Bab 24: Hidup dan Mati Bersama
Perkataan Lin Fan bahkan membuat Tang Ziyan sulit memercayainya, apalagi Tang Xiaoxiao dan Sun Hailin.
"Lin Fan, kau benar-benar menganggap dirimu siapa? Apa kau pikir kau adalah Dewa Perang? Atau kau pikir kau orang terkaya?" cetus Tang Xiaoxiao dengan nada meremehkan.
"Hehe... Xiaoxiao, dia kan Tuan Muda Lin," ujar Sun Hailin dengan nada sinis.
"Benar juga, bagaimana aku bisa lupa? Tuan Muda Keluarga Lin, yang dulu konon adalah tuan muda paling hebat di Kota Feng," sahut Sun Hailin sambil menepuk dahinya, seolah baru teringat.
Kemudian, ia melanjutkan ejekannya tanpa ampun, "Sayangnya, itu hanya masa lalu. Sekarang, kau hanyalah seorang anak buangan, seorang tuan muda tak berguna yang seluruh keluarganya hampir tewas!"
"Betul sekali. Bahkan melindungi keluarganya sendiri saja tidak bisa, masih berani menyombongkan diri? Dasar sampah Keluarga Lin, kau sekarang hanyalah seorang pria simpanan yang hidup dari uang wanita, seseorang yang bahkan tidak punya kemampuan untuk bertahan hidup," sambung Tang Xiaoxiao menghina.
"Xiaoxiao, sebenarnya kau mungkin salah paham. Siapa tahu Tuan Muda Lin ini memang hebat di bidang tertentu, misalnya saja kepiawaian lidahnya!" Sun Hailin memasang ekspresi jahat.
"Masa sih?" Tang Xiaoxiao menutup mulutnya, berpura-pura terkejut.
Wajah Lin Fan seketika menggelap. Kedua orang ini benar-benar tidak tahu sopan santun!
Detik berikutnya, diiringi dua jeritan, Sun Hailin dan Tang Xiaoxiao terpelanting ke udara. Lin Fan menarik kembali tangannya dengan wajah sedingin es, "Ini hukuman kecil untuk saat ini. Jika lain kali kalian berani melontarkan kata-kata kotor lagi, aku tidak menjamin lidah kalian akan tetap aman!"
Tang Ziyan menatapnya dengan terkejut, tidak menyangka Lin Fan akan langsung memukul tanpa memedulikan status lawan. Apa sebenarnya yang ia andalkan sampai berani memperlakukan Sun Hailin seperti ini? Apa dia tidak takut dikejar-kejar oleh Keluarga Sun?
Su Shiqing yang datang karena mendengar keributan melihat kejadian itu dan hanya bisa menggelengkan kepala. Lin Fan, Lin Fan, kenapa kau selalu mencari masalah? Keluarga Sun memiliki pengaruh yang besar, bagaimana mungkin kau yang tidak punya kekuasaan bisa melawan mereka? Terlebih lagi, ini pasti akan menyeret Tang Ziyan. Ia merasa sangat kecewa pada Lin Fan yang selalu bertindak gegabah.
"Lin Fan, kau sudah tamat!" Benar saja, Sun Hailin bangkit dari tanah sambil menyeka darah di sudut mulutnya dengan penuh dendam.
"Oh, apa kau berencana memanggil orang?" tanya Lin Fan dengan acuh tak acuh.
"Ini Tang Group, aku tidak ingin merusaknya di sini. Berani tidak kau ikut ke luar? Aku jamin akan menghabisimu!" ancam Sun Hailin kejam.
"Jangan pergi!" seru Tang Ziyan secara refleks.
"Tidak apa-apa, hanya Keluarga Sun saja, aku bisa melenyapkan mereka dengan sekali kibasan tangan," ucap Lin Fan datar. Keluarga Yang saja tidak sanggup bertahan satu hari pun, apalagi Keluarga Sun yang kecil, mungkin setengah hari saja sudah cukup untuk membuat mereka bangkrut. Namun, orang lain tentu tidak memercayainya.
Tang Ziyan benar-benar marah. Kemampuan Lin Fan dalam membual semakin menjadi-jadi. Apakah dia tidak tahu bahwa begitu Sun Hailin memanggil orang-orangnya, dia akan dipukuli sampai mati? Sekuat apa pun dia, dia hanyalah seorang diri!
Su Shiqing juga diam-diam mengernyit. Ia benar-benar tidak habis pikir, apa Lin Fan tidak punya otak? Apakah dia pikir zaman sekarang masih bisa mengandalkan keberanian dan sepasang kepalan tangan untuk menaklukkan dunia? Lawan bisa saja menggunakan senjata api!
"Bagus, kalau kau tidak berani ikut ke luar, kau benar-benar anak haram!" maki Sun Hailin.
"Ayo pergi, aku ingin melihat apa yang bisa kau lakukan padaku!" Lin Fan melangkah keluar begitu saja.
