Bab 56 Mata Kakakmu Terlihat Aneh Saat Melihatku
Halaman (1/3)
Lebih dari satu jam kemudian, akupunktur pun selesai.
Lin Hao menyeka keringat di dahinya, lalu berpesan, “Bibi, tubuhmu sekarang cukup lemah, apalagi sedang menderita penyakit berat. Kau harus lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi.”
“Sebagian besar bahan makanan yang kubeli memang berlebih. Kau bisa memasaknya sendiri untuk dimakan.”
“Kalau sampai penyakitmu tidak sembuh karena kekurangan nutrisi, bukankah uang yang kau keluarkan untuk berobat jadi sia-sia?”
Liu Xiang menundukkan kepala dengan gelisah. Ia tahu Lin Hao pasti melihat makanan yang ia santap ketika tadi pergi ke dapur.
“Xiao Hao, Bibi bisa membeli bahan makanan sendiri,” ujar Liu Xiang lirih.
Ia merasa sama sekali tidak memiliki wibawa sebagai orang yang lebih tua di hadapan Lin Hao.
Namun, Lin Hao selalu menangani segala sesuatu dengan begitu tepat sehingga ia tidak merasa tersinggung.
“Bibi, sebanyak apa yang bisa dimakan Qingyi? Dia hanya pilih-pilih makanan.”
“Kalau soal membeli bahan makanan, aku juga tidak mungkin hanya membeli setengah ekor kepiting atau dua-tiga ekor udang. Mana mungkin pemilik toko mau menjualnya kepadaku?”
“Bibi cukup memasak porsi yang dimakan Qingyi. Sisanya bisa kalian makan.”
“Kalau bahan makanan dibiarkan sehari, kesegarannya akan hilang. Nanti kalau Qingyi jatuh sakit gara-gara itu, malah repot.”
Liu Xiang mendengarkan Lin Hao dengan tatapan kosong. Ia sepertinya pernah mendengar bahwa penyakit lambung merupakan penyakit yang lazim diderita orang kaya.
Kalau mereka sampai memakan makanan yang sudah tidak segar, dalam sekejap mereka bisa saja harus dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan.
“Terima kasih, terima kasih, Xiao Hao.”
“Bibi tahu kau ingin membantu Bibi, jadi Bibi tidak akan menolaknya lagi,” kata Liu Xiang dengan haru.
Lin Hao melambaikan tangan. “Kalau begitu, minta Kakak Senior Nianqiu mengajari Qingyi dengan baik.”
“Dia sebentar lagi duduk di kelas tiga SMA. Nilainya memang harus ditingkatkan.”
“Bibi, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.”
“Mulai sekarang, kurang lebih aku akan datang pada jam yang sama. Di waktu lain, Bibi bisa keluar berjalan-jalan.”
Setelah berkata demikian, ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di dalam mobil, Lin Hao teringat fitnah yang baru saja ia lontarkan kepada Lin Qingyi. Gadis yang nilainya selalu berada di urutan terbawah, manja, pilih-pilih makanan, dan memiliki pencernaan yang buruk—memikirkannya saja membuat Lin Hao geli.
Mobil melaju kencang di jalan raya dan tak lama kemudian tiba di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Kota Jiang.
Menyusuri jalan berliku di halaman rumah sakit, ia sampai di kamar rawat Xie Zhan.
Hari itu, Xie Hu yang berjaga, sementara Lin Xiaoxuan duduk di samping sambil membaca sebuah kitab kuno.
“Kakek, cucu kesayanganmu datang menjenguk!” seru Lin Hao.
Melihat kedatangan Lin Hao, wajah Xie Zhan pun menampilkan senyum ramah.
“Xiao Hao, lagi-lagi aku harus merepotkanmu untuk memeriksa penyakitku.”
