Jilid Satu: Liangshan di Tepi Danau Bagian 1-38: Dukungan Penuh
Melihat tiga meteor tiba-tiba mengubah lintasannya dan serempak mengarah jatuh ke dirinya, Zhao Di langsung menyadari bahwa dirinya tak mungkin bisa menghindar. Ternyata formasi sihir ini benar-benar aneh, sedikit saja digerakkan seluruhnya akan bereaksi. Tadi pikirannya memang terlalu naif, hanya mengandalkan menghindar jelas tidak cukup.
Tombak panjang di tangannya kembali diayunkan, langsung menghantam meteor-meteor yang datang dari tiga arah dan mengurung ruang geraknya. Dentuman berturut-turut terdengar, tiga meteor itu hancur berkeping-keping di bawah tombaknya.
Namun kali ini, Zhao Di bahkan tak sempat mengalihkan tenaga benturan. Tubuhnya menerima hantaman bertubi-tubi dari tiga meteor sekaligus, kekuatan dahsyat itu mengguncang meridiannya hingga tubuhnya tak sanggup menahan, dan ia langsung memuntahkan darah segar.
Namun penderitaannya belum berakhir. Api yang terbentuk dari meteor-meteor itu seketika berubah menjadi lautan api yang melingkupi dirinya. Pada saat bersamaan, energi sejatinya di dalam tubuh menjadi kacau balau, membuatnya sama sekali tak mampu menerobos keluar dari lautan api itu. Ia hanya bisa bertahan sekuat tenaga sementara kobaran api membakar tubuhnya.
Dikelilingi kobaran api, Zhao Di menatap langit dan melihat meteor-meteor seperti hujan turun dari angkasa. Meski ketegarannya sangat kuat, matanya tak bisa menahan berkedut. Ia sadar kali ini dirinya benar-benar dalam masalah besar.
“Sial, andai tahu Song Jiang si licik tua ini akan menjebak pasukan kekaisaran, aku lebih baik tidak muncul,” pikir Zhao Di dengan penuh penyesalan. Jika sedari awal ia tahu Liangshan masih menyimpan trik seperti ini, apapun yang terjadi ia takkan mau ikut campur dalam pertempuran kedua belah pihak.
Tetapi kini semuanya sudah terlambat. Terjebak dalam formasi sihir, Zhao Di hanya bisa berusaha bertahan hidup. Dengan kekuatan batinnya, ia berusaha menyambungkan kesadarannya pada Dewa Dandang di atas altar spiritualnya. Saat ini, hanya Dewa Dandang itu satu-satunya harapannya. Ia bermaksud memanfaatkan Dewa Dandang untuk merasakan keberadaan Wu Song yang juga berada dalam formasi ini. Ia harus memanggil Wu Song untuk melindunginya, sebab jika terlambat sedikit saja, nyawanya bisa melayang di sini.
Saat ini, Zhao Di sudah tak peduli lagi soal rahasianya yang mungkin terbongkar di hadapan orang lain. Ia harus memanggil Wu Song, apapun risikonya.
Formasi sihir ini memang hebat, tetapi Zhao Di masih memiliki sedikit kepercayaan pada Dewa Dandang dalam tubuhnya. Benar saja, dengan bantuan Dewa Dandang, ia segera mengetahui posisi Wu Song. Jarak mereka berdua hampir tak berubah sejak sebelum formasi diaktifkan.
Bukan hanya itu, Zhao Di juga menemukan bahwa dengan kekuatan tambahan dari Dewa Dandang, pikirannya seakan mampu menembus kenyataan dan ilusi. Api yang membara di sekelilingnya dalam persepsi batinnya berubah menjadi bentuk energi murni. Bentuk energi ini sangat unik, terbentuk dari konsentrasi besar energi roh alam yang kemudian dilepaskan secara khusus hingga berubah menjadi energi limbah yang tak dapat digunakan lagi.
Melihat hal itu, Zhao Di langsung bergerak. Dengan dorongan pikirannya, ia mengulurkan tangan dan meraih energi roh alam yang terkonsentrasi dalam api di sekelilingnya. Dewa Dandang dalam tubuhnya bergetar pelan, dan energi roh itu langsung diserap melalui lengannya.
Ternyata ide yang terlintas dengan cepat di benaknya sangat efektif. Wajah Zhao Di pun langsung berseri. Ia tak ragu lagi, dan segera mengumpulkan seluruh pecahan energi roh yang membara di sekitar, lalu menyerapnya dengan bantuan Dewa Dandang.
