Bab 27 Terseret Semakin Jauh oleh Arus Bawah Dasar Sungai
Mendengar suara-suara itu, dahi Shen Sang sedikit berkerut.
Alasan utamanya kembali hari ini bukan sekadar mengantar sang ibu pulang. Ada hal lain yang mendesak. Dalam kehidupannya yang lalu, hari ini terjadi sebuah kasus keji di Kota Nanyuan, yaitu perundungan terhadap seorang anak hingga tewas. Pelakunya adalah Shen Yu, adik laki-lakinya.
Ia selalu mengingatnya. Di kehidupan sebelumnya, saat ini ia baru saja menghadiri jamuan keluarga di kediaman keluarga Xie, difitnah mencuri gelang milik Nyonya Xie, dan bersembunyi di kediaman keluarga Bai karena takut keluar rumah. Ketika ia mengetahui kejadian itu, semuanya sudah terlambat. Lin Liulan yang memberitahunya bahwa Shen Yu telah mencelakai seorang anak hingga tewas dan dijatuhi hukuman. Lin Liulan mengatakan bahwa Shen Yu mendorong seorang anak ke sungai hingga tenggelam.
Padahal, nilai akademik Shen Yu selalu cemerlang. Jika bukan karena kejadian ini, masa depannya pasti sangat cerah. Tragedi ini pula yang membuat ayah tirinya hancur secara mental dan fisik, ditambah beban kerja yang berat, hingga akhirnya mengidap penyakit paru-paru.
Namun, Shen Sang sangat memahami watak dan kepribadian adiknya. Mustahil Shen Yu tega mendorong seorang anak ke sungai hingga tenggelam. Pasti ada sesuatu yang terjadi atau kesalahpahaman di sini. Ia ingat bahwa peristiwa ini terjadi tepat pada sore hari ini.
Di luar, suara remaja memanggil kembali. Shen Yu menoleh ke arah kakak dan ayahnya, lalu menunduk dan berkata, "Yah, Kak, itu teman-temanku di luar. Aku pergi dulu."
Setelah Shen Yu keluar, Shen Sang berkata kepada ayah tirinya, "Yah, aku juga mau keluar sebentar."
"Baik, segera kembali ya."
Shen Sang membuntuti dari belakang. Ia melihat Shen Yu berjalan di depan, lalu ia mengikuti dengan menjaga jarak, sembari mengeluarkan ponsel dan menyalakan mode perekaman. Apa pun yang terjadi, ia tidak percaya Shen Yu sengaja mencelakai anak itu. Di pedesaan seperti ini tidak ada kamera pengawas, jadi rekaman ponselnya akan menjadi bukti. Selain itu, dengan keberadaannya di sini, ia yakin bisa menyelamatkan sang anak, apa pun penyebabnya. Ia pun penasaran apakah kejadian ini ada hubungannya dengan kedua remaja yang menjemput adiknya tadi.
Ia berjalan perlahan tanpa suara. Shen Yu dan kedua temannya sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
***
Shen Yu memang tidak tahu kakaknya mengikuti di belakang. Menghadapi kedua teman sekelasnya itu, ekspresinya tampak tidak senang. Mereka mencoba merangkul bahunya, namun ia segera menepisnya.
"Liu Yongli, Feng Hu, apa mau kalian? Bicara langsung saja, aku tidak merasa kita ini teman," ucap Shen Yu dingin.
Keduanya merasa tersinggung karena ditepis. Wajah mereka berubah masam, dan tanpa menahan diri, salah satu dari mereka melayangkan tinju ke wajah Shen Yu.
"Shen Yu, jangan sok suci! Mentang-mentang nilai bagus, kami memanggilmu keluar saja sudah merupakan penghormatan. Lihat dirimu, pendek, tidak ada yang bisa dibanggakan. Lagipula, kau punya kakak perempuan yang cuma sampah di dunia hiburan. Kau belum tahu, ya? Kakakmu itu tiap hari masuk berita utama karena ada pemodal yang menyokongnya. Bagaimana? Apa kakakmu yang dipelihara pemodal itu tidak memberi uang pada kalian? Kakakmu itu tidak tahu diuntung, punya uang tapi membiarkan ayah dan adiknya menderita..."
Mendengar itu, Shen Yu berbalik dan menghantam wajah Liu Yongli dengan tinjunya. Ia tahu bagaimana orang-orang dan warganet membicarakan kakaknya, termasuk berita-berita miring tentangnya. Namun, ia tidak percaya sedikit pun; ia tahu kakaknya bukan orang seperti itu. Karena itulah ia sering dikucilkan di sekolah.
