Bab 44: Garis Waktu Masa Depan yang Asal, Malam Bersalju yang Kesepian itu
Beberapa waktu telah berlalu.
Liu Ruyan, yang mondar-mandir dari satu toko ke toko lainnya, telah membeli banyak bahan makanan khusus dari benua lain.
Meskipun dalam benaknya ia terus-menerus berimajinasi.
Berimajinasi bahwa selama ia bersikap cukup baik setelah ini.
Menggunakan keahlian yang telah ia latih dengan susah payah untuk menaklukkan hati sang Kakak Perguruan melalui perutnya, ia akan bisa mendapatkan pengampunan dari Kakak Perguruan.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, selalu ada suara yang terus bergema.
Terus-menerus memberitahunya.
Bagaimanapun juga usahanya, Kakak Perguruan tidak akan pernah memaafkannya.
Berbagai bayangan dari ingatan yang saling silang terus berkelebat di dalam benaknya.
Saat segala sesuatunya membeku dalam sekejap.
Kakak Perguruan yang memiliki senyuman sangat lembut dan cerah itu, akhirnya berubah menjadi jutaan gelembung maya dan menghilang.
Kakak Perguruan yang sekarang terasa begitu dingin bagaikan sepotong es.
Begitu dingin hingga membuat perasaannya ketakutan.
Begitu dingin hingga membuatnya terasa asing.
.........
"Tetapi jelas-jelas aku sudah meminta maaf......"
"Kenapa Kakak Perguruan tetap tidak mau memaafkanku......"
Tiba-tiba ia merasa sedikit dirundung kepedihan.
Padahal selama sebulan ini.
Ia telah mengerahkan segala cara, menggunakan seluruh tenaganya untuk menebus kesalahannya sendiri.
Karenanya ia tidak bisa tidur semalaman, karenanya ia merasa gelisah setiap hari, bahkan tidak bisa duduk dengan tenang untuk bermeditasi.
Mengapa Kakak Perguruan selalu mengabaikan berbagai permintaan maafnya sejak awal hingga akhir?
Terlebih lagi..... pada akhirnya pihak sekte sudah turun tangan, menggunakan Cermin Penanya Langit untuk menyelesaikan masalah ini sepenuhnya.
Reputasi Kakak Perguruan juga tidak menderita kerugian apa pun karenanya.
Sebaliknya, justru reputasinya sendiri di dalam sekte lah yang mengalami kerugian besar, dan baru-baru ini ia sering menjadi bahan gunjingan rahasia oleh para murid sekte, disindir sebagai kacang lupa kulitnya.
Padahal ia sudah menanggung semua akibat yang buruk.
Padahal ia juga telah mengakui semua kesalahannya.
Mengapa Kakak Perguruan tidak bisa memberikannya satu kesempatan saja dan bersikeras mempermasalahkan hal ini?
Menutupi sisa air mata yang merembes entah sejak kapan dengan punggung tangannya.
Liu Ruyan berencana pergi ke tempat yang tenang untuk menikmati angin malam, merapikan serta merilekskan emosinya sendiri.
Ia benar-benar takut jika nanti tidak bisa mengendalikan emosinya.
Pada akhirnya ia akan menangis tersedu-sedu karena tidak mampu menahan rasa pedih di hatinya.
.......
Pusat pasar jalanan hari ini sangat ramai, dipadati oleh lautan manusia.
Suara-suara yang sebelumnya terasa menyenangkan di hati, kini terasa begitu menusuk telinga baginya.
Ia berjalan memasuki sebuah jalan yang relatif sepi.
Saat kebetulan melewati sebuah tenda yang gelap gulita.
Sebuah suara misterius dan sarat pengalaman tiba-tiba terdengar dari dalam tenda yang paling dalam.
"Hehe...... Nona, melihat penampilanmu, sepertinya kau sedang diselimuti oleh kerisauan di dalam hati, bahkan membuatmu tidak bisa tidur semalaman, dan tidak sedikit merasa tersiksa akhir-akhir ini, bukan?"