Cara ini serupa dengan saat ia dulu menetralkan tombak cahaya Yue Fei; semuanya mengandalkan Dewa Dandang. Setelah Dewa Dandang selesai merekonstruksi tubuh Lin Chong, ia memang pernah langsung menyerap energi roh alam dalam jumlah besar dari dunia luar hingga akhirnya tenang kembali. Karena pernah menyaksikan sendiri peristiwa itu, Zhao Di pun teringat untuk mencoba menetralkan serangan energi murni dengan cara yang sama. Hasilnya, ternyata sangat efektif. Kini, setelah tahu pecahan meteor itu hanyalah energi murni, ia yakin Dewa Dandang juga bisa menelannya.
Benar saja, dengan mudah Dewa Dandang menyerap lautan api hasil pecahan meteor itu, membuat Zhao Di sangat gembira.
Pada titik ini, Zhao Di malah mulai merasa tenang. Ia merasakan Dewa Dandang dalam tubuhnya menunjukkan kegembiraan setelah menelan pecahan meteor itu, seperti sangat menginginkan energi dari meteor-meteor yang dihasilkan formasi ini. Bukankah ini berarti ia tanpa sengaja menemukan solusi yang tepat? Mungkin, dengan memanfaatkan kemampuan menelan Dewa Dandang, ia bisa keluar dari bahaya maut ini.
Karena itu, Zhao Di kali ini tidak lagi buru-buru memanggil Wu Song dengan bantuan Dewa Dandang. Ia justru berdiri di tempat, menatap meteor-meteor yang berjatuhan seperti hujan dari langit, menunggu mereka mendekat.
Meteor-meteor itu, dengan ekor panjangnya, meluncur lurus ke arah Zhao Di. Namun Zhao Di malah berdiri tegak, mengangkat kedua tangan seperti hendak merengkuh matahari, menyambut meteor yang datang menabraknya.
Begitu meteor itu memasuki pelukannya, dalam sekejap ukurannya menyusut drastis di depan matanya. Dari sebesar seratus depa, hanya dalam kedipan mata tinggal sepuluh depa, lalu satu depa, lalu lenyap menjadi bola kecil sebesar bola karet, dan akhirnya hilang sama sekali.
Seluruh proses itu berlangsung kurang dari satu tarikan napas.
Namun, meski kecepatan penyerapan meteor dengan Dewa Dandang sangat tinggi, hujan meteor dari langit terlalu deras dan indah. Mereka begitu rapat seperti hujan, semuanya mengarah pada Zhao Di seorang. Karena itu, dalam hujan meteor itu Zhao Di seperti menjadi pusat pusaran, menyerap meteor demi meteor raksasa. Namun kecepatan penyerapannya tetap kalah dibanding kecepatan meteor berjatuhan. Tubuhnya terombang-ambing di udara, terus-menerus dihantam meteor hingga darah segar tak henti-hentinya keluar dari mulutnya, membuat keadaannya sungguh mengenaskan.
Untung Zhao Di sudah tak berniat melawan secara langsung. Sebaliknya, ia memanfaatkan kekuatan benturan meteor untuk membantunya bergerak, sehingga bisa berkelit ke sana kemari di tengah hujan meteor tanpa langsung tewas. Bahkan, dengan bantuan kemampuan menelan Dewa Dandang, ia berhasil menyerap lebih dari tujuh puluh persen meteor yang turun.
Hujan meteor ini memang mengerikan. Namun Zhao Di akhirnya berhasil bertahan hidup dengan segala cara, meski seluruh tubuhnya tampak begitu menyedihkan. Bajunya hangus dan robek, tubuhnya penyok karena hantaman meteor, dan delapan puluh persen kulitnya terbakar. Namun selepas hujan meteor itu berlalu, Zhao Di berdiri di udara dengan mata yang sangat jernih dan sorot wajah penuh kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan.
Sebab, setelah satu putaran penyerapan itu, Zhao Di merasakan Dewa Dandang di tubuhnya mulai berubah. Dandang kuno yang semula kusam kini mulai memancarkan cahaya samar-samar, seolah sedang mengalami transformasi luar biasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan itu begitu nyata.
Saat itu pula, Zhao Di menyadari satu hal: nampaknya Dewa Dandang ini memang membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Semuanya mungkin karena bumi sudah kekurangan energi roh alam, sehingga energi di dalam Dewa Dandang telah habis dan nampak tak berdaya.
Diam-diam Zhao Di mulai menaruh harapan. Ia ingin melihat, setelah menelan cukup banyak energi roh, perubahan seperti apa yang akan terjadi pada Dewa Dandang itu?