"Ikuti dia, jangan biarkan dia lari!" Sun Hailin menyeringai dan bergegas mengejar.
"Bagaimana ini?" Tang Ziyan bertanya dengan panik.
"Aku sudah tidak punya cara. Kau tahu sendiri, aku tidak mengenal orang-orang besar," keluh Su Shiqing dengan dahi berkerut.
"Bagaimana kalau kau minta bantuan keluargamu?" celetuk Tang Ziyan. Namun, ia langsung menyesal. Hubungan Su Shiqing dengan keluarganya sangat renggang, masalah perjodohan pun belum sepenuhnya selesai. Memintanya mencari bantuan keluarga sama saja dengan mendorongnya ke jurang. Benar saja, raut wajah Su Shiqing berubah.
"Sudahlah, aku terpikir satu orang," ujar Tang Ziyan tiba-tiba.
"Siapa?"
"Yan Feng! Dia adalah bos di daerah ini. Lin Fan pernah menjadi instruktur untuknya. Jika dia yang turun tangan, seharusnya tidak akan terjadi apa-apa." Mata Tang Ziyan berbinar. Ternyata Lin Fan tidak sepenuhnya tidak berdaya, setidaknya dia masih memiliki jaringan koneksi.
"Kalau begitu, cepat telepon dia sebelum semuanya terlambat. Aku akan mengikuti mereka dari kejauhan, jangan sampai mereka menghilang dari pandangan," kata Su Shiqing sambil bergegas menyusul.
Tidak jauh dari Tang Group terdapat area perbukitan yang sepi, yang hari ini mendadak menjadi tempat pertarungan kedua pihak. Di lereng bukit, Lin Fan duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sampah Keluarga Lin, hari ini kau tamat!" Sun Hailin meletakkan ponselnya dengan nada kejam.
"Jika hanya dengan bicara saja bisa membunuhku, tentu tidak akan sampai giliranmu yang datang ke sini," balas Lin Fan meremehkan.
"Kau... tunggulah, tidak akan lama lagi!" teriak Sun Hailin marah. Seumur hidupnya, dia belum pernah dipukul orang. Tidak disangka hari ini dia dipukuli oleh seorang anak buangan. Ini benar-benar memalukan. Jika dendam ini tidak terbalaskan, dia tidak akan bisa tidur nyenyak. Yang lebih parah, jika orang lain sampai tahu, dia benar-benar tidak akan punya muka lagi dan akan menjadi bahan tertawaan di lingkaran pergaulan mereka.
Benar saja, tidak lama kemudian dua mobil van datang dan menurunkan belasan orang berwajah garang.
"Tamatlah sudah!" Su Shiqing yang bersembunyi di dekat sana tampak pucat pasi. Dengan orang sebanyak itu, bagaimana mungkin Lin Fan bisa menang?
Su Shiqing sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Lin Fan. Membencinya? Tidak juga. Kejadian malam itu bukanlah kesalahan Lin Fan sepenuhnya. Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana. Bagaimanapun, mereka memang sudah pernah melakukan hubungan itu. Meski dulu dia bersikap seolah tidak peduli, itu karena dia pikir mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Kini, entah bagaimana takdirnya, Lin Fan justru menjadi tunangan sahabat karibnya. Bukan sekadar sering bertemu, setidaknya setiap dua atau tiga hari sekali mereka pasti akan berpapasan. Semakin sering bertemu, ia menyadari hatinya perlahan berubah. Dulu perasaan itu tidak terlalu jelas, tetapi sekarang saat Lin Fan menghadapi maut, ia baru menyadari bahwa ia memiliki perasaan padanya.
Memang benar, hubungan satu malam bisa meninggalkan kesan mendalam. Pria ini adalah pria pertama yang masuk ke dalam hidupnya, bagaimana mungkin bisa dilupakan begitu saja? Namun, meski tidak bisa melupakan, lalu apa gunanya? Dia adalah pria milik Tang Ziyan.
Sambil diliputi keraguan dan kecemasan, ia menelepon Tang Ziyan, "Ziyan, apa kau sudah memberi tahu dia?"
"Sudah, tapi Yan Feng bilang dia sedang berada di luar kota," jawab Tang Ziyan dengan nada getir.
"Duk!" Ponsel Su Shiqing terjatuh dan hancur. Ia tidak memungutnya lagi, melainkan melangkah menaiki bukit dengan pandangan kosong. Jika tidak ada yang datang menolong Lin Fan, maka lebih baik dia ikut mati bersamanya saja.
"Kenapa kau datang?" tanya Lin Fan sedikit terkejut.
"Karena kita tidak punya kesempatan untuk hidup bersama, maka aku memilih untuk mati bersama! Kau adalah pria pertamaku, dan kau juga akan menjadi yang terakhir," ujar Su Shiqing dengan senyum getir.
"..." Lin Fan dibuat bingung olehnya. Bukankah wanita ini tidak menyukainya?