"Orang tua ini adalah seorang peramal dari Benua Beiming, sangat mahir dalam seni ramal dan dedukasi."
"Jika Nona bersedia, orang tua ini dapat meramal dan menguraikan kebingungan untuk Nona, serta menyelesaikan segala gundah gulana."
Liu Ruyan, yang tadinya menganggap pemilik suara ini hanyalah seorang penipu jalanan, tiba-tiba sedikit menghentikan langkahnya saat mendengar dua kata khusus yaitu Benua Beiming dan peramal.
Bagaimanapun juga, benua-benua lain selalu membawa warna misterius di matanya.
Keberadaan khusus yang berasal dari benua lain semacam ini, mungkin saja benar-benar bisa membantunya.
Setelah merenung sejenak.
Liu Ruyan tetap memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan meminta orang misterius ini meramalkan nasibnya.
Suasana di dalam tenda yang gelap itu tampak agak suram.
Seorang lelaki tua yang wajahnya tertutup rapat oleh jubah hitam duduk bersila di atas panggung tinggi.
Di hadapannya terdapat sebuah altar yang dibuat dari bahan khusus, di atasnya terukir tulisan-tulisan kuno tak terhitung jumlahnya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tepat di bagian atas altar, sebuah bola kristal yang memancarkan cahaya jernih bagaikan bintang tampak melayang perlahan, dan setiap kali cahaya berpendar di dalamnya, bola itu memicu resonansi aneh dengan tulisan-tulisan kuno di atas altar.
Atas isyarat dari lelaki tua berjubah hitam itu.
Liu Ruyan duduk tepat di hadapan lelaki tua tersebut.
Hampir pada saat bersamaan, altar kecil itu tiba-tiba bergetar berdengung dengan cahaya yang cemerlang.
Puluhan aksara emas yang melambangkan makna khusus yang berbeda melayang naik dari sana, seolah-olah diberi kehidupan, dan berbaris rapi di depan Liu Ruyan.
"Sebelum ramalan resmi dimulai, Nona silakan ikuti kata hati Anda, pilih secara acak salah satu aksara emas di antara semua aksara ini yang paling ingin Anda pilih."
Meskipun lelaki tua berjubah hitam di hadapannya ini memberikan kesan yang terkesan mengada-ada dan berpura-pura sakti.
Namun Liu Ruyan tetap secara tidak sadar mengikuti permintaannya dan memilih sebuah aksara emas secara acak.
Tak lama kemudian, aksara emas yang terpilih jatuh ke tangan lelaki tua berjubah hitam itu, sementara aksara emas lainnya perlahan meredup dan kembali masuk ke dalam altar.
"Nona, arti dari aksara yang Anda pilih ini melambangkan takdir."
"Perkembangan takdir akan mendatangkan arah peristiwa yang berbeda-beda, serta akhir yang berbeda pula."
Setelah serangkaian penjelasan yang bernada akademis tersebut.
Liu Ruyan kembali mengikuti permintaan lelaki tua berjubah hitam, meletakkan telapak tangannya di atas bola kristal, dan mengerahkan seluruh pikirannya untuk beresonansi dengan kekuatan tertentu yang tersembunyi di dalam bola kristal tersebut.
Seketika itu juga, kekuatan aneh yang tak terhitung jumlahnya terus merambat naik dari telapak tangannya, mengalir ke lubang pikirannya yang paling dalam, dan berubah menjadi semacam bayangan yang terasa khayalan sekaligus nyata.
Perkembangan takdir membuatnya tertegun melihat akhir dari ruang dan waktu yang lain.
[Setelah perjalanan ke Alam Rahasia Gunung Tianshan berakhir, Kakak Perguruan bertindak tidak kompeten, ditambah dengan kesaksiannya yang sama sekali tidak mengetahui kebenaran yang sebenarnya, membuat Kakak Perguruan jatuh ke dalam jurang keputusasaan yang mendalam.]
