ekspresi nakal...
Melihat foto itu, Lu Cheng langsung terdiam.
Astagfirullah...
Kenapa di foto Luo Qingci malah ada aib masa lalunya sendiri?
Lu Cheng dalam hati berpikir, apa sebaiknya dia minta tolong Luo Qingci untuk menghapus foto itu? Terlalu merusak citranya sendiri.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya tak ada yang tahu siapa dia saat kecil, jadi tak perlu terlalu khawatir.
...
Saat Lu Cheng pulang, waktu sudah hampir siang, tepat waktunya makan siang. Saat itu, Luo Qingci masih di rumah dan belum pergi ke mana-mana.
Lu Cheng kembali teringat, Luo Qingci baru saja datang ke Kota Jiangnan, pasti belum begitu mengenal kota ini. Haruskah dia mengajak Luo Qingci berjalan-jalan?
Memikirkan hal itu, Lu Cheng pun berkata kepada Luo Qingci yang sedang di dapur, "Qingci, bagaimana kalau nanti sore aku ajak kamu jalan-jalan? Lagi pula, sepertinya kamu juga sedang tidak ada kegiatan beberapa hari ini."
Mendengar suara Lu Cheng dari ruang tamu, Luo Qingci menjawab dari dapur, "Tidak usah, di rumah saja sudah cukup baik, aku memang tidak terlalu suka jalan-jalan."
Bagi Luo Qingci, begitu mulai bekerja, dia akan sangat sibuk dan tidak akan punya waktu santai seperti ini lagi.
Jadi, waktu santai beberapa hari ini sangat berharga baginya. Dia tidak ingin keluyuran ke mana-mana lagi. Lagi pula, di kehidupan sebelumnya, dia hampir sudah menjelajahi seluruh Kota Jiangnan. Kalau bicara siapa yang lebih mengenal kota ini, Lu Cheng jelas masih kalah jauh darinya.
Melihat Luo Qingci menolak ajakannya, Lu Cheng tersenyum. Gadis kaya, cantik, jago masak, dan tidak suka keluyuran—benar-benar sesuai kriteria istri idamannya!
Lu Cheng pun berjalan ke pintu dapur, lalu berkata, "Mending jangan masak deh, kita makan di luar saja!"
Baru kemarin Luo Qingci datang, hari ini sudah masak untuknya. Lu Cheng jadi agak sungkan. Walau dia memang calon istrinya, tapi Luo Qingci terlalu rajin, sampai dia sendiri jadi tidak terbiasa.
Luo Qingci menoleh dan berkata, "Tidak usah, makanannya sudah matang, ini hidangan terakhir."
Mendengar itu, Lu Cheng hanya bisa berkata, "Ya sudah."
Memasak memang hobi Luo Qingci. Meski dia gadis kaya, keahlian memasaknya tidak kalah dengan koki hotel bintang lima sekalipun.
Dia memasak bukan untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk memuaskan selera sendiri. Biasanya dia terlalu sibuk, tidak sempat makan enak, selalu makan di luar.
Terlalu sering makan di luar, dia selalu merasa ada yang kurang, entah rasa apa yang hilang. Namun, masakan di rumah selalu punya rasa yang menenangkan hatinya.
Kini ada satu orang lagi di rumah, dan tiba-tiba ada yang memasak, Lu Cheng malah jadi kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri di pintu dapur, tampak canggung.
Saat itu, Luo Qingci tampaknya menyadari kecanggungan Lu Cheng, lalu berkata, "Sebentar lagi makan, tolong cuci dua mangkuk, ya!"
Mendengar ada pekerjaan, Lu Cheng segera berkata, "Oke, aku cuci sekarang!"
Begitu selesai bicara, Lu Cheng langsung masuk dapur, mengambil mangkuk dan sumpit, lalu mulai mencuci.
Sambil mencuci, matanya sempat melirik apron mungil yang dikenakan Luo Qingci.
Entah kenapa, rasanya aneh sekali, seolah-olah mereka sudah seperti pasangan suami istri lama.
Setelah selesai mencuci alat makan, Lu Cheng ke ruang tamu untuk menata meja. Tak lama, Luo Qingci datang membawa hidangan.
Menu makan siang hari itu cukup sederhana, lima lauk satu sup, semua bahan diambil dari isi kulkas Lu Cheng.
Sejujurnya, Lu Cheng dulu jarang sekali masak sendiri. Hampir setiap hari dia makan di luar atau pesan makanan.
Belakangan, karena keuangan agak ketat, ditambah lagi dia telah mengingat kembali kehidupan masa lalunya, dia merasa makan di luar kurang sehat, jadi mulai belajar masak sendiri.
Lu Cheng melirik hidangan di meja, lalu mengambil sumpit dan mencicipi sepotong ikan.
Begitu ikan masuk ke mulut, matanya langsung berbinar. Padahal ikan ini sudah disimpan di kulkas selama beberapa hari, tapi kenapa rasanya masih begitu segar? Sehebat apa kemampuan memasaknya?
Seorang putri kaya seperti Luo Qingci, ternyata punya keahlian memasak sehebat ini, sungguh luar biasa.
Melihat Lu Cheng mencicipi masakan ikannya, Luo Qingci sempat berkedip pelan. Dalam hati ia berpikir, di kehidupan sebelumnya, Lu Cheng sepertinya tak pernah makan masakan buatannya.
Walau setelah Lu Cheng kabur dari rumah hidupnya agak susah, dia tetap lebih suka makan di luar, hampir tak pernah makan di rumah.
Tapi, yang paling membuat Luo Qingci heran adalah kulkas Lu Cheng penuh dengan bahan makanan segar. Padahal biasanya dia jarang makan di rumah atau masak, kenapa bisa menyimpan bahan makanan sebanyak itu di rumah?
Bahkan, semua bahan tampak masih baru, bukan seperti yang sudah lama disimpan. Ditambah peralatan dapur yang sangat bersih, jelas dia memang sedang rajin masak belakangan ini.
Di kehidupan ini, si anak orang kaya ini ternyata bisa masak?
Itu benar-benar di luar dugaan, bahkan terasa sulit dipercaya.
Saat itu, Lu Cheng mengangkat kepala dan memuji, "Qingci, masakanmu luar biasa, ini pertama kalinya aku makan ikan seenak ini."
Mendengar pujian itu, Luo Qingci sempat tertegun, lalu berkata pelan, "Terima kasih."
Sebenarnya, ini bukan kali pertama dia dipuji soal masakan. Di kehidupan sebelumnya, dia sering mengundang teman-teman makan di rumah, dan mereka juga suka memuji masakannya.
Namun, ini kali pertama dipuji oleh Lu Cheng.
Dipujinya oleh Lu Cheng soal masakan, hati Luo Qingci terasa aneh, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Saat itu, Lu Cheng sambil tersenyum berkata, "Andai seumur hidup aku bisa makan ikan seenak ini, pasti bahagia sekali."