Topeng Bunga Teratai Putih Pecah Berkeping-keping X18
Yun Yuerou dan Zhu Manning baru saja berdiri menghadap gerbang sekolah, sehingga Yun Ruize yang datang dari arah belakang mereka pun luput dari perhatian. Saat mendengar suara Yun Ruize, hati mereka mencelos. Topeng kelembutan Yun Yuerou retak, dan ia tak kuasa menahan diri untuk melayangkan tatapan tajam nan penuh kebencian kepada Yun Luoyao.
"Katakan, memangnya kalian berniat bersikap tidak sopan seperti apa?"
Nada bicara Yun Ruize terdengar tidak bersahabat saat menatap Zhu Manning dan Yun Yuerou yang berdiri di sampingnya. Meskipun kini ia telah menyadari bahwa Yun Yuerou tidaklah sebaik penampilannya, Yun Ruize tetap merasa pilu melihat bagaimana gadis itu memutarbalikkan fakta.
Zhu Manning, sebagai putri dari pemilik perusahaan industri manufaktur hilir milik keluarga Yun, tentu mengenal Yun Ruize, sang Direktur Utama Grup Yun saat ini. Melihat paras Yun Ruize yang dewasa dan tampan, ia tak kuasa menahan rona merah di wajahnya dan menarik lengan baju Yun Yuerou dengan penuh harap.
"Oh, itu Kak Ruize."
"Aku sedang membantu Yuerou mendisiplinkan pengasuh di rumahmu itu."
"Kakak tidak tahu betapa buruknya orang ini. Jelas-jelas dia hanya anak dari pengasuh di rumahmu, tapi dia malah memanfaatkan kebaikan hati Yuerou dan mengaku sebagai putri sulung keluarga Yun."
"Lucu sekali, mana mungkin kami bisa dibohongi? Kami sudah mengenal Yuerou sejak kecil, tahu luar-dalamnya. Seorang gadis kampung seperti Yun Luoyao berani-beraninya menyamar sebagai putri keluarga Yun."
Saat mengatakan hal itu, entah apa yang terlintas di pikirannya, mata Zhu Manning berbinar. Ia menatap Yun Ruize dengan penuh semangat. "Kak Ruize, apakah hari ini Kakak datang khusus untuk membela Yuerou?"
"Dulu kami sudah berkali-kali meminta guru untuk mengusirnya, tapi guru tidak pernah setuju."
"Tak disangka Kakak datang hari ini. Apakah sebentar lagi Kakak akan mengusir pembohong ini dari SMA Negeri 1? Dia sama sekali tidak pantas duduk di kelas yang sama dengan kita."
Sambil terus berbicara, ia menatap dengan kekaguman yang malu-malu, "Aku benar-benar iri Yuerou punya kakak sebaik dirimu. Seandainya saja aku juga punya kakak laki-laki."
Zhu Manning tidak menyadari wajah Yun Ruize yang kian menggelap, maupun Yun Yuerou di sampingnya yang semakin sulit mempertahankan topeng kelembutannya. Yun Ruize tersenyum tipis dengan tatapan dingin penuh sindiran saat menatap Yun Yuerou.
"Yuerou, apakah semua yang dia katakan itu benar?"
Wajah Yun Yuerou pucat pasi, ia bergegas mencari alasan. Untunglah, selama ini ia selalu menjatuhkan Yun Luoyao secara diam-diam dan tidak pernah melakukannya secara terang-terangan. Terlebih lagi, ia selalu berpura-pura menengahi saat orang lain menyerang Yun Luoyao. Ia masih punya ruang untuk membela diri.
Yun Yuerou memasang wajah pucat dan rapuh, kali ini ia benar-benar hampir menangis, sambil berpura-pura bingung. "Kenapa jadi begini? Kakak, aku juga tidak tahu kenapa masalahnya jadi serumit ini."
"Beberapa waktu lalu aku sibuk dengan kompetisi matematika dan kurang memperhatikan urusan di kelas. Mungkin teman-teman salah paham."
"Nanti aku akan kembali dan menjelaskannya kepada teman-teman sekelas."
Apa-apaan ini? Zhu Manning belum sempat mencerna maksudnya, dan saat mendengar Yun Yuerou berkata demikian, ia justru semakin cemas. Ia takut kesempatan untuk mengusir Yun Luoyao dari SMA Negeri 1 Nancheng ini akan terlewatkan. Ia pun bergegas menyambar.
"Aduh, Yuerou, ini sudah saatnya! Kakakmu sudah datang ke sekolah untuk membelamu, kenapa kau masih bersikap terlalu baik?"
"Kau benar-benar membuatku kesal."
Zhu Manning berkacak pinggang dan menatap Yun Ruize dengan penuh keyakinan. "Kak Ruize, apakah hari ini Kakak datang khusus untuk membela Yuerou?"
"Sungguh konyol ada orang yang terlahir sebagai keturunan rendahan tapi ingin menumpang popularitas dengan Yuerou kita."
"Yuerou kita adalah putri sulung keluarga Yun, segala kebutuhannya serba mewah dan elegan. Lihat saja dia, pakaiannya saja barang murahan dari pasar."
