Bab 54: Ternyata Bukan Kamu yang Tidak Bisa, Melainkan Aku yang Tidak Pantas
Jam makan siang, seluruh guru dan murid berkumpul di kantin untuk makan.
Alat penghisap asap di sekolah tidak bekerja dengan terlalu baik. Juru masak Liu sedang menggoreng hidangan di dapur belakang, dan aroma yang pekat langsung meruap masuk ke dalam ruang makan.
Terdengar suara desisan, bagaikan minyak panas yang disiramkan ke atas sesuatu.
Segera setelah itu, aroma merica Sichuan dan cabai yang bercampur dengan kelezatan daging ikan segar melayang keluar dari dapur belakang.
"Ikan rebus pedas! Ini pasti ikan rebus pedas!"
"Aromanya benar-benar sangat autentik!"
Tak lama kemudian, terdengar suara gesekan sendok penggorengan dari dapur belakang, disusul dengan aroma pasta kacang kedelai hitam yang bercampur dengan daging babi.
"Eh, bukankah ini daging babi masak dua kali yang baru saja kaupesan?" ejek seorang murid.
Murid pemesan daging babi masak dua kali itu mengendus-endus sambil memasang ekspresi sedih. "Ternyata bukan karena dia tidak bisa memasaknya, melainkan aku yang tidak layak!"
"Tadi sepertinya aku melihat udang karang! Dan itu saus bawang putih!"
"Wah! Aromanya sedap sekali! Apakah koki sekolah kita sehebat ini?"
Para siswa di dalam kantin menghirup aroma yang terusmenerus melayang keluar dari dapur belakang, lalu melihat ke arah sup bening hambar di piring masing-masing, dan mau tidak mau meratapi nasib mereka yang begitu malang.
Pada saat ini, Kepala Sekolah Huang Deren baru saja selesai mengurus berbagai urusan dan melangkah masuk ke kantin.
Begitu mencium aroma yang begitu pekat ini, ia mendekati jendela dan berteriak ke arah dapur belakang.
"Juru Masak Liu, sedang masak apa, harum sekali!"
"Buatkan aku sedikit juga ya."
Juru Masak Liu menjulurkan kepalanya dan berkata dengan canggung, "Kepala Sekolah, masakan ini disiapkan untuk Tuan Muda Lin, porsinya sudah dihitung pas."
Sudut bibir Huang Deren berkedut, dan dengan diam-diam ia pergi mengantre untuk mengambil makanan.
"Hahaha, Kawan, kau tidak rugi!"
"Kau tidak bisa memakannya, Kepala Sekolah juga tidak bisa memakannya. Jika dibulatkan, bukankah itu berarti kau setara dengan Kepala Sekolah!"
"Pantas saja Juru Masak Liu, bahkan Kepala Sekolah pun tidak diberi muka!"
"Sebenarnya siapa siswa tadi, sampai-sampai Kepala Sekolah pun tidak berani memakan hidangan yang dimasak untuknya."
Mendengar perbincangan para siswa, Huang Deren menciutkan lehernya dan mau tak mau mengerucutkan bibirnya.
"Jelas-jelas aku ini... aku ini... Lupakan saja, aku memang penakut."
"Tuan muda itu, di Kota Jiangcheng bahkan hanya segelintir orang yang berani menandinginya."
Tak lama kemudian, Juru Masak Liu keluar dari dapur belakang membawa sebuah nampan besar.
Dapur belakang hanya memiliki satu pintu keluar, yang kebetulan berada di sudut diagonal dari tangga ruang makan.
Daging babi masak dua kali, udang karang saus bawang putih, ikan rebus pedas, tumis sayuran segar, dan sup ikan Danau Xi, empat hidangan dan satu sup, tersusun penuh sesak di atas nampan.
Melewati seluruh kantin, di bawah tatapan mata merah dari semua siswa, hidangan itu dibawa ke ruang pribadi di lantai dua.
