Bab 37 Biar kulihat dulu, sebenarnya ada apa?
Halaman (1/3)
Mendengar perkataan Lin Hao, semua murid saling berpandangan.
Sebagian besar dari mereka memang menyimpan niat seperti itu—menjadikan perundungan terhadap Lin Qingyi sebagai tontonan yang menghibur.
Lin Hao melirik Liu Dao. “Kalau kalian tidak merekam, sudahlah. Tapi bagi yang merekam, beri mereka pelajaran.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Malam ini kalian pergi ke tempat biasa. Catat atas namaku.”
“Siap, Kak Hao! Serahkan saja kepadaku!”
“Dijamin setelah ini mereka tidak akan berani ikut-ikutan lagi!” kata Liu Dao sambil tertawa.
Lin Hao menepuk punggung Lin Qingyi. “Hari ini kau istirahat saja. Aku akan membawamu membeli pakaian ganti.”
“Sore nanti temani aku membantu Kakak Senior Nianqiu pindahan.”
Lin Hao mendatangi Huang Deren. “Pindahkan Qingyi dan Jiang Shan ke kelasku.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Jiang Shan. Setelah ragu sejenak, ia berkata, “Bisakah hari ini kau menemani Qingyi?”
Undangan mendadak dari Lin Hao membuat Jiang Shan gugup. “Tapi... hari ini masih ada pelajaran.”
Huang Deren menyela, “Tidak masalah. Kalau kalian tertinggal pelajaran hari ini, akan kuatur guru khusus untuk mengajari kalian.”
Jiang Shan memandang Lin Qingyi dengan ragu, lalu mengangguk pelan.
Lin Hao menggendong tas Lin Qingyi dan membawa kedua gadis itu meninggalkan kelas.
Sebelum pergi, ia secara khusus berpesan kepada Cheng Yuan,
“Gendut, kali ini kau tinggal sendirian di sekolah dan belajar yang rajin, ya!”
“Uang sekolah kita bertiga sudah dibayar. Jadi kau harus belajar untuk menggantikan jatah kami bertiga juga!”
Sesampainya di luar kelas, Lin Hao menepuk kepala kecil Lin Qingyi.
“Qingyi, kalau kau terus bergelayut di tubuhku seperti ini, aku jadi sulit berjalan.”
Lin Qingyi mengerucutkan bibir. Setelah ragu sesaat, ia malah memeluk lengan Lin Hao erat-erat.
Lin Hao menatap Jiang Shan dengan canggung, lalu berkata meminta maaf, “Qingyi sangat ketakutan hari ini.”
“Ini juga salahku. Selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya, sampai-sampai dia harus menanggung begitu banyak penderitaan.”
Jiang Shan menggelengkan kepala, lalu menatap Lin Hao dengan rasa ingin tahu. “Teman sekelas Lin Hao, Qingyi benar-benar adikmu?”
“Aku tidak pernah mendengar dia bercerita bahwa dirinya memiliki seorang kakak laki-laki.”
“Lalu, mengapa kau bisa memanggil begitu banyak orang?”
Lin Hao melirik Lin Qingyi, kemudian berkata, “Aku putra ketua Grup Lin.”
“Qingyi adalah adik kandungku, meskipun kami tidak memiliki ayah dan ibu yang sama!”
“Tak kusangka, gadis malang yang dulu selalu ditindas ternyata adalah putri bungsu keluarga konglomerat papan atas!”
Mendengar perkataan Lin Hao, Jiang Shan tanpa sadar mengangguk.
“Adapun alasan Qingyi menjadi seperti ini...”
Saat Lin Hao hendak menjelaskan, Lin Qingyi buru-buru menyela,
“Kak, ayo cepat pergi.”
Lin Hao terdiam sejenak. Ia menduga Lin Qingyi masih belum mengakui keluarga Lin, sehingga tidak melanjutkan perkataannya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ketiganya segera tiba di tempat parkir.