Xie Hu mendengus dingin kepada Lin Hao. Walaupun Lin Hao telah menyelamatkan nyawa ayahnya, ia masih mengingat bagaimana pemuda itu pernah menghasut ayahnya untuk memukulinya dengan ikat pinggang.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Xiao Hao, kalau tidak salah sekarang kau duduk di kelas dua SMA, bukan? Pada jam seperti ini, bukankah seharusnya kau belajar?” tanyanya.
Lin Hao menyeringai lebar, lalu langsung menyela, “Paman, apa-apaan ucapanmu itu?”
“Mana mungkin belajar lebih penting daripada kesehatan Kakekku?”
“Cucu yang bahkan belum diakui secara resmi seperti aku saja punya kesadaran semacam ini. Kenapa Paman tidak bisa memikirkan Kakek?”
“Lihat saja betapa senangnya Kakek saat aku datang. Tidak seperti ketika berada di sebelah Paman—wajahnya hampir memanjang seperti pare pahit.”
Xie Zhan juga mendengus. “Berdiri tegak!”
Mendengar perintah Xie Zhan, Xie Hu langsung bangkit dan berdiri dalam sikap sempurna seperti seorang prajurit.
Ia menatap tajam Lin Hao. Maksudnya tadi adalah, Lin Hao bisa datang mengobati ayahnya pada malam hari, saat tidak ada kegiatan sekolah.
Lin Hao segera maju untuk menenangkan keadaan. “Kakek, sebenarnya Paman sangat menyayangimu.”
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mencari rekaman yang ia ambil setelah operasi Xie Hu selesai—rekaman ketika Xie Hu menangis tersedu-sedu.
Dalam video itu, Xie Hu berlutut di sisi meja operasi dengan wajah penuh kesedihan. Sesekali ia mengisap hidung dan terisak, sambil menangis lirih.
Pemandangan ayah dan anak yang tampak begitu penuh kasih itu seketika membuat wajah tua Xie Zhan memerah karena murka.
Xie Hu mengecilkan lehernya. Ia tidak menyangka pemuda itu ternyata merekam video pada hari itu.
“Jadi kau memang sangat ingin aku mati, ya?” dengus Xie Zhan. “Besok bawa beban dua puluh lima kilogram dan lari lintas alam sejauh dua puluh kilometer!”
Xie Hu mengerucutkan bibir dan menjawab dengan lesu, “Baik, Ayah.”
Lin Hao menasihati, “Kakek Xie, aku tahu kondisi tubuhmu sekarang belum memungkinkan untuk melakukan latihan berat.”
“Pukulan untuk Paman Xie ini akan kusimpan dulu sebagai utang.”
“Aku melihat di beberapa video pendek belakangan ini ada orang yang menggunakan cambuk untuk latihan pemulihan. Nanti akan kubawakan satu untukmu.”
“Terbuat dari kulit anak sapi. Dijamin sangat kuat!”
Xie Zhan menatap Lin Hao dengan bingung. Ia tidak pernah berpikir untuk memukuli Xie Hu sekali lagi.
Namun, karena pembicaraan sudah sampai di titik itu dan hal tersebut mungkin dapat mempercepat pemulihan tubuhnya, anggap saja ia sedang mengikuti anjuran dokter.
Xie Hu menatap Lin Hao dengan penuh kepedihan. Untuk apa tadi ia mencari gara-gara dengan pemuda itu? Ia benar-benar menyesal.
Melihat suasana santai di kamar rawat, Lin Xiaoxuan menutup mulutnya dan terkikik.
Seharian ia menemani lelaki tua itu, tetapi Xie Zhan selalu tampak serius. Begitu Lin Hao datang, suasana langsung menjadi hidup.
Ia merasa sangat bersalah. Selama ini, tampaknya ia tidak pernah benar-benar memedulikan adik laki-lakinya.
Dengan ragu-ragu, ia menghampiri Lin Hao dan bertanya, “Xiao Hao, apakah Kakak perlu membuatkanmu beberapa mangkuk lagi sup plum asam?”
