Bab 1: Kak, Kakak Ipar Berselingkuh!
"Kak, kakak ipar berselingkuh!"
Lin Fan sedang mencuci piring di dapur ketika tiba-tiba menerima pesan dari adiknya, Lin Mengyu, lewat WeChat.
Melihat isi pesan itu, ia langsung terkejut dan segera membalas, "Xiaoyu, jangan bercanda sembarangan!"
Tak lama, Lin Mengyu mengirim pesan lagi, "Aku tidak bercanda, Kak. Kalau tak percaya, akan kukirimkan fotonya!"
Dua detik kemudian, benar saja, sebuah foto pun masuk.
Latar belakang foto itu adalah sebuah restoran steak bergaya Barat. Di tengah, tepat di dekat jendela, dua orang duduk saling berhadapan.
Di sebelah kanan, tampak seorang wanita cantik, memakai riasan tipis dan berpakaian sangat rapi.
Itu adalah istrinya, Lu Wanningsih.
Pria di sebelah kiri tidak terlihat jelas wajahnya karena cahaya lampu restoran terlalu terang, tetapi dari rambut, pakaian, dan jam emas di pergelangan tangan, jelas itu seorang pria.
Yang paling penting, pria itu sedang menusukkan sepotong daging dan menyodorkannya ke mulut Lu Wanningsih.
Sementara Lu Wanningsih tersenyum manis, wajahnya penuh kebahagiaan.
Sekejap saja, jantung Lin Fan berdesir keras.
Istrinya, Lu Wanningsih, ternyata sedang berkencan dengan pria lain!
Dan adiknya sendiri yang memergoki!
Amarah membuncah dalam hatinya!
Tiga tahun sudah ia menjadi menantu tinggal di keluarga Lu, dan hubungan pernikahannya dengan Lu Wanningsih hanya sekadar status, bahkan mertua memperlakukannya seperti pembantu gratis.
Semua itu ia terima tanpa keluhan.
Karena ia percaya, suatu hari nanti, istrinya akan melihat ketulusan hatinya, dan mertua pun mau menerimanya.
Tak disangka, yang ia dapat justru pengkhianatan sang istri!
Ia segera menelepon Lu Wanningsih.
Namun, yang terdengar hanyalah, "Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi..."
Bahkan telepon pun tak diangkat!
"Xiaoyu, tunggu di tempatmu, kakak segera ke sana!"
Lin Fan mengirim pesan balasan, lalu segera melepas celemek di pinggang dan berlari keluar dari dapur seperti angin.
Ia ingin tahu, siapa pria yang berani merebut istrinya!
Keluar rumah, Lin Fan langsung menghentikan taksi dan menuju restoran steak itu.
Ia pernah ke sana, jadi tahu persis lokasinya.
Lima belas menit kemudian.
Taksi berhenti, Lin Fan membayar ongkos dan bergegas keluar.
Sampai di dekat jendela besar restoran yang ada di foto, Lin Fan tak menemukan Lu Wanningsih dan pria itu.
Di atas meja hanya tersisa peralatan makan yang baru saja digunakan.
Jangan-jangan, ia terlambat?
Hatinya dipenuhi rasa kesal.
Benar, adiknya pasti tahu mereka ke mana!
Lin Fan menoleh cepat ke seberang jalan, ke arah tempat adiknya mengambil foto.
Namun, ia tak melihat Lin Mengyu.
Yang tampak hanya kerumunan orang yang mengelilingi sesuatu, dan seseorang berteriak cemas, "Cepat panggil ambulans!"
Mendengar teriakan itu, perasaan tak enak menyelinap di dada Lin Fan.
Ia langsung menyeberang jalan, mendengar penjelasan orang-orang bahwa ada seorang gadis yang dirampok oleh pengendara motor, jatuh dan kepalanya terbentur hingga mengeluarkan banyak darah.
Seketika ia panik, menerobos kerumunan.
Di tengah kerumunan, seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, mengenakan gaun panjang bermotif bunga, tergeletak di tanah. Darah menggenang di bawah bagian belakang kepalanya.
Itu adiknya, Lin Mengyu!
"Xiaoyu!"
Lin Fan panik, segera memeluk adiknya dan memanggil-manggil namanya.
Namun, saat itu Lin Mengyu telah menutup mata, wajahnya pucat.
Ia sudah tak sadarkan diri.
"Xiaoyu, jangan bikin kakak takut!"
Lin Fan memegang bagian belakang kepala Lin Mengyu, dan tangannya langsung berlumuran darah.
Darah segar terus mengalir keluar.
Ia makin panik, menekan luka di kepala adiknya, tetapi tak membuahkan hasil.
Saat itu juga.
Seseorang berteriak meminta orang-orang menyingkir, lalu sekelompok dokter dan perawat berseragam putih berlari menghampiri.
"Dokter Kepala Zhao!"
Lin Fan menengadah dan melihat seseorang yang dikenalnya, atasannya, Kepala Rumah Sakit Umum Kota Hang, Zhao Guangming.
"Dok, tolong selamatkan adik saya!" Lin Fan memohon.
Meski ia juga dokter, ia belajar pengobatan tradisional, hanya bisa mengobati penyakit ringan, bukan untuk keadaan darurat seperti ini.
Urusan profesional, serahkan pada ahlinya.
Ia segera menyerahkan adiknya kepada dokter dan perawat.
Setelah memeriksa, dokter memberitahukan kondisi Lin Mengyu pada Zhao Guangming.
