Bab 114: Pria yang Hanya Mengenakan Celana Dalam
Setelah menurunkan benda kerja yang telah selesai diproses dari meja kerja mesin, Lin Fan berkata kepada juri yang sejak tadi mengikutinya, “Sudah selesai.”
Melihat betapa cepatnya ia menyelesaikan pekerjaan, sang juri tampak terkejut sekaligus ragu. Setelah memastikan berulang kali, barulah ia menghentikan pencatat waktu.
“95 menit 28 detik,” kata juri itu kepada Lin Fan, menyebutkan waktu perlombaan sebelum berbalik dan berjalan ke arah juri utama.
Lin Fan bersandar di sisi mesin. Karena juri tersebut tak kunjung kembali, ia berpikir bahwa mungkin sudah tidak ada urusan lagi dengannya.
Ia lalu bertanya kepada juru kamera yang sejak tadi merekam.
Juru kamera itu tampaknya sudah beberapa kali mengikuti kompetisi tingkat provinsi. Setelah memastikan, ia mengangguk, “Seharusnya sudah tidak ada masalah. Kau bisa menunggu di sini sampai peserta lain selesai, sekalian memperkirakan hasilmu sendiri. Atau langsung pergi juga boleh. Bagaimanapun, benda kerja ini akan dibiarkan di sini. Setelah waktu perlombaan berakhir, semuanya akan diukur menggunakan alat ukur secara serentak. Kau juga tidak akan bisa melihat prosesnya.”
Lin Fan mengucapkan terima kasih kepada juru kamera itu dan bersiap pergi.
Juru kamera tersebut tersenyum. “Dik, aku sudah beberapa kali ikut meliput kompetisi tingkat provinsi, meski tidak terus-menerus. Tapi baru kali ini aku melihat peserta menyelesaikan perlombaan secepat dirimu. Aku sama sekali tidak mengerti soal pemesinan, tetapi kudengar tingkat kesulitan perlombaan kalian kali ini cukup tinggi?”
Lin Fan mengangguk. Tinggi apanya? Ini bukan sekadar sulit, ini benar-benar kelewat gila!
Data yang harus diukur dalam perlombaan pengukuran kali ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan kompetisi tingkat kota. Kabarnya, jumlahnya juga jauh lebih banyak daripada kompetisi tingkat provinsi pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam perlombaan mesin bor-frais lantai kali ini, peserta bahkan langsung diuji mengerjakan pemrosesan kurva! Kalau bukan karena bantuan sistem, Lin Fan memperkirakan dirinya akan sama seperti kebanyakan peserta di sini—hanya bisa melongo menatap benda kerja.
Juru kamera itu jelas tipe orang yang gemar mengobrol. Melihat Lin Fan cukup mudah diajak bicara, ia pun terus mengajukan pertanyaan tanpa henti.
“Asalmu dari mana?”
“Oh, Guanzhou. Aku pernah ke sana. Pemandangannya memang sangat indah.”
“Bekerja di mana?”
“Grup Fukang? Aku belum pernah mendengarnya. Sepupu perempuanku bekerja di Perusahaan Media Fengwu di Guanzhou. Kau pernah mendengar Media Fengwu?”
“Jadi kau bukan orang asli Guanzhou…”
“Tahun ini usiamu berapa? Kulihat kau kira-kira sebaya dengan sepupuku. Kau belum punya pasangan, kan? Kalau begitu…”
Lin Fan merasa kepalanya hampir pecah mendengarnya. Kalau obrolan ini terus berlanjut, besar kemungkinan juru kamera itu benar-benar akan menjodohkan sepupunya dengan Lin Fan.
Entah sepupunya memang begitu ingin segera menikah atau tidak. Namun, melihat wajah juru kamera yang panjang dan pipih seperti cetakan penarik sepatu, lalu membayangkan rupa sepupunya, Lin Fan buru-buru beralasan hendak ke toilet agar bisa lolos dari serangan bertubi-tubi itu.
Walaupun tidak tertarik pada sepupu si wajah penarik sepatu, Lin Fan tak kuasa menahan rasa rindu kepada dua perempuan cantik, yang satu lebih dewasa dan yang satu lebih muda, di pabrik Fukang.
Ia mengirim pesan kepada Yang Xiaoyang.
Setelah mengumpulkan keberanian, Lin Fan menelepon Fang Yining.
Telepon segera tersambung.
“Lin Fan? Kenapa meneleponku? Bukankah kau sedang mengikuti perlombaan?” Suara Fang Yining di seberang terdengar sedikit ragu.
Hati Lin Fan seketika dipenuhi kehangatan. Tampaknya Kak Ning benar-benar peduli kepadanya. Tak peduli bahwa lawan bicaranya tidak dapat melihat, Lin Fan mengangguk-angguk sambil berkata, “Benar. Hari ini aku mengikuti dua perlombaan. Aku baru saja selesai bertanding dengan mesin bor-frais dan sekarang sedang menunggu hasilnya. Karena bosan, aku meneleponmu.”
Tentu saja Lin Fan tidak berani mengatakan bahwa ia merindukannya. Ia hanya bisa beralasan sedang bosan.
“Dua perlombaan… Hahaha, jangan-jangan kali ini kau juga mendaftarkan diri untuk beberapa perlombaan?” tanya Fang Yining dengan geli.