Di sisi lain, Lin Hao bersama tiga orang lainnya duduk di dalam ruang pribadi.
Ruangan pribadi ini biasanya digunakan untuk menjamu tamu-tamu penting yang datang ke sekolah dan tidak dibuka untuk umum.
Lin Hao dengan ringan menjentikkan jarinya ke dahi Lin Qingyi dan berkata dengan ekspresi serius.
"Kau sudah besar. Nanti kalau sudah punya pacar, jangan berpelukan erat-erat seperti ini lagi, mengerti?"
Lin Qingyi menundukkan kepalanya, menutupi keningnya, dan dengan perasaan sedih melepaskan pelukannya.
Begitu menunduk, ia tiba-tiba menutupi dadanya, dan wajahnya mulai merona merah.
Ia membela diri dengan suara pelan, "Karena kau adalah Kakak, makanya aku memelukmu seperti ini."
Lin Hao mencubit pipinya, sekalian memberikan edukasi tentang pengetahuan hukum kepadanya.
"Dalam kasus kejahatan terhadap perempuan, probabilitas kejahatan yang dilakukan oleh orang yang dikenal jauh lebih tinggi daripada orang asing. Kita harus selalu waspada terhadap orang lain."
"Jadi mulai sekarang kau harus belajar tidur sendiri dan ke toilet sendiri."
Sambil berbicara, ia bahkan bersenandung, "Mulai hari ini, aku akan pergi ke toilet sendiri~"
"Ayah dan Ibu, jangan remehkan aku~"
Lin Qingyi bergumam pelan. Lagipula waktu masih pagi, nanti malam, paling-paling ia tinggal mengetuk pintu kamar kakaknya secara diam-diam.
Mendengar Lin Hao mengatakan ingin menyuruh Lin Qingyi tidur sendiri, Jiang Shuang tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.
Lin Qingyi begitu polos dan murni, ia tidak ingin Lin Qingyi ditipu oleh orang lain, bahkan jika orang itu adalah Lin Hao sekalipun.
Namun, setelah mendengarkan lagu Lin Hao selanjutnya, ekspresinya melunak. Ia memperkirakan Lin Hao hanya sedang bergurau.
"Kak Hao, lagu apa saja yang kaunyanyikan ini!" ejek Cheng Yuan.
Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, "Tapi soal Liang Wanwan di sana, apakah benar-benar tidak apa-apa tidak membelikannya makan siang?"
Lin Hao merentangkan tangan dengan tak berdaya. "Bukankah sudah kukatakan aku akan membawakannya jika aku berhasil mendapatkan hidangan yang ingin ia makan, tetapi aku tidak mendapatkannya."
"Sudahlah, abaikan saja. Dia tidak mungkin mati kelaparan hanya karena aku tidak membawakannya makanan, kan?"
Lin Qingyi tertawa kecil secara sembunyi-sembunyi. "Kakak, kau ini semakin hari semakin nakal."
Lin Hao mengacak-acak rambut Lin Qingyi. "Sore nanti aku akan pergi mengobati bibi dan lelaki tua itu. Kau yang baik di sekolah ya."
Ia menoleh ke arah Cheng Yuan. "Si Gemuk, makanlah yang banyak siang ini. Kalau ada orang yang datang mencari masalah, hubungi aku."
"Begitu aku kembali, akan kuhabisi keparat itu!"
Cheng Yuan menepuk dadanya sebagai jaminan. "Ayah Angkat, serahkan semuanya padaku!"
Lin Qingyi mengerucutkan bibirnya dengan sedih dan berucap pelan, "Baik..."
"Belajarlah dengan giat, jangan sepertiku yang tidak punya ilmu dan hanya tahu menghabiskan uang Ayah dan Ibu. Masih saja memikirkan adik perempuan yang kelak setelah dewasa akan mencari uang untuk diberikan kepadaku, tahu?" canda Lin Hao.
