Bab 26: Kesalahpahaman
Halaman (1/3)
Sungguh tak disangka Jiang Yi ternyata hamil!
Kalau begitu, bagaimana mungkin ia masih bisa menjadi Nyonya Xie secara sah?
Tidak bisa. Ia harus melakukan sesuatu!
Kilatan licik melintas di mata Su Tiantian, disusul senyum penuh racun.
Ia segera menelepon Xie Beicheng dengan suara lemah.
“Tuan Xie, tubuh saya agak tidak enak badan. Saya tidak bisa mendapatkan taksi di sekitar rumah sakit. Bisakah Anda datang menjemput saya?”
Xie Beicheng sedang dalam perjalanan pulang. Begitu mendengar perkataan itu, ia langsung menyuruh sopir memutar balik.
Itu hanya sedikit memutar jalan. Bagaimanapun juga, Su Tiantian adalah sekretarisnya sekaligus orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Tentu saja ia tidak mungkin membiarkannya begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Xie Beicheng kembali.
Begitu melihatnya, Su Tiantian tampak ragu-ragu, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Xie Beicheng menyadari kejanggalan itu dan mengernyitkan dahi.
“Apa yang terjadi?”
Su Tiantian terdiam cukup lama sebelum akhirnya meraih ujung lengan baju Xie Beicheng.
“Tadi saya melihat Nona Jiang masuk untuk menjalani pemeriksaan kandungan. Jangan-jangan dia hamil? Tuan Xie, apakah anak yang dikandungnya adalah anak Anda?”
Perkataan Su Tiantian tepat sekali menghantam luka Xie Beicheng.
Wajah Xie Beicheng seketika menggelap. Ia melepaskan tangan Su Tiantian tanpa menunjukkan emosi, lalu berkata dingin,
Halaman (1/3)
“Kami sudah bercerai. Apa hubungannya anak yang dikandungnya dengan saya?”
Mendengar jawaban itu, Su Tiantian diam-diam bersukacita.
Bukankah itu berarti Jiang Yi sebenarnya tidak sepenting itu di hati Tuan Xie?
Ia masih memiliki kesempatan.
Su Tiantian kembali mendekat kepada Xie Beicheng.
“Tadi saya juga melihat seorang pria menemani Nona Jiang. Jangan-jangan anak yang dikandungnya adalah anak pria itu? Kalau memang begitu, Nona Jiang telah mengkhianati Anda. Tuan Xie, apakah Anda sama sekali tidak marah?”
Seorang pria?
Urat di pelipis Xie Beicheng mendadak menonjol. Amarah membara bergolak di dalam dadanya.
Saat ia pergi tadi, jelas-jelas tidak ada pria lain di sana!
Xie Beicheng segera berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Lin Fangxing sedang membantu Jiang Yi menuruni tangga dengan amat hati-hati. Amarah di dalam hatinya pun semakin berkobar.
Awalnya ia masih mengkhawatirkan Jiang Yi yang harus pulang sendirian.
Ia memutar balik kendaraan juga karena ingin sekalian mengantarnya pulang.
Namun, ia tak menyangka Jiang Yi justru segera menelepon Lin Fangxing.
Sebegitu pentingnyakah Lin Fangxing di matanya?
Jika Jiang Yi benar-benar begitu bergantung kepada Lin Fangxing, hanya ada satu kemungkinan: Lin Fangxing adalah ayah dari anak yang dikandungnya.
Perasaan aneh melintas di dalam hatinya.
Halaman (2/3)
Entah mengapa, melihat pemandangan itu membuat Xie Beicheng nyaris gila karena cemburu.
Jelas-jelas ia sama sekali tidak peduli kepada Jiang Yi. Namun, mengapa setiap kali melihat Jiang Yi bersama pria lain, emosinya selalu ikut terpengaruh?
Xie Beicheng tidak mampu menjelaskan perasaannya sendiri. Namun, satu hal sudah pasti—kali ini ia tidak akan lagi berbelas kasihan kepada Jiang Yi.
Wajah Xie Beicheng mengeras. Ia langsung memerintahkan asistennya,
“Selidiki proyek-proyek yang sedang berjalan di bawah naungan Grup Jiang. Setelah memperoleh informasi lengkapnya, serahkan kepadaku.”
Di belakangnya, rasa puas di mata Su Tiantian semakin kentara.
Kali ini, Jiang Yi benar-benar akan tamat.
“Aduh!”
Tiba-tiba Su Tiantian teringat sesuatu. Dengan hati tergerak, ia pura-pura menjerit dan jatuh ke tanah.
Mendengar suara itu, Xie Beicheng menoleh. Melihat wajah Su Tiantian yang tampak agak pucat, ia segera menghampiri dan membantunya berdiri.
“Kau tidak apa-apa? Sebenarnya bagian mana yang terasa tidak nyaman?”
Su Tiantian mengerucutkan bibir dengan wajah merana. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk bersandar ke dada Xie Beicheng, lalu berkata lemah,
“Mungkin sejak kecil tubuh saya memang lemah dan meninggalkan penyakit bawaan. Saya hanya perlu beristirahat sebentar, nanti akan baik-baik saja. Tuan Xie, sungguh, terima kasih. Kalau hari ini Anda tidak datang, saya benar-benar tidak tahu harus mengandalkan siapa.”
Halaman (3/3)