Bab 3 Nenek Tersesat
Tak ada lagi suara lain yang terdengar di telinga Jiang Yi. Ia menutup telepon dengan tenang, lalu membujuk Nyonya Tua Xie untuk masuk ke kamar dan tidur.
Saat ia meninggalkan rumah lama, kepala pelayan, Zhou Yan, masih menunggu di sana.
“Nyonya, biar saya antar Anda pulang.”
Di bawah terpaan angin dingin, Jiang Yi menggeleng. “Aku tak akan kembali ke Danau Jing, antar aku ke Kediaman Keluarga Jiang.”
Dia masih bisa menoleransi sikap dingin Xie Beicheng terhadapnya, masih bisa berpura-pura menjadi istri penuh kasih di depan umum. Namun, yang tak bisa ia terima adalah, saat ia sibuk merawat nenek dan mengurus rumah tangga, Xie Beicheng malah menjalin asmara di tempat kerja dengan sekretaris pribadinya.
Menahan tatapan terkejut Zhou Yan, Jiang Yi masuk ke mobil dan berpesan, “Besok suruh Xie Beicheng ke kantor catatan sipil.”
“Aku ingin bercerai dengannya.”
Jika Jiang Yi mengatakan ingin bercerai, berarti ia benar-benar akan melakukannya.
Mobil berhenti di depan Kediaman Keluarga Jiang, dan begitu Jiang Yi turun, seorang pengacara dengan tas kerja sudah berdiri di samping, menyerahkan surat perjanjian perceraian yang sudah disiapkan kepada Zhou Yan melalui jendela mobil.
“Nyonya...”
“Saya pengacara yang ditunjuk Nona Jiang. Jika ada masalah, silakan hubungi saya saja.”
Melihat Jiang Yi yang sepenuhnya dilindungi oleh sang pengacara, kepala Zhou Yan seolah berdenyut hebat. Ia menatap surat perjanjian di tangannya, berpikir keras, dan akhirnya hanya bisa mengeluarkan ponsel dan menekan nomor telepon:
“Tuan Xie, mohon Anda datang ke Kediaman Keluarga Jiang.”
...
“Ding—”
Sebuah pesan masuk dari Xie Beicheng.
“Titip salam untuk Ayah dan Ibu Mertua, besok malam ada pesta, jam tujuh, kau ikut denganku.”
Jiang Yi mengerutkan kening, ia tak tahu apa yang dikatakan Zhou Yan padanya, tetapi sepertinya Xie Beicheng hanya mengira ia sedang ngambek dan pulang ke rumah orang tuanya? Nada acuh tak acuh itu memang benar-benar sesuai dengan kepribadiannya.
Ia duduk di kamarnya sendiri, mengingat kembali segala perlakuan Xie Beicheng padanya selama ini, dan baru sadar betapa lama ia telah menahan diri.
Ada kalanya, wanita-wanita yang didekati Xie Beicheng di luar bahkan mengirimkan foto-foto vulgar ke ponselnya, tapi ia bisa dengan tenang menghapusnya tanpa peduli.
Ia memang tidak mencintai Xie Beicheng, tapi dirinya dulunya juga seorang putri yang dimanja dan disayang, pernikahan keluarga pun tidak harus memilih pria sedingin Xie Beicheng. Apa yang membuatnya bisa bertahan dalam pernikahan ini selama tujuh tahun?
Masa lalu bergema di benaknya.
Jiang Yi memandang keluar ke gelapnya malam, matanya menyiratkan kepahitan.
Andai saja bukan karena kejadian itu...
Sudahlah, kalau harus pergi, pergi saja. Hal ini memang lebih baik dibicarakan langsung.
Setelah malam yang melelahkan, Jiang Yi benar-benar kelelahan. Ia berpesan pada pembantu rumah tangga agar membangunkannya esok pagi, lalu meletakkan ponsel dan langsung terlelap.
...
Pesta malam itu mempertemukan keluarga-keluarga terpandang di Ibu Kota.
Jiang Yi mengenakan gaun berwarna merah anggur dengan model bahu terbuka dan ekor duyung yang tipis, berdiri menahan angin dingin di depan pintu selama setengah jam, namun Xie Beicheng belum juga tiba.
Ini kali pertama ia terlambat.
Sepertinya memang tidak akan datang, pikir Jiang Yi. Ia pun hendak menelepon sopir agar menjemputnya pulang. Namun, baru saja ponsel diangkat, sebuah mobil Rolls Royce berhenti tepat di depannya.
“Mengapa berdiri di sini? Tidak pakai mantel?”
Xie Beicheng turun dari mobil, memandang Jiang Yi yang berdiri di tempat terbuka, lalu mengerutkan kening. Ia langsung melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Jiang Yi.
Jiang Yi menatapnya. Di bawah mata pria itu tampak lingkaran hitam samar, pertanda ia kurang tidur semalam, namun wajahnya yang tegas tetap tampak sempurna dan dingin, auranya pun tetap menawan.
Ia melirik kemeja pria itu dan bertanya dengan nada menggoda, “Ganti baju, ya?”
Xie Beicheng memang tidak pulang ke rumah, sebab jika ia pulang, ia akan tahu bahwa Jiang Yi telah memerintahkan orang untuk memindahkan semua barang miliknya dari vila itu semalaman.