Lin Qingyi mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu, nanti kalau aku sudah menghasilkan uang, semuanya akan kuberikan untuk Kakak!"
Ia tiba-tiba teringat sesuatu, lalu menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.
"Kalau begitu Kakak, apakah cara seperti ini sudah bisa dianggap menghidupimu?"
Lin Hao mengangguk berulang kali. "Tentu saja dihitung!"
Mendengar perkataan Lin Qingyi, hatinya merasa sangat lega.
Tidak sia-sia ia bekerja keras memanjakan Lin Qingyi, akhirnya usahanya membuahkan sedikit hasil!
"Krieet~" Pintu ruang VVIP terbuka, dan Juru Masak Liu meletakkan piring demi piring makanan ke atas meja makan.
"Tuan Muda Lin, jika kurang atau masih ingin makan sesuatu, katakan saja," kata Juru Masak Liu sambil tersenyum.
Lin Hao mengangguk, lalu menyambut yang lainnya. "Masakan Paman Liu ini benar-benar tiada duanya. Kalian sungguh beruntung hari ini!"
Ia melirik Juru Masak Liu dan bertanya, "Paman Liu, apakah cucumu Jiajia sebentar lagi akan masuk SD? Sepertinya sudah lama aku tidak melihatnya."
Juru Masak Liu menghela napas pelan dan menggelengkan kepala. "Kartu keluarga Jiajia tidak terdaftar di sini, jadi dia harus kembali ke kampung halaman di desa untuk bersekolah."
"Aku rasa sebulan lagi aku juga akan pulang kampung. Aku khawatir membiarkan cucu sendirian di desa."
Lin Hao merenung sejenak, lalu bertanya.
"SD Nomor 2 Kota Jiangcheng, bagaimana menurutmu?"
"Letaknya lebih dekat dengan sekolah kita, jadi kau juga lebih mudah merawatnya."
Mendengar perkataan Lin Hao, mata Juru Masak Liu langsung basah.
Demi urusan sekolah cucunya, ia sudah bolak-balik mengurusnya berkali-kali, bahkan sudah memohon kepada Kepala Sekolah, tetapi masalah status kependudukan selalu tidak ada jalan keluarnya.
Ia melihat sekeliling ruang pribadi sebanyak dua kali, lalu menemukan sebotol bir di sudut ruangan.
"Tuan Muda Lin, yang lain tidak akan banyak kukatakan." Ia membuka tutup botol dengan giginya, lalu menenggak seluruh botol bir dalam sekali teguk.
"Paman Liu, apa yang sedang kau lakukan!" kata Lin Hao tanpa berdaya. "Nanti suruh saja Jiajia bersiap-siap untuk mengikuti ujian di SD Nomor 2."
"Jika dia bisa lulus, dia boleh tinggal. Kalau tidak, jika pelajarannya tidak terkejar, memaksanya tinggal di sini justru akan mencelakakannya."
Juru Masak Liu mengangguk berulang kali. "Jiajia pasti bisa lulus, dia anak yang sangat pintar."
"Jika dia tidak lulus, aku tidak akan pernah datang untuk merepotkan Tuan Muda Lin lagi."
Lin Hao mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Juru Masak Liu.
Ia memandangi hidangan di atas meja, lalu menatap punggung Juru Masak Liu, dan mau tak mau mendesah dalam hati.
"Uang benar-benar adalah hal yang luar biasa."
"Hal-hal yang sulit diselesaikan orang lain dengan menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bagi dirimu sendiri hanya butuh satu kalimat untuk menyelesaikannya."
Ia mengacak-acak rambut Lin Qingyi dan berpesan, "Kelak belajarlah dengan giat, teruslah maju setiap hari, jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting."
"Jantung kakakmu ini kurang sehat, impian seumur hidupnya hanya ingin mendekap puluhan miliar simpanan di dalam pelukan dan menjalani hari-hari yang sederhana nan bersahaja ini."