Kedua orang ini adalah teman sekelasnya sejak kecil. Meski tidak pernah akur dan sering mengejeknya, Shen Yu biasanya memilih bersabar. Ia mengikuti mereka keluar hari ini hanya karena khawatir mereka akan mengoceh soal kakaknya di depan pintu dan didengar oleh ayahnya. Ayahnya tidak tahu bahwa kakak perempuannya sedang difitnah habis-habisan di dunia hiburan, dan ia tidak ingin ayahnya sedih. Apalagi kakaknya ada di rumah sekarang, ia takut mereka akan melontarkan kata-kata kotor jika melihatnya.
Ia bisa menebak alasan mereka mencarinya. Liu Yongli menyukai Ding Nianwei, gadis sekelas mereka. Akhir-akhir ini, entah mengapa, Ding Nianwei sering bertanya soal pelajaran pada Shen Yu. Liu Yongli pasti salah paham mengira Ding Nianwei menyukainya. Kini, setelah mereka menghina kakaknya, Shen Yu tidak bisa lagi menahan diri dan mulai berkelahi dengan mereka.
Di tengah perkelahian, seorang bocah laki-laki berusia lima atau enam tahun yang berwajah polos berlari dari tikungan. Melihat Shen Yu dipukuli, bocah itu mengambil kayu kecil dan menusuk-nusuk Liu Yongli dan Feng Hu sembari berteriak, "Orang jahat! Dua lawan satu tidak adil, dasar pengecut! Rasakan ini!"
Ketiganya bergumul menjadi satu. Liu Yongli merasa sangat kesal. Ia dan Feng Hu bertubuh tinggi, mereka mengira akan menang mudah, namun Shen Yu ternyata sangat lincah bak monyet. Ditambah lagi dengan gangguan bocah kecil yang menusuk-nusuk mereka, Liu Yongli benar-benar naik pitam.
Tanpa berpikir panjang, ia memaki, "Bocah sialan, pergi kau!"
Ia mendorong bocah itu hingga terhuyung. Di dekat sana, hanya beberapa meter jauhnya, terdapat sungai yang membelah kota Nanyuan. Karena saat ini sedang musim hujan, debit air sungai sedang meluap. Bocah itu tersandung tunggul kayu dan jatuh ke dalam sungai dengan jeritan keras.
Anak itu sempat menelan air beberapa kali sebelum tenggelam, lalu muncul ke permukaan memohon pertolongan, sebelum akhirnya terseret arus bawah yang kuat.
Kejadian yang sangat cepat itu membuat Shen Yu, Liu Yongli, dan Feng Hu terpaku. Wajah mereka pucat pasi.
Shen Yu segera bersiap melompat untuk menyelamatkan anak itu, namun Liu Yongli menahannya. "Kau mau mati? Air sungai sedang meluap dan arusnya deras! Kau tidak bisa berenang, melompat ke sana hanya akan membuatmu mati sia-sia. Dengar, anak itu jatuh tidak ada hubungannya dengan kita! Mumpung tidak ada orang, cepat pergi!"
Shen Yu menatapnya tajam. "Anak itu jatuh karena kau mendorongnya!"
Anak itu mengalami nasib nahas hanya karena ingin membela Shen Yu dari perundungan. Ia tidak mungkin pergi begitu saja.
Wajah Liu Yongli pucat ketakutan. "Jangan mengada-ada! Itu tidak ada hubungannya denganku. Tutup mulutmu dan ayo pergi! Kejadian hari ini tidak ada sangkut pautnya dengan kita!" Ia mulai panik, membayangkan konsekuensi jika orang lain tahu dialah pelakunya, atau jika anak itu benar-benar tewas.
Shen Yu mengabaikannya dan hendak terjun ke sungai. Tiba-tiba, sebuah suara menghentikannya.
"Xiao Yu!"
Shen Yu menoleh dan mendapati kakaknya telah tiba. Shen Sang segera berlari, melirik derasnya arus sungai, lalu menyodorkan ponselnya ke tangan Shen Yu.
"Aku yang akan turun menyelamatkannya. Kau tidak boleh ikut turun! Aku bisa menyelamatkannya, jika kau ikut, kau hanya akan menjadi beban. Paham?"
Tanpa memberi kesempatan Shen Yu untuk bereaksi, Shen Sang langsung melompat ke dalam derasnya arus sungai dengan sekali terjun.