Melihat mobil Ferrari di hadapannya yang hanya memiliki dua tempat duduk, wajah Lin Hao tampak sedikit canggung.
Mobil-mobil supercepat ini memang bagus, tetapi sepertinya dibuat seolah-olah pemiliknya sama sekali tidak punya kebiasaan membawa penumpang.
Tiba-tiba teringat sesuatu, ia membuka pintu mobil dan melemparkan dua ponsel Nanas yang baru dibelinya pagi tadi kepada kedua gadis itu.
“Dua ponsel ini untuk kalian.”
“Kalian tunggu di sini dan biasakan diri dengan cara menggunakannya. Aku akan mengganti mobil.”
Jiang Shan memandangi ponsel Nanas model terbaru di tangannya. Versi dengan spesifikasi tertinggi itu harganya sekitar sepuluh ribu yuan.
“Ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya,” katanya buru-buru sambil menolak.
Namun, ketika mengucapkan itu, pandangannya terus tertuju pada ponsel yang masih tersegel tersebut.
“Ambillah. Kalau hari ini tidak ada kau, hidup adikku mungkin sudah hancur,” kata Lin Hao dengan murah hati.
Lin Qingyi juga mengangguk kepada Jiang Shan dan berkata pelan, “Terima kasih.”
“Bukan hanya hari ini.”
Mendengar perkataan Lin Qingyi, barulah Jiang Shan menerima ponsel itu.
Lin Hao menyibakkan rambut Lin Qingyi, lalu mengambil ponsel yang baru diberikannya dan menyimpan nomor teleponnya di sana.
“Duduk manis di sini. Setelah aku kembali, akan kubantu menyisir rambutmu.”
Lin Qingyi mengangguk berkali-kali dengan patuh. “Kalau begitu, Kakak hati-hati di jalan!”
Setelah masuk ke dalam mobil, Lin Hao membuka platform Video Tanda Jerawat miliknya.
Video yang menuduh Lin Qingyi menjual diri telah diunggah ke internet oleh orang-orang tadi. Ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat halaman platform itu tak kunjung terbuka, Lin Hao tanpa sadar mengernyitkan kening.
“Ada apa ini?”
“Bukankah ponsel ini baru kubeli bulan lalu?”
“Seburuk inikah kualitas ponsel di dunia ini?”
Lebih dari sepuluh menit kemudian, ia tiba di Alun-alun Jiangcheng. Setelah memarkir Ferrari, ia mencari mobil dengan empat tempat duduk.
Saat hendak menyalakan mesin, platform Video Tanda Jerawat itu akhirnya terbuka. Pesan-pesan langsung bermunculan tanpa henti, seperti longsoran salju.
“Bung, nyanyianmu enak sekali didengar!”
“Bung, maukah berjalan-jalan bersamaku di jalanan Jiangcheng? Lampiran: foto mengenakan stoking hitam.”
“Halo, kami dari Hiburan Tianyi. Kami berharap dapat bekerja sama dengan Anda.”
“Saudaraku, kirimkan lima puluh kepadaku. Biar kulihat kemampuanmu!”
“Orang ini pasti jelek sekali. Kalau wajahnya lumayan tampan, dia tidak akan memakai masker!”
“...”
Lin Hao menggertakkan gigi dengan kesal. Foto stoking hitam itu bahkan belum sempat dimuat, sudah tertimbun oleh pesan-pesan lain!
Sialan!
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Dengan penasaran, ia memeriksa jumlah pengikut akunnya. Angkanya telah mencapai dua juta dua ratus delapan puluh ribu—jumlah yang sungguh mencengangkan!
Hanya dengan satu video bernyanyi sambil memainkan alat musik, ia ternyata langsung mendapatkan lebih dari dua juta pengikut!
Awalnya Lin Hao merasa dirinya bukan orang yang suka pamer. Namun, setelah melihat begitu banyak pengikut, tanpa sadar ia memamerkan giginya lebar-lebar sambil tertawa kegirangan.
