Bab 151 Meminta Arwah Merasuki Tubuh
"Ayo~ Ayo~"
Tampak Bibi Gu bersandar di dinding, berusaha membusungkan dadanya dengan sekuat tenaga, dan akhirnya berhasil menarik perhatian pria dengan tatapan penuh kebijaksanaan itu.
"Bopobopo, aku ingin meremas bopobopo~"
Bibi Gu seketika menyumpalkan seikat balon ke tangan pria itu.
"Remas, remas sekuat tenaga! Ini adalah hasrat dalam dirimu, lepaskan saja!"
Setelah berkata demikian, dia tidak lagi memedulikannya, berbalik hendak kembali ke kamar, tetapi tepat saat berbalik, ia berpapasan dengan pelanggan yang datang berkunjung...
Terlihat seorang paruh baya berminyak dengan perut buncit sedang membawa seorang wanita muda. Ia mendatangi Bibi Gu dan langsung mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi:
"Hehe, istriku sudah meninggal beberapa tahun lalu! Aku ingin menikah lagi, tapi dia bilang aku harus bertanya dulu pada istriku~"
Bibi Gu mengangkat tangannya untuk memotong ucapan pria itu.
"Hei, urusan memanggil arwah seperti ini aku tidak mau melakukannya! Kalau sampai tidak terkendali dan istrimu merasuki tubuhku lalu enggan pergi, siapa yang tahu kalau kau nanti akan memanfaatkan diriku!"
"Hehe, mana bisa begitu, Ibu Bopobopo, boleh ya?"
Bibi Gu mencebikkan bibirnya dan berkata, "Baiklah, hanya kali ini saja ya!"
……
Di ruang tengah, Bibi Gu telah menyiapkan sebuah perapian dupa yang sudah dipenuhi dengan beras ketan, dengan sebatang dupa tertancap di dalamnya.
"Langit membentang luas, bumi penuh roh, Bibi Gu sekarang mengundang... Hei, siapa nama istrimu?"
Pria paruh baya itu mendengarnya lalu menjawab, "Kuan Li Pi-shhi~"
Bibi Gu seketika merasa kesal dan menegur, "Apa urusannya denganku?"
Pria paruh baya itu tertegun sejenak. Setelah sadar, ia buru-buru menjelaskan, "Bukan, margaku Kuan, nama istriku Li Pi!"
Bibi Gu seketika paham, ternyata itu hanya kesalahpahaman!
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melanjutkan ritual pemanggilan arwah dengan beras.
"Langit membentang luas, bumi penuh roh, Bibi Gu sekarang mengundang Kuan Li Pi-shhi untuk datang~ Mau bertanya padamu, suamimu ingin menikah lagi, boleh atau tidak~"
Tubuh Bibi Gu mendadak lemas dan menelungkup di atas meja. Saat ia mengangkat kepalanya kembali, aura di seluruh tubuhnya langsung berubah drastis!
"Sialan, kenapa sudah selama ini baru datang menemuiku?"
Melihat hal itu, pria paruh baya tersebut tahu bahwa arwah istrinya telah merasuki tubuh Bibi Gu, jadi ia buru-buru berkata:
"Aku sibuk, Istriku! Kali ini aku mencarimu karena ada hal penting yang ingin dibicarakan."
"Ada apa?"
Pria paruh baya itu berkata dengan wajah muram, "Kau tahu sendiri sudah beberapa tahun sejak kepergianmu, aku hidup sendirian dalam kesepian. Aku ingin mencari pendamping lagi, makanya kubawa dia untuk menemuimu..."
"Cuma urusan ini saja?"
Melihat reaksi istrinya yang tidak terlalu keras, pria paruh baya itu tahu bahwa masih ada harapan, maka ia buru-buru berkata kepada wanita di sampingnya:
"Cepat beri salam!"
Wanita muda itu buru-buru berseru, "Kak Pi~"
"Sudah sewajarnya juga, baiklah! Aku merestui pernikahan kalian!"
"Ah? Terima kasih, Istriku!"
Pria paruh baya itu sangat gembira mendengarnya, lalu menarik tangan wanita itu hendak pergi. Pada saat itulah Li Pi yang merasuki tubuh Bibi Gu bersuara.
"Aku belum selesai bicara, Sialan! Duduk!"
Pria paruh baya itu duduk dengan bingung, ingin mendengar apa lagi yang ingin dikatakan oleh mendiang istrinya.
"Aku tahu setelah ini kemungkinan besar kau tidak akan pernah datang menemuiku lagi, jadi aku mau kau memuaskanku dulu!"
Pria paruh baya itu tertegun, "Di sini?"
"Jika kau tidak memuaskanku, aku tidak akan mengizinkan kalian menikah!"
Pria paruh baya itu berpikir sejenak, lalu tetap menganggukan kepalanya!
Li Pi yang merasuki tubuh Bibi Gu dengan penuh semangat menjulurkan bokongnya dan menelungkup di atas meja...
Tampak pria paruh baya itu mengeluarkan sebatang rotan, lalu memukulkannya satu per satu ke tubuh Bibi Gu...
……
Wanita muda itu tertegun hingga terdiam seribu bahasa!
Ternyata arti "memuaskan" itu adalah hukuman cambuk seperti ini~
Dia tadinya mengira...
Melihat pria paruh baya itu semakin bersemangat memukul, wanita muda itu tidak tahan lagi untuk maju dan mencoba menghentikan, "Hei, kau bisa membunuhnya!"
