Bab 3: Melakukan Kekerasan di Tempat
Ketika mendengar teriakan-teriakan itu, Shen Sang bersama belasan wartawan hiburan lainnya segera menoleh ke arah sumber suara. Begitu mereka melihat dengan jelas apa yang terjadi, wajah semua orang pun berubah. Shen Sang juga menyadari apa yang sedang terjadi; dokter dan pria paruh baya yang dilihatnya saat turun ke lobi tadi ternyata mengalami masalah.
Pria paruh baya yang sebelumnya berteriak-teriak hendak mengajukan komplain itu kini menggenggam sebilah pisau tipis yang tajam. Sambil berteriak tak karuan, ia mengayunkan pisau tersebut ke segala arah sehingga tak seorang pun berani mendekat.
Pria itu terus mengayunkan pisaunya dan tiba-tiba melesat ke arah sang dokter, memicu gelombang teriakan histeris dari orang-orang di sekitar. Tanpa berpikir panjang, Shen Sang segera mengubah letak kakinya dan bergerak lincah. Dalam sekejap, ia telah berkelit keluar dari kepungan para wartawan dan kini hanya berjarak sekitar empat hingga lima meter dari dokter dan si pria yang hendak menyerang.
Tak ada yang berani mendekat. Beberapa keluarga pasien serta tenaga medis yang berbadan besar berniat membantu, namun tak satu pun yang berhasil mendekat karena pisau di tangan pria itu terlalu tajam dan diayunkan secara membabi buta. Ada juga yang mulai mencari-cari benda di sekitar yang mungkin bisa digunakan untuk melumpuhkan si penyerang.
Pria paruh baya itu makin lama makin dekat dengan dokter. Dokter yang tampak sangat panik tiba-tiba tersandung dan jatuh ke lantai. Dengan wajah beringas, si pria mengangkat pisaunya, bersiap menebaskan ke tubuh dokter yang sudah tak berdaya...
Wajah dokter itu seketika pucat pasi. Ia refleks mengangkat lengan untuk menahan serangan itu. Dalam detik-detik itu, hatinya terasa amat hampa. Ia tak mengerti, sejak kecil ia telah belajar dengan giat, menjalani profesi dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi etika kedokteran, dan sudah menyelamatkan ribuan pasien. Ia tak mengira akhirnya harus mengalami nasib seperti ini.
Semua orang di sekitar merasa sudah terlambat. Teriakan dan tangis bersahut-sahutan di telinga. Pisau itu kini hanya berjarak belasan sentimeter dari tubuh sang dokter.
Semua merasa tamatlah sudah. Tenaga medis di sekitar semakin panik dan kacau. Namun tiba-tiba, ada bayangan hitam melintas. Setelah semuanya kembali fokus, mereka tertegun. Bahkan dokter yang sudah putus asa pun memejamkan mata.
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Rasa sakit yang diperkirakan tak juga datang. Dokter itu pun tak tahan lagi, perlahan membuka matanya, pupilnya membesar karena terkejut melihat pemandangan di depannya.
Ia melihat seorang gadis kurus yang mengenakan pakaian pasien, separuh wajahnya masih ditempeli perban, telah mencengkeram lengan atas si penyerang.
Pria itu jelas tak menyangka lengannya bisa dicengkeram seseorang. Padahal hanya lengan atasnya yang dipegang, namun seluruh tangannya tak bisa digerakkan sama sekali. Pisau yang digenggamnya kini hanya berjarak belasan sentimeter dari tubuh dokter, namun ia benar-benar tak bisa menebaskannya. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman gadis kurus itu namun gagal.
Pria itu menggeram, “Minggir! Kalau tidak, kau juga akan aku tebas!”
Shen Sang menjawab tenang, “Tak percaya.”
Kerumunan yang menonton hanya bisa tercengang. Gadis itu benar-benar berani, bahkan tak ada yang melihat jelas bagaimana ia melumpuhkan si penyerang.
Pria paruh baya itu mulai panik, tetapi mengira lengannya bisa dicengkeram karena ia kurang waspada. Ia berniat menebas juga gadis di depannya itu. Kenapa orang-orang lain bisa hidup bahagia, sedangkan dirinya begitu sengsara dan tak memiliki apa-apa?
Ia berusaha mengayunkan lengannya beberapa kali, tetap saja tak bisa bergerak. Ia pun berusaha menggunakan tangan satunya untuk mencekik gadis lemah di depannya.
Tetapi Shen Sang sama sekali tak memberinya kesempatan. Ia melangkah gesit, meluncur ke samping tubuh pria itu dan menendang bagian belakang lututnya.
Pria itu langsung terjatuh berlutut di lantai. Lengan yang dicengkeram pun terpuntir ke belakang akibat dorongan itu, terdengar suara retakan tulang. Pria itu menjerit kesakitan, pisau di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Orang-orang di sekitar akhirnya sadar dan segera bergerak. Seseorang menendang pisau yang jatuh itu hingga jauh, sementara yang lain membantu Shen Sang menahan si pria.