Dalam kompetisi tingkat kota sebelumnya, Lin Fan berturut-turut mengikuti beberapa perlombaan. Dalang di balik semua itu adalah Fang Yining. Terutama ketika ia membuat Lin Fan mengikuti dua perlombaan pada waktu yang sama, hingga akhirnya Lin Fan kehilangan posisi juara pertama dalam kategori mesin bor-frais gantri karena masalah waktu.
“Benar.” Lin Fan tertawa getir. “Entah apakah Pak Liu belajar darimu atau tidak. Kali ini, tanpa pikir panjang, dia mendaftarkanku untuk empat kategori perlombaan.”
“Dasar Lin Fan! Tak kusangka setelah sekian lama berlalu, kau masih menyimpan dendam kepadaku!” Fang Yining merajuk. Namun, nada suaranya segera berubah cemas. “Empat perlombaan dalam dua hari. Kali ini tidak akan ada kejadian konyol seperti harus mengikuti dua perlombaan secara bersamaan, kan?”
“Tidak akan. Hanya saja, karena itu aku jadi tidak punya waktu untuk jalan-jalan.” Lin Fan tersenyum.
Fang Yining pun merasa lega. Dengan suara ceria, ia berkata, “Kota Xinzhou juga tidak jauh dari Guanzhou. Kalau nanti kau ingin jalan-jalan dan ada waktu, aku bisa menemanimu. Untuk sekarang, lebih baik kau fokus pada perlombaan. Usahakan memenangkan beberapa juara pertama agar bisa mengharumkan nama pabrik Fukang kita.”
…
Sambil menelepon, Lin Fan berjalan keluar dari lokasi perlombaan.
Sesampainya di depan bengkel, ia memanggil sebuah kendaraan wisata listrik. Setelah memberi tahu sopirnya untuk mengantarnya ke gerbang, Lin Fan duduk dengan nyaman di kursi belakang dan melanjutkan obrolan panjangnya dengan Fang Yining.
Lin Fan dapat merasakan bahwa sejak Fang Yining turun dari jabatan kepala bengkel sementara, kepribadiannya banyak berubah.
Setidaknya, ia tidak lagi seperti dulu, ketika bahkan berbicara santai pun selalu dengan sikap yang begitu serius.
Fang Yining yang sekarang, baik saat menelepon maupun ketika bertemu Lin Fan di bengkel, selalu memancarkan kehangatan yang membuat hati Lin Fan terus terasa nyaman.
Yang tidak diketahui Lin Fan adalah bahwa Fang Yining tidak bersikap seperti itu kepada semua orang.
Mereka kembali mengobrol selama beberapa saat. Tentu saja, sebagian besar Lin Fan gunakan untuk mengeluhkan betapa buruknya aturan perlombaan kali ini.
“Hah? Mengukur lebih dari sepuluh ukuran dalam tiga puluh menit? Perlombaan macam apa itu…” Sebagai mantan petugas pemeriksaan mutu, Fang Yining tentu tahu bahwa aturan pengukuran dalam kompetisi tingkat provinsi kali ini memang tidak masuk akal.
Lin Fan sangat setuju. Ia baru saja hendak menambahkan beberapa keluhan ketika Fang Yining tiba-tiba berkata, “Maaf, ada telepon masuk. Nanti aku meneleponmu lagi.”
“Tidak perlu, aku juga tidak ada urusan penting,” Lin Fan buru-buru menolak.
Sopir kendaraan listrik itu menoleh dan memandang Lin Fan. Dengan penuh minat, ia bertanya, “Sedang menelepon pacar?”
“Bukan.” Lin Fan tersenyum. “Hanya teman biasa.”
“Mana ada orang yang baru selesai bertanding langsung menelepon teman biasa.” Sopir itu berbicara dengan nada seperti orang yang sudah banyak makan asam garam. “Tapi, Dik, kecepatanmu dalam perlombaan ini luar biasa juga.”
Lin Fan menjawab sekenanya beberapa kali, kemudian menyandarkan tubuh di kursi dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Beberapa menit kemudian, kendaraan wisata itu tiba di depan Perusahaan Manufaktur Hongli. Lin Fan baru saja hendak menelepon Gao Kecil ketika melihat pemuda itu sedang bersandar di sebuah bus kecil. Ia memainkan ponselnya sambil tertawa cekikikan.
“Menertawakan apa?” Lin Fan tiba-tiba menepuk bahunya.
Gao Kecil terkejut. Begitu mengangkat kepala dan melihat Lin Fan, wajah marahnya seketika berubah menjadi tawa yang bahkan lebih lebar. Ia diam-diam mengarahkan layar ponselnya ke depan Lin Fan sambil berkata, “Lin Fan, kau sudah selesai bertanding? Kemarilah, cepat lihat ini…”
“Apa-apaan ini?” Lin Fan tidak tahu kegilaan macam apa yang sedang merasuki Gao Kecil. Ia mengambil ponsel itu dan melihatnya sekilas, lalu langsung ikut tertawa terbahak-bahak bersama Gao Kecil.
Gao Kecil sedang melihat sebuah grup obrolan sementara di aplikasi WeChat. Para anggotanya adalah para pekerja yang mengikuti kompetisi tingkat provinsi kali ini.
Saat itu, sebuah gambar di dalam grup tampak sangat mencolok: seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek bermotif bunga sedang berlari kencang di jalan.
Pria itu tak lain adalah Zhu Zunli!
(Bersambung)
Menarik!