Tanpa diduga, Li Pi tiba-tiba berkata, "Kau benar, aku dulu mati karena kenikmatan yang luar biasa seperti ini! Nanti kalau kau sudah menikah dengannya, kau pasti juga akan menikmati kesenangan kamar tidur seperti ini!"
Wanita muda itu sangat ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, lalu berteriak sekuat tenaga, "Aku tidak jadi menikah!"
Setelah itu, ia lari terbirit-birit dalam keadaan panik...
Melihat hal itu, pria paruh baya tersebut melempar tongkat rotannya dan buru-buru mengejarnya...
Melihat pemandangan ini, Li Pi tersenyum dingin, "Huh! Sialan, sudah separuh baya tapi masih mau cari istri lagi? Mimpi!"
Li Pi pergi dengan rasa puas, hanya menyisakan Bibi Gu seorang diri yang memegangi bokongnya sambil menahan rasa sakit luar biasa...
"Aduh... sudah kubilang aku tidak mau memanggil arwah!"
Pada saat ini, Lin Ye dan dua orang lainnya pun tiba.
Qiu Sheng dan Wen Cai melihat ekspresi kesakitan Bibi Gu di luar pintu, mereka buru-buru meletakkan kendi lalu berlari menghampiri, memapah Bibi Gu dari kiri dan kanan untuk mendudukkannya...
Melihat pemandangan itu, sudut mulut Lin Ye pun berkedut. Tanpa perlu berpikir panjang, ia sudah tahu kalau Bibi Gu pasti baru saja menderita akibat merapal ritual memanggil arwah!
Sambil menggelengkan kepala, Lin Ye turut melangkah mendekat dengan cepat.
"Kalian berdua datang untuk apa?"
Bibi Gu menoleh dan melihat Lin Ye, lalu bertanya dengan heran:
"Eh? Ini siapa?"
Lin Ye buru-buru memberi hormat kepada Bibi Gu dan langsung berkata tanpa pikir panjang, "Bibi Guru!"
Wajah Bibi Gu seketika memerah padam, ia tersipu malu dan berkata, "Kau murid baru yang diterima oleh Kakak Perguruan ya? Pintar juga bicara! Tidak disangka si batu es Lin Jiu itu bisa mendidik murid yang begitu pandai merangkai kata sepertimu!"
Sebenarnya, begitu kata "Bibi Guru" itu meluncur dari mulutnya, Lin Ye langsung merasa menyesal karena takut Bibi Gu akan marah. Namun beruntung Bibi Gu tidak mempermasalahkannya, bahkan sepertinya dia cukup menyukai sebutan itu.
Sepertinya lain kali ia harus lebih berhati-hati saat berbicara, tidak boleh asal bicara tanpa dipikirkan dulu! Kali ini isi hatinya malah blak-blakan terucap!
Memikirkan hal itu, Lin Ye buru-buru tersenyum bodoh untuk mencairkan suasana: "Hehehe..."
Bibi Gu tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Qiu Sheng dan bertanya, "Katakan, kalian berdua datang ke sini ada perlu apa?"
"Tidak ada apa-apa, Guru melihat kami membawa bayi arwah kemari untuk diserahkan kepadamu~"
"Betul sekali~"
Qiu Sheng dan Wen Cai menjawab bergantian.
Bibi Gu melirik kendi di sana, sudut mulutnya sedikit tertarik ke atas.
"Anggap tempat ini sebagai tempat penitipan anak, hah? Kenapa dia sendiri tidak datang?"
Qiu Sheng dan Wen Cai saling berpandangan, lalu tersenyum penuhkenakalan secara bersamaan dan berkata dengan nada serempak, "Kau sangat ingin melihat guru kami, ya?"
Bibi Gu menggeliat malu-malu.
"Entahlah!"
Qiu Sheng menepuk bahu Bibi Gu dan berkata, "Hei, ada cara!"
Mata Bibi Gu berbinar cerah, ia menatap ke arah Qiu Sheng~
Lin Ye dan Wen Cai pun ikut mendekatkan diri...
Maka, sebuah konspirasi yang menargetkan Paman Jiu pun resmi dimulai...
…………
Kota Ren, di balai mayat.
Paman Jiu sedang berlatih Tai Chi.
Di dalam gazebo di dekatnya, duduk seorang sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya.
"Saudara seperguruanku, kudengar ada kemunculan mayat hidup di Kota Tengteng sebelah!"
Mendengar itu, Paman Jiu sama sekali tidak terganggu dari latihan jurusnya, ia hanya menjawab, "Begitukah? Kalau begitu besok kita pergi melihatnya!"
Saat keduanya sedang berbincang, Qiu Sheng, Lin Ye dan yang lainnya kembali. Begitu memasuki gerbang, mereka langsung berteriak dengan terburu-buru:
"Guru, Guru..."
"Ada apa, berteriak-teriak tidak beraturan." Paman Jiu mengerutkan keningnya.
"Guru, saat kami mengantar bayi arwah ke rumah Bibi Gu tadi, kami melihat Bibi Gu jatuh sakit parah." Qiu Sheng memimpin bicara lebih dulu.
Kemudian Wen Cai menyambung dengan menimpali, "Betul, Guru, kurasa Bibi Gu sudah tidak tertolong lagi, tapi sebelum ajal menjemput, dia ingin melihatmu untuk terakhir kalinya."
Lin Ye juga menahan tawa sambil mengangguk-angguk tanpa henti!
"Entah apa lagi trik yang sedang mereka mainkan, tujuannya sudah jelas, aku tidak mau pergi!"
Paman Jiu bergeming. Sudah bertahun-tahun mereka saling kenal, siapa yang tidak tahu sifat masing-masing?