[Bagaimanapun Kakak Perguruan membuka mulut untuk membela diri, bagaimana pun ia menceritakan tentang keaslian masalah tersebut, ia tetap kesulitan mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekte.]
[Sekte juga tidak seperti sebelumnya yang tidak ragu-ragu mengeluarkan Cermin Penanya Langit untuk membuktikan kepolosan Gu Han, melainkan menyelesaikan masalah ini dengan tergesa-gesa.]
[Tindakan masa bodoh sekte, serta Guru, dan ketidakpercayaan mereka, benar-benar melemparkan Kakak Perguruan ke dalam jurang yang dinamakan keputusasaan.]
[Kakak Perguruan di dalam bayangan itu seolah-olah telah dirampas kecemerlangan aslinya sepenuhnya, sehingga siapa pun dapat menudingnya dan melemparkan tatapan meremehkan serta mencemooh kepadanya.]
[Ia bagaikan seekor elang perkasa yang awalnya terbang tinggi di atas langit kesembilan, namun akhirnya sayapnya patah dan ia meronta-ronta dalam kesakitan di tengah kubangan lumpur.....]
"Tidak..... bukan seperti ini....."
Liu Ruyan yang berada dalam kondisi ajaib itu tiba-tiba runtuh emosinya, mengeluarkan teriakan yang penuh dengan rasa sakit di hati.
"Semua ini adalah salahku! Akulah yang tidak memahami kebenaran masalah dan menganiaya Kakak Perguruan! Jika kalian ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja aku! Jangan menyalahkan Kakak Perguruan!"
Namun teriakannya tidak memberikan efek sedikit pun.
Bahkan tidak mampu tersampaikan ke telinga orang yang ada di dalam bayangan tersebut.
Bayangan itu terus berubah.
Di tengah bayangan yang terus berganti itu, hatinya seolah-olah mengalami penghancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dibelah menjadi berkeping-keping oleh pisau tajam yang dinamakan rasa penyesalan dan sakit hati, lalu dihancurkan lagi sedikit demi sedikit.
[Kakak Perguruan yang tadinya sangat dicintai oleh orang-orang sekte, dalam semalam statusnya merosot ke titik terendah, dan tak terhitung banyaknya murid sekte yang dulu mengagumi dan mempercayainya, kini memperlakukannya sebagai objek cemoohan sesuka hati, mengatakan bahwa dirinya adalah seorang munafik berkedok orang suci dan semua hal di masa lalu hanyalah sandiwara semata.]
[Entah sudah berapa lama ia melewati hari-hari di tengah ucapan-ucapan yang begitu jahat.]
[Hingga kemudian, karena Kakak Perguruan menderita luka yang tidak bisa dipulihkan di alam rahasia dan kultivasinya tidak bisa lagi maju, ia langsung diusir oleh sekte dengan berbagai alasan, dibiarkan berjuang sendiri demi kelangsungan hidupnya.]
[Hari itu, salju turun dengan lebatnya dan musim dingin begitu menusuk tulang.]
[Mereka bersenang-senang dan bercanda di dalam istana yang hangat, diiringi tawa ceria.]
[Kakak Perguruan berjalan seorang diri di tengah malam musim dingin yang membeku.]
[Ia seolah-olah tidak lagi bersinar dan tegap seperti di dalam ingatan.....]
[Sosoknya tampak begitu kurus dan rapuh, berjalan sempoyongan selangkah demi selangkah, meninggalkan jejak kaki kesepian miliknya sendiri di padang salju yang tak berpenghuni.]
[Pada akhirnya, ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, dan terjatuh di atas hamparan salju yang dingin.....]
[Ia mendengar gumaman terakhir Kakak Perguruan: Begitu dingin.....]
[Kakak Perguruan di dalam bayangan itu telah mati, mati di malam yang sunyi.]
[Mati di malam hari yang tidak pernah mereka ketahui.]
..........