Yun Luoyao, yang dituduh dan direndahkan oleh Zhu Manning, menunduk melihat pakaian yang ia kenakan. Biasa saja, sederhana. Memang tidak bisa dibandingkan dengan pakaian Yun Yuerou yang terlihat mewah namun bersahaja. Jika dibandingkan seperti ini, Yun Yuerou memang terlihat lebih seperti putri keluarga Yun daripada dirinya.
Yun Luoyao menggandeng tangan Shen Mian sambil membatin, toh sekarang dia sudah punya uang, lebih baik sore nanti dia pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian yang lebih mahal. Penampilan itu penting, dan dia bukannya tidak mampu membelinya.
Zhu Manning masih merasa bangga atas kecerdasannya dan terus menunjuk-nunjuk Yun Luoyao tanpa henti.
"Kira kita tidak tahu apa niatnya? Dia hanya memanfaatkan wajah cantiknya untuk sengaja membuat masalah demi menarik perhatian para pria kaya di kelas."
"Cih, jangan harap kami bisa dibohongi. Meskipun Yuerou tidak secantik dirimu, sifatnya yang lembut dan dermawan sudah diakui seluruh sekolah sebagai dewi kampus."
"Kak Ruize, usir saja dia dari SMA Negeri 1 sekarang. Dia sama sekali tidak pantas belajar bersama kita."
"Moralnya bobrok, wajahnya saja seperti penggoda, sudah terlihat jelas dia tipe orang yang suka jadi orang ketiga."
Jika saja tidak merusak citra yang selama ini ia bangun, Yun Yuerou ingin sekali menutup mulut Zhu Manning dengan tangannya. Apakah dia tidak melihat wajah Yun Ruize yang semakin gelap?
"Kakak, aku..." Yun Yuerou mencoba menyelamatkan situasi.
Yun Ruize tidak lagi memberinya kesempatan. Saat ini matanya tertuju pada Yun Luoyao yang berdiri tak jauh dari sana, tampak seolah tidak peduli dengan situasi yang ada.
Meski dialah pusat perdebatan saat ini, Yun Luoyao justru terlihat bosan dan masa bodoh, sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati. Soal siapa putri sulung keluarga Yun yang sebenarnya, dia sudah tidak peduli lagi.
Hati Yun Ruize terasa jatuh ke dasar jurang. Saat ini, mana mungkin ia masih ingat dengan rencana yang mereka susun tadi malam untuk menenangkan Yun Yuerou dan bersandiwara dengannya.
Matanya yang gelap sedingin es menatap tajam ke arah Yun Yuerou, dengan sudut bibir membentuk lengkungan kejam.
"Yuerou, katakan padaku, sebenarnya siapa identitas Yun Luoyao yang sebenarnya?"
"Dan kau sendiri, siapa identitasmu yang sebenarnya?"
Saat itu sedang puncak jam masuk sekolah. Rombongan Yun Ruize yang berdiri bersama, pria yang tampan dan wanita yang cantik, tampak menonjol di tengah kerumunan. Orang-orang yang tidak tahu mungkin mengira mereka sedang syuting drama.
Tentu saja, banyak orang yang mengenali Yun Yuerou dan Yun Luoyao. Bagaimanapun, beberapa waktu lalu sempat viral di forum sekolah mengenai topik "Anak pengasuh yang tidak tahu malu bersekolah dengan putri majikan, tapi penuh kepalsuan dan berbohong mengaku sebagai putri sulung."
Anak muda paling suka bergosip dan merasa paling benar. Saat itu, banyak yang menaruh simpati pada Yun Yuerou yang dianggap sebagai korban pencurian identitas, serta membenci dan mencaci maki Yun Luoyao.
Melihat mereka berdiri bersama sekarang, dengan rasa penasaran, kaki para siswa perlahan-lahan terpaku di tempat. Mereka mengerumuni Yun Ruize sebagai pusatnya, membentuk lingkaran besar. Semua orang membuka mata lebar-lebar, penuh semangat menunggu Yun Ruize yang murka akan membela adiknya dan mengusir Yun Luoyao.
Kini, Yun Yuerou yang ditanya dengan begitu kejam oleh Yun Ruize merasa seperti ditampar keras di wajahnya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya sekarang, betapa malunya dia nanti setelah sebelumnya begitu sombong. Hal ini akan langsung tersebar ke seluruh sekolah, lalu di mana dia harus menaruh wajahnya?
"Kakak."
Mata Yun Yuerou memerah karena sedih. Wajahnya kini benar-benar pucat pasi, tampak begitu rapuh seolah bunga kecil yang terkulai diterjang badai.
Namun, Yun Ruize sama sekali tidak tersentuh. Melihat penampilannya itu, hatinya justru semakin dipenuhi kebencian. Selama ini, setiap kali Yun Yuerou memasang wajah sedih seperti itu, ia selalu memutarbalikkan fakta hingga membuat adik kandungnya sendiri, Yun Luoyao, menderita.
Saat ini, Yun Ruize benar-benar bersikap tanpa ampun dengan wajah dingin.
"Katakan, siapa identitas Yun Luoyao? Dan kau sendiri, siapa identitasmu?"