Zhao Guangming berkata, "Lin Fan, adikmu mengalami cedera otak, harus segera dioperasi. Cepat siapkan lima ratus juta untuk biaya operasi!"
Lima ratus juta?
Mendengar angka itu, wajah Lin Fan langsung kaku.
Baru setengah tahun bekerja di rumah sakit, ia sudah tahu soal tarif rumah sakit.
Untuk operasi cedera seperti adiknya, paling mahal hanya dua ratus juta.
Tapi Zhao Guangming memintanya menyiapkan lima ratus juta, jelas-jelas hanya ingin memanfaatkannya!
Namun demi menyelamatkan adik, Lin Fan tak peduli, ia berkata, "Dokter, tolong segera operasi adik saya, saya akan cari uangnya sekarang."
Baru enam bulan bekerja, belum diangkat jadi pegawai tetap, ia nyaris tak punya tabungan.
Satu-satunya harapan adalah meminjam pada mertua.
Ia berpikir, meskipun mertua tak suka padanya, tapi tiga tahun ini ia sudah berusaha keras untuk keluarga, mereka pasti mau membantunya.
Apalagi ini soal nyawa.
Tak lama, telepon tersambung.
"Bu, adik saya terluka parah dan butuh segera operasi, bisakah ibu pinjamkan lima ratus juta..."
"Apa? Lima ratus juta? Lin Fan, kau tidak gila kan? Sampai buat alasan seperti ini demi menipu uang keluarga Lu!"
"Bu, saya tidak bohong, adik saya sungguh..."
"Cukup! Aku tak mau dengar ocehanmu! Cepat pulang dan cuci piring yang belum selesai, atau akan kubuat perhitungan denganmu!"
"Bu..."
Tut...
Telepon terputus.
Wajah Lin Fan berubah sangat kelam.
Mertuanya benar-benar membiarkan adiknya meregang nyawa tanpa pertolongan!
Ia ingin menelepon ayah mertua, Lu Jianguo, namun Zhao Guangming menertawakannya, "Sudahlah, percuma menelepon lagi, hanya buang-buang waktu. Kau sadar kan, derajatmu di keluarga Lu itu apa? Maaf saja, bahkan lebih rendah dari anjing, masih mau pinjam uang..."
Nada meremehkan Zhao Guangming tak membuat Lin Fan terkejut.
Karena tiga tahun lalu, pernikahannya sebagai menantu tinggal di keluarga Lu sempat menghebohkan Kota Hang.
Siapa sangka, salah satu dari tiga wanita tercantik di kota itu, Lu Wanningsih, akan menikahi pria miskin yang tak punya apa-apa.
Saat itu, banyak pria yang mengagumi Lu Wanningsih patah hati, dan mereka sangat membenci Lin Fan.
Zhao Guangming adalah salah satunya.
Sejak Lin Fan mulai bekerja di rumah sakit umum, ia sering dipersulit, gajinya pun sering dipotong, dan belum diangkat menjadi pegawai tetap juga karena ulah Zhao Guangming.
Tapi kini Lin Fan tak mau mempermasalahkan itu lagi, yang ia ingin hanyalah menyelamatkan adiknya.
"Dok... Dokter Zhao, saya akan tulis surat utang, mohon segera operasi adik saya, saya mohon!"
Suara Lin Fan hanya tersisa permohonan.
Demi nyawa adiknya, harga diri dan muka tak lagi berarti.
Zhao Guangming tersenyum lebar, "Buat apa surat utang, aku ada cara supaya kau bisa dapat uangnya!"
"Cara apa?" Lin Fan terperanjat, harapan pun muncul di matanya.
"Jual ginjal, dong! Katanya istrimu tak pernah mau tidur denganmu, dua ginjalmu mubazir saja, mending dipakai selamatkan adikmu, gimana? Hahaha..."
Zhao Guangming tertawa puas.
Namun di telinga Lin Fan, tawa itu bagaikan tamparan bertubi-tubi di wajahnya.
Krek!
Kedua tangan Lin Fan mengepal, amarahnya meledak seperti gunung berapi.
Saat ia hendak menghajar Zhao Guangming, tiba-tiba perawat di samping berkata, "Gawat, pasien sudah tak ada tanda-tanda kehidupan!"
"Xiaoyu!"
Lin Fan langsung berlari, "Minggir! Semuanya minggir!"
Ia membaringkan Lin Mengyu di tanah, lalu melakukan penekanan jantung berulang kali, air matanya mengalir deras.
"Xiaoyu, jangan tinggalkan kakak! Xiaoyu, bangunlah, lihat kakakmu sekali saja..."
Setengah menit berlalu, tak ada hasil.
Lin Fan memeluk Lin Mengyu erat-erat, menangis meraung-raung, hatinya dipenuhi penyesalan.
Andai saja bukan karena pesan terakhir itu, mungkin adiknya tak akan mengalami perampokan.
Semua ini salahnya!
Di tengah keputusasaan, ia tak menyadari darah di kepala Lin Mengyu menempel pada liontin giok yang tergantung di dadanya, lalu terserap dan lenyap tanpa bekas.
Detik berikutnya.
Sebuah suara tua tiba-tiba terdengar di benaknya:
"Aku adalah leluhur keluarga Lin, Tabib dan Pejuang Agung Lin Zu Xian. Seluruh pengetahuan pengobatan dan ilmu bela diri seumur hidupku telah kusimpan dalam liontin pusaka keluarga ini. Jika keluarga Lin dalam bahaya, keturunan masa depan dapat membukanya dengan darah, mewarisi seluruh keilmuanku demi kebaikan dunia!"