Melihat orang lain sudah membantu, Shen Sang pun melepaskan cengkeramannya dan bersiap pergi.
Baru saat itu, semua orang menyadari siapa yang telah menyelamatkan dokter itu.
Gadis itu tampak sangat familiar.
Para wartawan hiburan yang tadi ikut mengepung pun melongo saat mengenali gadis yang menyelamatkan dokter.
“Astaga, apa-apaan ini? Itu—itu Shen Sang, kan?”
“Tadi dia masih dikepung kita, gimana bisa tiba-tiba keluar dan menyelamatkan orang?”
“Entahlah, aku juga nggak lihat jelas.”
Melihat Shen Sang berjalan ke arah pintu utama rumah sakit, para wartawan hiburan itu baru tersadar, lalu ramai-ramai mengejarnya.
“Nona Shen, apakah Anda mengenal si penyerang dan dokter yang diserang?”
“Nona Shen, bagaimana Anda berani tiba-tiba maju menyelamatkan orang?”
“Nona Shen, ini bukan bagian dari skenario promosi Anda, kan?”
Para wartawan ini memang sudah terlanjur punya kesan buruk tentang Shen Sang.
Tiga tahun sejak debut, selain video klip yang ia bintangi di awal karier, nyaris tak ada karya yang layak disebut. Yang ada hanya berita miring, tak heran tak ada yang percaya ia bisa menyelamatkan orang dalam situasi berbahaya seperti ini.
Kebetulan, ada seorang tenaga medis di dekat situ yang mendengar pertanyaan wartawan dan merasa kesal.
“Kalian para wartawan ini bicara sembarangan! Skenario apa? Apa kalian tahu siapa dokter yang diselamatkan gadis ini? Dia menyelamatkan Profesor Ho Wei!”
Para wartawan sontak berubah wajah. Pandangan mereka pada Shen Sang berubah.
Ho Wei, siapa yang tak kenal? Dia salah satu dokter bedah jantung terkemuka di negeri ini, profesor, doktor medis. Lebih dari seratus artikel ilmiah yang telah ia terbitkan di jurnal internasional, belum termasuk prestasi lainnya dan pasien yang ia selamatkan. Beberapa operasi bedah jantung tersulit pun tingkat keberhasilannya di tangan beliau lebih dari sembilan puluh sembilan persen. Bisa dibilang, ia adalah dewa di bidang bedah jantung.
Tenaga medis lain ikut menyahut.
“Betul itu! Skenario apanya? Profesor Ho Wei sibuk sekali setiap hari, mana sempat bikin-bikin skenario dengan gadis ini?”
“Gadis ini memang dari dunia hiburan, kan? Sekarang aku paham kenapa dunia hiburan penuh berita miring. Semua putih bisa kalian putar jadi hitam. Kami semua menyaksikan sendiri dia menyelamatkan orang, tapi masih juga kalian bilang skenario.”
Para wartawan hiburan itu pun jadi malu dan terdiam.
Banyak tenaga medis yang menghampiri Shen Sang untuk mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan Ho Wei.
Ho Wei sendiri juga datang berterima kasih pada Shen Sang.
Shen Sang berkata, “Tak apa, yang penting Dokter Ho Wei selamat.”
Ia sendiri agak lupa apakah kejadian ini juga pernah terjadi di kehidupannya yang lalu. Saat itu, wajah dan tubuhnya penuh luka dan rasa sakit, ia sudah tahu wajahnya pasti rusak, pikirannya linglung, dan ia benar-benar tak sanggup memperhatikan apa pun yang terjadi di luar dirinya.
Karena itulah, ketika Xie Xinglan berkata ingin bertunangan dan bertukar cincin dengannya, ia langsung setuju tanpa sempat banyak berpikir, menganggap Xie Xinglan sebagai satu-satunya penyelamat hidupnya.
Ho Wei sempat ingin bertanya sesuatu melihat Shen Sang mengenakan pakaian pasien dan berwajah penuh perban, namun dari kejauhan seorang tenaga medis datang tergesa-gesa memanggilnya, mengatakan ada pasien yang pingsan karena serangan jantung di pusat gawat darurat.
Ho Wei pun tak sempat bertanya lebih jauh dan segera pergi.
Setelah dokter itu pergi, Shen Sang menoleh pada para wartawan hiburan.
“Oh iya, tadi kalian tanya apakah aku menggoda Ji Jiasong di lokasi syuting? Aku tidak menggoda dia. Ada orang yang sengaja mendorongku ke arah Ji Jiasong. Aku takkan membiarkan urusan ini berlalu begitu saja.”
Selesai berkata, Shen Sang pun berbalik pergi, meninggalkan para wartawan yang hanya bisa saling pandang.