Dengan dua juta pengikut, satu iklan saja pasti bisa menghasilkan lebih dari sepuluh ribu yuan!
Memang tidak sebanding dengan kehidupannya sekarang, tetapi setidaknya ia memiliki jalan keluar tambahan.
Ia menggulir lebih dari sepuluh video pendek. Hampir semuanya menggunakan rekaman suaranya untuk video perubahan penampilan atau nyanyian ulang. Ia sama sekali tidak menemukan video tentang Lin Qingyi.
Tiba-tiba ia teringat bahwa platform Video Tanda Jerawat juga memiliki rekomendasi video lokal.
Setelah membukanya, video miliknya berada di urutan pertama dalam daftar pencarian terpopuler. Di posisi kedua, ada video tentang Lin Qingyi.
Judul videonya berbunyi: “Siswi SMA rela dipelihara demi merasakan layanan potong rambut mahal!”
Isi video itu hanya menampilkan wajah samping Lin Hao dengan penampilan ala orang kaya baru. Selebihnya adalah rekaman Lin Qingyi yang menundukkan kepala sambil dihina.
Narasi video tersebut menyebutkan bahwa tempat itu merupakan salon rambut kelas atas, dan gadis itu memilih untuk dipelihara oleh anak orang kaya yang memperoleh kekayaan dari ganti rugi pembongkaran gedung hanya demi memotong rambut.
Lin Hao membuka kolom komentar. Isinya penuh dengan perkataan yang menjijikkan.
“Gadis-gadis zaman sekarang benar-benar terlalu materialistis! Hanya demi memotong rambut, mereka bahkan rela menjual tubuh sendiri!”
“Dia masih siswi pula. Pria itu benar-benar untung besar!”
“Temanku ingin bertanya, berapa tarifnya untuk semalam? Sungguh, yang ingin bertanya itu temanku.”
“Aku pernah melihatnya sebelumnya. Lima ratus yuan semalam. Wajahnya masih sangat muda!”
“Benar-benar mempermalukan Jiangcheng. Bisakah kau pergi dari Jiangcheng sendirian?”
“...”
Melihat video dan komentar-komentar itu, wajah Lin Hao menjadi semakin muram.
Hanya karena sebuah video yang dibuat berdasarkan kabar angin, Gu Cancan terdorong untuk merundung Lin Qingyi, hingga hampir menghancurkan hidup gadis itu.
“Sial! Sekumpulan binatang yang memakan darah manusia!” makinya dengan marah.
Ia terlebih dahulu menelepon manajer salon Muses. Ia berniat mendapatkan rekaman lengkap kejadian saat itu.
“Tuan Muda Lin, Anda ingin video kemarin, bukan?”
“Begitu melihat video itu pagi tadi, saya langsung mengumpulkan rekaman kamera pengawasnya.”
“Saya akan mengirimkannya sekarang,” kata sang manajer, yang telah menebak maksud Lin Hao.
Setelah menutup telepon, Lin Hao melihat dua video yang dikirimkan sang manajer.
Salah satunya adalah rekaman kamera pengawas asli yang belum diedit. Sementara yang lain telah diberi efek mosaik pada salon dan para pegawainya.
“Manajernya ternyata cukup cerdik,” ujar Lin Hao sambil tersenyum.
Ia mengirimkan video yang diunduh dari internet, yang berisi fitnah terhadap Lin Qingyi, beserta rekaman kamera pengawas yang diperolehnya kepada Qin Lan, pengacara Grup Lin. Ia juga mengirimkan sebuah pesan:
“Kak Qin Lan, pagi ini tolong bantu mengamankan bukti-bukti orang-orang yang menyebarkan rumor dan memfitnahku serta adikku.”
“Bersiaplah untuk menggugat mereka semua.”
Halaman (3/3)