Lin Hao melirik Lin Xiaoxuan. Melihat kegugupan di wajahnya, ia mengangguk pelan.
Bagaimanapun, hari itu ia tidak melihat Zhou Han di kamar rawat. Lin Xiaoxuan tampaknya sedang berusaha menebus kesalahannya sendiri. Ia harus memberinya sedikit harapan.
Kalau tidak, nanti hanya karena mendengar beberapa patah kata dari Zhou Han yang bermuka dua itu, ia bisa diam-diam mengkhianati keluarga Lin. Itu tentu akan merepotkan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Wajah Lin Xiaoxuan langsung dipenuhi kegembiraan. Ia membalik kitab kuno yang dibacanya dan menaruhnya di atas kursi, lalu bergegas keluar dari kamar rawat.
Setelah Lin Xiaoxuan pergi, Lin Hao menarik sebuah bangku dan memeriksa denyut nadi Xie Zhan.
Xie Zhan melirik ke arah pintu. Wajahnya tampak bimbang.
Melihat lelaki tua itu hampir menuliskan kegelisahannya di kening, Lin Hao pun berkata, “Kakek, kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja terus terang. Jangan sampai kau menahannya hingga jatuh sakit.”
“Usiamu sudah setua ini, tetapi bicaramu masih tersendat-sendat.”
Xie Zhan mengerucutkan bibir. Bocah ini benar-benar tidak boleh terlalu dimanja.
Akhirnya ia berkata, “Hari ini, aku selalu merasa tatapan Dokter Lin kepadaku agak aneh.”
Lin Hao menatap Xie Zhan dengan wajah terkejut. “Jangan-jangan Kakek mengira masih terlihat menawan di usia senja?”
“Pikiran Kakek ternyata cukup liar juga, ya?”
“Gadis muda yang cantik menyukai lelaki tua sepertimu?”
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Xie Zhan.
“Tidak demam juga. Kenapa tiba-tiba mulai mengigau?”
“Atau perlu dipindahkan ke bagian psikiatri?”
Wajah tua Xie Zhan memerah. Ia menepis tangan Lin Hao yang terulur dan membantah, “Aku sebaya dengan kakeknya. Mana mungkin aku masih berharap terlihat menawan di usia senja!”
“Kakek pernah turun ke medan perang. Aku tahu betul apa yang kurasakan. Dokter Lin hari ini memang sangat aneh.”
Seolah teringat sesuatu, ia bertanya, “Apakah rumah sakit kita sedang kekurangan pasien? Aku tidak pernah melihat Dokter Lin keluar untuk memeriksa pasien lain.”
Lin Hao berpikir sejenak mengenai alur cerita, lalu kira-kira memahami apa yang terjadi pada Lin Xiaoxuan.
Dalam kisah aslinya, karena Xie Zhan nyaris tewas akibat tusukan jarum akupunktur darinya, Lin Xiaoxuan tidak berani menjalankan praktik pengobatan selama waktu yang cukup lama.
Meskipun dirinya telah mengubah jalan cerita, Lin Xiaoxuan tetap hampir saja membunuh Xie Zhan dengan jarum akupunktur.
Sekarang, seharusnya ia mengalami trauma psikologis yang sangat berat terhadap akupunktur.
Dalam cerita tersebut, Lin Xiaoxuan adalah seseorang yang sangat teguh mengejar ilmu pengobatan dan memiliki ketekunan mendalam terhadap pengobatan tradisional Tiongkok.
Karena itulah Zhou Han, yang membantunya keluar dari trauma tersebut, menjadi sosok yang menempati posisi kedua terpenting di hatinya setelah pengobatan tradisional Tiongkok.
Adapun alasan ia terus memandang lelaki tua itu, mungkin semata-mata karena ia ingin mengatasi rasa takutnya sendiri.
Halaman (3/3)